Sukses

Lifestyle

Menemukan Passion Baru di Tengah Pandemi, Ada Ruang Bagiku Bisa Bertumbuh

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan selalu memiliki kisahnya sendiri. Caranya untuk berjuang tentu tak sama dengan yang lainnya. Perempuan berdaya dan hebat dengan caranya masing-masing. Tiap pengalaman dan kisah pun memiliki inspirasinya sendiri seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba The Power of Women: Perempuan Berdaya dan Hebat adalah Kamu berikut ini.

***

Oleh: Imas Tati Cahyati

Alarm ponsel selalu membangunkanku pukul 03.30. Mungkin terlalu pagi, tapi tidak bagiku. Kadang aku akan beranjak dari peraduan untuk menghadap Sang Maha Pencipta. Namun jika kantuk masih melanda, kumatikan alarm kemudian sejenak kembali kupejamkan mata.

Ketika suara azan berkumandang, tak ada lagi tawar-menawar. Kuharus bergegas mengawali hari dengan sujud pada Sang Khalik. Bersyukur dan memohon doa kebaikan dunia dan akhirat. Tidak ada lagi waktu untuk berleha-leha.

Rutinitas pagi, berurusan dengan wastapel, mesin cuci, dan kompor untuk mempersiapkan sarapan. Mencuci piring, mencuci baju, dan memasak aktivitas yang seringkali aku lakukan dalam satu waktu. Rasanya sayang membiarkan mecin cuci terongok begitu saja atau kompor nganggur sementara aku sibuk bermesraan dengan wastafel.

 

Menjalani Rutinitas

Setelah makanan tersedia, kuminta anak-anak menyiapkan meja makan untuk sarapan. Bagi seorang ibu tidak tenang rasanya melepas suami dan buah hati menuju tempatnya beraktivitas tanpa memenuhi perutnya. Jika masih ada waktu, kusempatkan mengayun sapu untuk sekedar menghalau debu yang membuat  kaki tidak nyaman menginjak lantai. Urusan pekerjaan rumah lainnya biasanya akan ditangani suami.

Setelah memastikan semua berjalan baik saatnya aku mempersiapkan diri pergi ke kantor. Tidak lupa kupoles kosmetik alakadarnya untuk menutupi noda atau keriput yang mulai menghiasi wajah agar terlihat lebih segar.

Aktivitas kantor delapan jam sehari. Jari-jari tanganku sudah begitu terbiasa dengan barisan huruf yang menempel pada keyboard. Mataku juga terbiasa dengan layar segi empat yang setiap hari menjadi partner setiaku di kantor. Obrolan ringan sampai berat dengan atasan ataupun rekan kerja menjadi santapan sehari-hari.

Sore hari pulang ke rumah. Deretan pekerjaan siap menanti. Ketika malam datang, gelap dan sepi menyapa, barulah aku bisa merebahkan tubuh dan memejamkan mata setelah sebelumnya menemani dua putriku untuk tidur. Tidak jarang kuantar mereka ke alam mimpi dengan dongeng-dongeng, kisah masa kecil, ataupun obrolan ringan tentang hari-hari yang kami lalui. Bagiku berkomunikasi dengan mereka sangat penting untuk membangun kedekatan orang tua dan anak.

Begitu seterusnya setiap hari. Rutinitas yang sudah kulakukan bertahun-tahun, hingga tanpa disadari tubuh ini mulai menua. Adakah rasa bosan? Itu manusiawi. Namun kadang kita tidak bisa menghindarinya. Seringkali aku merasa terjebak dengan pola lingkaran yang tidak berujung.

Perubahan yang Terjadi saat Pandemi

Suatu hari, ketika pandemi mulai melanda, anak sekolah dihadapkan pada pembelajaran jarak jauh dan pegawai diharuskan bekerja dari rumah atau work from home. Kita semua semakin akrab dengan aktivitas online dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk kelas-kelas belajar online. Tanpa diduga ini mengantarkanku pada kelas menulis.

Kelas menulis online pertama kuikuti bulan Mei 2021. Tema yang kuambil saat itu adalah curhat. Motivasiku ikut kelas ini semata-mata ingin mendokumentasikan secuil dari perjalanan hidup yang kupikir layak untuk dituliskan dan menjadi kenangan untuk anak-anakku.

Hari-hariku mulai terasa berwarna. Di kelas ini aku dituntut untuk konsisten menulis selama 30 hari dan aku berhasil melakukannya. Satu tulisanku kemudian dimuat dalam sebuah buku antologi.

Aku sangat menikmati kegiatan menulis. Akhirnya aku ikut kembali kelasnya. Kali ini  aku memilih menulis fiksi. Ternyata menulis fiksi memberiku kenikmatan tersendiri. Sampai akhirnya aku ketagihan. Hasilnya satu per satu karyaku muncul dalam buku antologi cerita pendek, dan saat ini sedang proses untuk buku antologi yang ke sembilan.

Banyak manfaat kurasakan di komunitas ini. Kami dapat saling menyemangati untuk berkarya. Melalui kelas menulis ini pula aku kemudian berkenalan dengan ilmu lain, yaitu desain canva. Ilmu yang baru bagiku. Akhirnya aku tertantang untuk mengikuti kelasnya yang juga online. Ilmu yang kudapat di kelas desain canva dapat kuaplikasikan dalam pekerjaan kantorku.

Sungguh, pandemi ini telah memberikan hikmah yang besar bagiku karena pandemi telah membuatku menemukan passion dan teman-teman yang baru.

#WomenforWomen

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading