Sukses

Lifestyle

7 Cara Bersikap Menghadapi Komentar Buruk agar Tidak Merusak Mood

Fimela.com, Jakarta - Ucapan atau kata-kata yang tidak tepat bisa mengubah serta mersuak mood dan emosi seseorang. Komentar buruk sering datang tiba-tiba, lalu menetap di kepala lebih lama dari yang seharusnya. Yang membuatnya berat bukan hanya kata-katanya, melainkan efek atau dampaknya terhadap suasana hati dan cara kita memandang diri sendiri.

Artikel ini tidak mengajak Sahabat Fimela untuk menebalkan kulit atau berpura-pura kebal. Justru sebaliknya: kita akan membahas cara bersikap yang lebih dewasa, jernih, dan berdaya saat berhadapan dengan komentar negatif, tanpa kehilangan ketenangan batin diri sendiri.

1. Memilah Makna di Balik Kata agar Emosi Tetap Terjaga

Komentar buruk sering terdengar absolut, seolah menggambarkan keseluruhan diri kita. Padahal, ia lebih sering mencerminkan potongan sudut pandang orang lain yang sangat terbatas. Bersikap dewasa berarti memisahkan antara apa yang dikatakan dan apa yang benar-benar bermakna bagi hidup kita.

Sahabat Fimela bisa mulai dengan bertanya pada diri sendiri: bagian mana yang relevan, dan bagian mana yang hanya bising. Sikap ini bukan pembelaan diri, melainkan kecerdasan emosional dalam menyaring informasi. Tidak semua kata layak mendapat ruang di kepala.

Dengan memilah makna, emosi tidak lagi ditarik ke medan yang tidak perlu. Mood tetap terjaga karena kita memegang kendali atas apa yang boleh memengaruhi perasaan dan apa yang cukup lewat saja.

2. Menunda Reaksi sebagai Bentuk Kendali Diri yang Bijak

Reaksi spontan sering kali membuat komentar buruk terasa lebih kuat dari seharusnya. Menunda respons memberi jarak yang sehat antara emosi dan tindakan. Di ruang jeda itulah kejernihan muncul.

Sahabat Fimela tidak harus langsung menjawab, membela, atau meluruskan. Diam sesaat bukan tanda kalah, melainkan tanda bahwa diri sedang bekerja memahami situasi dengan lebih utuh.

Ketika reaksi ditunda, energi emosional tersimpan. Mood tidak tergerus oleh impuls sesaat, dan kita bisa memilih sikap yang selaras dengan nilai diri, bukan sekadar respons terhadap provokasi.

3. Mengembalikan Tanggung Jawab Emosi pada Sumbernya

Komentar buruk sering membawa beban emosi orang lain: frustrasi, iri, lelah, atau kecewa. Tanpa disadari, kita ikut memikul beban itu. Padahal, emosi tersebut bukan milik kita.Sahabat Fimela bisa belajar mengembalikan tanggung jawab emosi ke tempat asalnya. Ini bukan sikap dingin, melainkan adil. Setiap orang bertanggung jawab atas cara ia mengelola perasaannya sendiri.

Saat beban itu dikembalikan, suasana hati menjadi lebih ringan. Mood tidak lagi rusak oleh sesuatu yang sejak awal bukan tanggung jawab pribadi.

4. Tidak Perlu Memasukkan Komentar Buruk ke Hati

Komentar negatif sering terdengar seperti keputusan akhir tentang diri kita. Padahal, ia hanyalah data mentah. Data bisa dianalisis, ditimbang, lalu diputuskan apakah layak digunakan atau diabaikan.

Sahabat Fimela dapat memandang komentar buruk sebagai bahan evaluasi netral. Jika ada yang berguna, ambil tanpa emosi. Jika tidak relevan, lepaskan tanpa drama.

Dengan sikap ini, komentar buruk kehilangan daya rusaknya. Mood tetap stabil karena kita tidak mengubah data menjadi vonis pribadi.

5. Menjaga Jarak Psikologis agar Harga Diri Tetap Utuh

Tidak semua komentar perlu didekatkan ke hati. Menjaga jarak psikologis berarti memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh opini sesaat orang lain.

Sahabat Fimela berhak memiliki ruang aman batin, tempat harga diri tidak mudah disentuh oleh komentar eksternal. Jarak ini bukan tembok, melainkan batas sehat.

Ketika batas terjaga, mood tidak mudah goyah. Kita tetap hadir, tetap terbuka, tetapi tidak larut dalam penilaian yang tidak membangun.

6. Merespons dengan Tenang sebagai Pernyataan Kekuatan Pribadi

Tenang bukan berarti pasif. Merespons dengan tenang justru menunjukkan kekuatan karakter. Nada yang stabil dan kata yang terukur sering kali lebih tegas daripada emosi yang meledak.

Sahabat Fimela bisa memilih respons singkat, jelas, atau bahkan tidak merespons sama sekali. Semua itu sah, selama dilakukan dengan kesadaran penuh.

Ketika ketenangan menjadi pilihan sadar, mood tidak dikorbankan demi memenangkan perdebatan. Yang dijaga adalah keseimbangan diri.

7. Memprioritaskan Pemulihan Emosi daripada Pembuktian

Dorongan untuk membuktikan diri sering muncul setelah menerima komentar buruk. Namun, pemulihan emosi jauh lebih penting daripada validasi eksternal.

Sahabat Fimela dapat mengalihkan energi ke hal-hal yang memulihkan: aktivitas yang menenangkan, percakapan yang suportif, atau waktu hening untuk diri sendiri.

Dengan memprioritaskan pemulihan, mood kembali ke jalurnya. Komentar buruk tidak lagi menjadi pusat perhatian, melainkan hanya salah satu kejadian kecil dalam hari yang lebih besar.

Ada titik dalam hidup ketika kita menyadari bahwa ketenangan bukan datang dari dunia yang selalu ramah, melainkan dari cara kita bersikap saat dunia tidak ramah.

Komentar buruk akan selalu ada, tetapi kita tidak harus memberinya kuasa atas suasana hati. Dengan sikap yang jernih, empatik, dan tegas, kita dapat melangkah lebih ringan, serta menjaga mood tetap utuh, dan diri tetap bernilai, apa pun kata orang.

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading