Sukses

Lifestyle

Menerapkan Stoikisme dalam Keseharian untuk Hidup yang Lebih Tenang dan Bijak

Fimela.com, Jakarta - Di kehidupan yang serba cepat seperti saat ini, sering kali kita juga kesulitan dalam mengontrol diri, baik itu pikiran ataupun perilaku. Ketika kita dihadapkan oleh orang-orang yang tidak bisa kontrol. Atau ketika kehidupan tidak berjalan seperti apa yang kita inginkan. Mungkin Sahabat Fimela pernah mengalami hal yang sama. 

Dalam menghadapi hal tersebut, beberapa dari kita akan kewalahan. Akibatnya, melampiaskan emosi menjadi jalan keluar. Namun terkadang melampiaskan emosi secara berlebihan dan terlalu mengedepankan emosi negatif semata juga bukanlah hal yang benar. Terkadang kita hanya perlu menghela nafas sejenak, menenangkan diri, dan berpikir secara lebih logis. 

Hal inilah yang diajarkan dalam prinsip stoikisme. Ini merupakan salah satu filosofi yang berkembang dari zaman Yunani dan Romawi. Dilansir dari dailystoic.com, filosofi ini mengajarkan mengenai pembentukan karakter, ketenangan batin, serta menjalankan hidup yang selaras dengan akal budi. Tujuannya sederhana, yakni untuk membentuk pribadi yang bijaksana, tangguh, dan tetap bermoral. 

Beberapa orang sering mengsalahartikan stoikisme ini karena dianggap menahan diri. Padahal nyatanya prinsip stoikisme adalah untuk membentuk pribadi yang tenang. Artinya, kita tetap bisa mengeluarkan emosi, tapi bagaimana emosi yang kita keluarkan tetap terkontrol dan nantinya tidak merugikan orang lain. 

Pengendalian Diri

Salah satu praktik penting dalam menerapkan stoikisme dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan mampu membedakan hal-hal yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan. Misalnya, ketika kamu harus menghadapi delay di bandara karena cuaca buruk. Hal ini mungkin akan menjengkelkan, terlebih lagi jika kita dikejar oleh waktu. Namun, perlu dipahami juga bahwa hal ini berada di luar kendali kita. Jadi, meskipun sudah meluapkan emosi dengan marah atau terus mengeluh, itu tidak akan mengubah keadaan. 

Hal yang sama juga ketika kamu harus menghadapi orang yang tidak menyukaimu. Seberapa pun kamu berusaha mendekatinya, mungkin itu juga belum tentu merubah perasaannya dan itu tidak apa karena tidak semua hal di dunia ini harus dalam kendalimu. Dibandingkan berfokus pada orang lain, akan lebih baik untuk berfokus pada diri sendiri untuk terus berkembang dan menjadi lebih baik lagi. Jika kamu menghadapi hal-hal semacam ini setiap harinya, coba terus tanyakan hal yang sama. Apakah ini berada dalam kendaliku?  

Belajar Menghadapi Ketidaknyamanan

Dalam hidup, tentu kita akan menghadapi hari-hari yang sulit, tidak menyenangkan, tidak nyaman. Terkadang ketidaknyamanan itu juga bisa muncul dari pikiran. Misalnya, bagaimana jika pasanganku tidak menyukaiku lagi? Bagaimana jika aku tidak bisa membeli barang-barang mewah lagi? Atau bagaimana jika aku kehilangan pekerjaanku nanti? 

Hal-hal ini sering kali muncul dalam pikiran kita dan kecemasan itu berakar pada ketidakpastian akan masa depan. Jadi cara terbaik untuk menghadapi hal tersebut adalah dengan selalu bersiap menghadapi situasi terburuk dalam hidup kita. 

Jika kamu takut kehilangan pasangan, maka kamu harus benar-benar siap jika kehilangannya. Jika kamu takut tidak bisa membeli barang mewah lagi, maka kamu harus bersiap dengan kehidupan yang lebih sederhana. Dan jika kamu takut kehilangan pekerjaan, maka kamu juga harus siap jika suatu hari pekerjaanmu benar-benar harus selesai. 

Ini bukan berarti mendambakan hal buruk tersebut benar-benar terjadi, namun melatih kita untuk siap dalam menghadapi situasi-situasi buruk dalam hidup kita. Sehingga, jika benar-benar hal tersebut terjadi, kita punya kontrol penuh terhadap apa yang kita lakukan dan bisa berpikir secara lebih logis. 

Berhenti Mengeluh

Hal-hal buruk memang mungkin saja terjadi dan sesekali mengeluh juga bukan hal yang berarti. Namun, jika terlalu sering mengeluhkan keadaan tanpa melakukan apa pun untuk mengubahnya juga bukanlah hal yang bijak. 

Adapun kita juga harus menyadari bahwa terlalu banyak mengeluh juga hanya membuat dirimu terus berada dalam lingkaran negatif. Tanpa sadar hidupmu akan terus menghadapi hal-hal negatif itu. Jadi, belajarlah untuk mengeluh secukupnya dan segera bangkit dari belenggu pikiran negatif. 

Selalu Bersyukur dan Bertindak Baik

Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, banyak mengeluh akan membawa diri kita terus terbelenggu pada hal-hal negatif. Sebaliknya, akan lebih baik jika mulai untuk mensyukuri segala hal yang datang pada hidup kita. Meskipun hari ini bukan hari yang terbaik, tetap bersyukur karena masih dapat menjalaninya sampai akhir. 

Selain itu, teruslah berusaha melakukan yang terbaik. Hal baik tidak akan datang sendirinya tanpa usaha. Maka dari itu, selain berhenti mengeluh dan selalu bersyukur, selalu berusaha yang terbaik juga menjadi kunci hidup yang lebih bijaksana.

Journaling

Terkadang tidak semuanya memang berjalan dengan baik dan mampu untuk kita bendung sendirian. Dalam hal ini menulis dan journaling bisa menjadi alternatif dalam mencurahkan semua emosi yang kamu rasakan. 

Selain bisa membuat hati lebih tenang, menuangkan pikiran dan emosi dalam tulisan juga cenderung tidak merugikan orang lain. Ini juga bisa membantu kamu untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi hari esok dengan lebih baik. 

Menerapkan stoikisme bukanlah kebiasaan yang hanya bisa dilakukan sekali, melainkan harus diterapkan setiap harinya untuk membantu diri kita menjadi lebih tenang dan bijak. Semoga bermanfaat. 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading