Sukses

Lifestyle

Diary Fimela: Kecintaan terhadap Perak Jadi Kolaborasi Ayah-Anak Ciptakan Maharani Craft

Fimela.com, Jakarta Perhiasan maupun dekorasi rumah dapat mempercantik dan memperindah rumah. Apalagi jika dekorasi tersebut terbuat dari perak dengan tekstur dan ukiran yang indah. Sudah pasti pada sudut dengan dekorasi tersebut akan memuaskan mata.

Salah satu bisnis dekorasi rumah dan perhiasan yang sukses di pasar lokal maupun internasional adalah Maharani Craft. Perusahaan yang didirikan di Bali ini bahkan sudah tembus ke berbagai negara di Asia maupun Eropa. 

Kedua ayah dan anak yaitu Pak Aseng dan Bu Irene Setiawati menjalankan bisnis ini bersama. Setelah Pak Aseng berpulang, Bu Irene mensukseskan kembali Maharani Craft. Kini nama Maharani Craft telah dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu produk lokal khas Bali. Bagaimana kisah perjalanan Bu Irene menjalani Maharani Craft? Berikut ceritanya. 

Maharani Craft berakar dari perhiasan perak

Maharani Craft didirikan oleh ayah dari Bu Irene yaitu Pak Aseng pada tahun 1989. Saat itu, produk bisnis nya bernama Maharani Silver. Maharani Silver ini berfokus pada produk perhiasan dengan bahan dasar perak. Kemudian pada tahun 2006 Maharani Craft didirikan oleh Pak Aseng dengan menggandeng adiknya yaitu Pak Soni. Dengan bekal pengalaman pernah berjualan di Jerman, Maharani Craft  menawarkan produk dekorasi rumah dengan menggunakan bahan alam seperti batu-batuan alam, kerang, kayu dan lainnya. Saat ini Maharani Silver sudah berganti nama menjadi Maharani Jewelry dan terus menciptakan perhiasan dengan ukiran cantik nan menarik. 

“Bermula ketika ayah saya menjajakan perhiasan di Pantai Kuta kemudian beliau menekuni dan menyenangi bisnis perhiasan perak. Ayah saya kemudian bekerjasama dengan teman terbaiknya dan ikut serta dalam menjalankan bisnis perhiasan perak,” ujar Bu Irene. 

Nama Maharani terinspirasi dari kata “maharatu”, seorang ratu menggunakan perhiasan yang cantik, Maharani juga hadir untuk memberikan produk perhiasan yang cantik dan bagus.

“Jadi nama Maharani yang terinspirasi dari maharatu diharapkan dapat membuat perhiasan yang paling cantik di antara yang cantik maupun bagus di antara yang paling bagus,” tambahnya. 

Membuka peluang untuk memasarkan Maharani Craft di pasar Eropa

Untuk memperkenalkan Maharani Craft kepada pasar sembari membangun brand, Bu Irene mengikuti Export Coaching Program oleh Business Export Development Organization dan CBI Belanda. Program tersebut memberikan wadah untuk mempelajari bagaimana mengelola suatu usaha, bagaimana membuat produk baru, mengembangkan marketing, mencari pasar, dan lainnya. 

“Program tersebut berjalan selama 1 tahun dan setiap 2 bulan sekali akan ada pengajar yang datang dari Belanda. Pengajar ini juga mengajarkan bagaimana suatu perusahaan harus mempunyai identitas yang kuat untuk produknya sehingga produk tidak mudah ditiru. Saingan pasti ada namun kita harus punya ciri khas,” ujar Bu Irene.

Tidak hanya itu, kesempatan belajar langsung ke negeri kincir angin juga diperoleh oleh Ibu Irene. Bergabung bersama UKM negara berkembang seperti Nepal, India, Peru, Filipina, bahkan Vietnam. Di sana Bu Irene mendapat pelajaran bagaimana suatu produk dapat masuk ke pasar Eropa.

“Misalnya dalam membuat piring kita harus tahu ukuran standar piring orang Eropa itu berapa sehingga kita membuatnya tidak terlalu kecil namun juga tidak terlalu besar," jelasnya.

Berbagai kesulitan pernah dihadapi

Tentunya dalam berusaha juga memiliki tantangan sendiri dalam memasarkan produk. Apalagi ketika tahun 2020 dunia dilanda pandemi COVID-19 dan mengharuskan untuk lockdown serta membatasi aktivitas di luar, hal ini juga dirasakan oleh Bu Irene dan Maharani Craft.

“Saya bersyukur karena dapat melewati masa pandemi dengan baik menurut saya sudah menjadi sesuatu yang merupakan sebuah anugerah. Di masa pandemi juga saya memiliki kesempatan untuk mendapatkan pembeli baru,” ujarnya. 

Tidak hanya pada masa pandemi, Bu Irene bercerita perjuangan Maharani Craft dulu pernah mengalami penurunan penjualan dan betapa beratnya untuk memenuhi kebutuhan operasional.

“Bahkan dulu pernah sampai karyawan yang datang saya sampai bilang buat pulang saja karena tidak ada hal yang harus dikerjakan,"

Tetapi Bu Irene bersyukur dapat melewati masa-masa sulit itu. 

Pesan untuk perempuan yang masih belum yakin untuk berbisnis

Sekarang peluang akan perempuan untuk memulai dan menekuni bidang yang mereka suka sudah terbuka lebar namun masih ada rasa akan tidak yakin serta percaya diri untuk melangkah maju. Ibu Irene memberikan tips tersebut untuk kamu. 

“Saran saya untuk wanita yang ingin berbisnis maupun menekuni bidangnya, saat ini kita sudah dipermudah dengan adanya internet sehingga kita bisa mempelajari hal-hal yang ingin dipelajari, mencari tahu, makan memperdalam. Sekarang tinggal bagaimana tinggal perempuan untuk menggali potensinya,” ujar Bu Irene. 

Bu Irene menyadari bahwa ada sebagian perempuan yang masih belum menyadari potensi diri serta bidang apa yang ingin ditekuni. Bu Irene menambahkan “Coba juga untuk ikut komunitas seperti komunitas bisnis, berdiskusi dan belajar bersama orang lain. Intinya bergabung dengan orang-orang yang positif serta wanita yang lebih dulu telah mencoba berbisnis dapat memberikan pembelajaran baik keberhasilan dan kegagalan.” 

 

Penulis: Tisha Sekar Aji.

Hashtag: #Breaking Boundaries

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading