Sukses

Lifestyle

Mengapa Merasa Kesepian Bisa Lebih Berbahaya dari Merokok? Berikut Jawabannya

ringkasan

  • Kesepian, yang didefinisikan sebagai kesenjangan antara koneksi sosial yang diinginkan dan yang sebenarnya, telah diakui WHO sebagai ancaman kesehatan global dengan dampak serius pada fisik, mental, dan kognitif.
  • Dampak fisik kesepian meliputi peningkatan risiko kematian dini setara merokok 15 batang rokok sehari, penyakit kardiovaskular, melemahnya imun, gangguan tidur, hingga peradangan jangka panjang.
  • Secara mental dan kognitif, kesepian dapat memicu penurunan fungsi otak, demensia, depresi, kecemasan, stres kronis, hingga peningkatan risiko perilaku bunuh diri.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah kamu merasa kesepian meskipun dikelilingi banyak orang? Perasaan ini lebih dari sekadar emosi sesaat, melainkan sebuah kondisi serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menetapkannya sebagai ancaman tersembunyi bagi kesehatan global.

Kesepian didefinisikan sebagai perasaan menyakitkan karena kesenjangan antara koneksi sosial yang diinginkan dan yang sebenarnya. Sementara itu, isolasi sosial mengacu pada kurangnya koneksi sosial yang memadai secara objektif. Kondisi ini bukan hanya masalah psikologis, tetapi memiliki dampak signifikan pada kesejahteraan fisik dan mental.

Secara global, sekitar satu dari enam orang melaporkan merasa kesepian, dengan tingkat lebih tinggi pada remaja dan dewasa muda. Antara tahun 2014 hingga 2019, kesepian dikaitkan dengan lebih dari 871.000 kematian setiap tahun. Ini setara dengan 100 kematian per jam, menunjukkan betapa krusialnya masalah ini.

Dampak Fisik yang Tak Terduga dari Mengapa Merasa Kesepian

Mengapa merasa kesepian bisa sangat membahayakan tubuh? Kesepian ternyata memiliki dampak fisik yang setara dengan risiko kesehatan dari kebiasaan buruk lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa risiko kematian dini akibat kesepian setara dengan merokok 15 batang rokok sehari.

Kondisi ini juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi, stroke, dan serangan jantung. Sebuah studi di Inggris menunjukkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 11–26 persen pada orang yang kesepian. Selain itu, kesepian dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat seseorang lebih rentan terhadap berbagai penyakit. Hal ini terkait dengan peningkatan biomarker peradangan dan penurunan aktivitas gen antivirus.

Perasaan tidak nyaman akibat kesepian seringkali menyebabkan gangguan tidur, insomnia, dan mimpi buruk. Kondisi ini pada akhirnya mengganggu produktivitas dan kesehatan secara keseluruhan. Individu yang kesepian juga cenderung memiliki kebiasaan tidak sehat, seperti peningkatan konsumsi alkohol dan pola makan yang buruk.

Stres kronis yang dialami orang kesepian memicu pelepasan protein tertentu dalam darah, yang menyebabkan peradangan jangka panjang di tubuh. Peradangan ini, bersama dengan penurunan kekebalan, dapat meningkatkan risiko kanker.

Mengapa Merasa Kesepian Merusak Kesehatan Mental dan Kognitif?

Selain dampak fisik, mengapa merasa kesepian juga sangat merusak kesehatan mental dan kognitif? Kesepian dapat memberikan efek buruk pada kemampuan berkonsentrasi, membuat keputusan, dan daya ingat.

Penelitian menunjukkan bahwa kesepian yang dibiarkan berlarut-larut dapat meningkatkan risiko demensia dan penyakit Alzheimer. Tingkat kortisol, hormon stres, meningkat saat seseorang kesepian, yang dapat mengganggu fungsi kognitif otak. Otak memproses kesepian sebagai “rasa sakit sosial” yang serupa dengan rasa sakit fisik akibat cedera.

Kesepian yang berkepanjangan berkaitan erat dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, dan stres kronis. Isolasi emosional yang berlangsung lama membuat otak berada dalam kondisi waspada berkepanjangan. Situasi ini meningkatkan sensitivitas terhadap rangsangan negatif dan menurunkan kepercayaan terhadap orang lain. Minimnya interaksi bermakna mengurangi umpan balik sosial yang positif, sehingga menurunkan motivasi dan memperburuk suasana hati.

Secara psikologis, kesepian memicu ruminasi atau pengulangan pikiran negatif tentang diri sendiri dan masa depan. Kondisi ini bahkan dikaitkan dengan peningkatan risiko perilaku bunuh diri dan pengambilan keputusan yang buruk.

Kesepian: Ancaman Kesehatan Global yang Perlu Diatasi

Dampak mengapa merasa kesepian terhadap risiko kematian sebanding dengan faktor risiko yang sudah mapan, seperti merokok dan konsumsi alkohol. Bahkan, dampaknya melebihi faktor risiko lain seperti kurang aktif secara fisik dan obesitas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyoroti bahwa kesepian adalah masalah kesehatan masyarakat global yang memengaruhi setiap aspek kesehatan, kesejahteraan, dan pembangunan. Ini bukan hanya masalah individu, tetapi juga memiliki implikasi kesehatan yang sangat nyata dan luas.

Koneksi sosial yang kuat dapat meningkatkan kesehatan dan memperpanjang hidup. Interaksi tatap muka dinilai lebih efektif dalam menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan dibandingkan koneksi digital. Kesepian dipandang sebagai respons terhadap kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi.

Upaya membangun kembali hubungan yang bermakna berperan penting dalam menekan stres dan menjaga kesehatan mental. Penting bagi kita untuk lebih peka terhadap diri sendiri dan orang di sekitar yang mungkin sedang mengalami kesepian, serta mencari dukungan yang tepat.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading