Sukses

Lifestyle

Strategi Jitu Menghadapi Mansplaining di Kantor, Tegas, Profesional, dan Berdaya

ringkasan

  • Mansplaining adalah tindakan pria menjelaskan sesuatu kepada wanita dengan nada merendahkan, mengabaikan keahlian wanita tersebut.
  • Dampak mansplaining meliputi penurunan kepercayaan diri, pembungkaman suara, dan penguatan ketidaksetaraan gender di tempat kerja.
  • Strategi menghadapi mansplaining melibatkan menjaga ketenangan, menegur langsung secara profesional, menggunakan kalimat tegas, dan mengambil alih kendali percakapan.

Fimela.com, Jakarta - Di tengah dinamika lingkungan kerja modern, istilah 'mansplaining' mungkin sudah tidak asing lagi. Fenomena ini menggambarkan situasi ketika seorang pria menjelaskan sesuatu kepada seorang wanita dengan nada merendahkan atau berasumsi bahwa wanita tersebut kurang memiliki pengetahuan tentang topik yang sedang dibahas, padahal bisa jadi sang wanita justru lebih ahli. Perilaku ini, jika dibiarkan, dapat berdampak negatif pada kepercayaan diri, membungkam suara, dan memperkuat ketidaksetaraan di tempat kerja.

Menghadapi mansplaining memerlukan pendekatan yang strategis, menggabungkan ketegasan dengan profesionalisme. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan saling menghargai. Artikel ini akan mengulas lebih dalam tentang mansplaining serta membagikan berbagai taktik cerdas untuk mengatasinya di kantor.

Memahami Mansplaining dan Dampaknya di Dunia Kerja

Mansplaining adalah neologisme yang menggabungkan kata "man" (pria) dan "explaining" (menjelaskan). Istilah ini merujuk pada tindakan seorang pria yang menjelaskan sesuatu kepada wanita dengan cara merendahkan, terlalu percaya diri, dan seringkali tidak akurat atau terlalu disederhanakan, tanpa mempertimbangkan keahlian wanita tersebut.

Ciri-ciri mansplaining mudah dikenali, antara lain: penjelasan yang tidak diminta atau tidak diundang, asumsi tentang kompetensi di mana pelaku meremehkan pengetahuan lawan bicaranya, nada bicara yang merendahkan, mengabaikan kredensial atau pengalaman orang lain, serta sering menyela atau memotong pembicaraan. Meskipun awalnya sering dikaitkan dengan interaksi pria dan wanita, istilah ini juga dapat digunakan secara lebih luas untuk menggambarkan situasi di mana seseorang menjelaskan sesuatu dengan nada merendahkan kepada siapa pun, tanpa memandang usia atau gender.

Dampak mansplaining di tempat kerja sangat signifikan dan merugikan. Perilaku ini dapat mengurangi kepercayaan diri korban, membuat mereka merasa diremehkan, dan membungkam suara mereka sehingga enggan berkontribusi. Mansplaining juga memperkuat stereotip gender yang merugikan, mengganggu produktivitas dan kolaborasi tim, serta menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat karena karyawan merasa kesal dan dianggap rendah.

Taktik Cerdas Merespons Mansplaining Secara Langsung

Menghadapi mansplaining membutuhkan kombinasi ketenangan dan ketegasan. Langkah pertama adalah menjaga ketenangan dan kepercayaan diri. "Tetap tenang. Pertahankan ketenangan saat menghadapi mansplaining. Respons yang tenang membantu meredakan ketegangan dan memastikan fokus tetap pada penanganan perilaku secara efektif," demikian saran dari Pittsburg State University. Tunjukkan postur tubuh yang percaya diri, pertahankan kontak mata, angkat dagu, dan tarik bahu ke belakang untuk menampilkan diri yang meyakinkan.

Jika situasinya memungkinkan dan aman, Anda bisa menegur perilaku tersebut secara langsung namun profesional. "Jika sesuai, tunjukkan mansplaining secara langsung dengan cara yang profesional. Anda bisa mengatakan, 'Saya menghargai antusiasme Anda, tetapi saya perhatikan Anda mengulangi sesuatu yang sudah saya jelaskan. Mari kita fokus untuk memajukan diskusi,'" ungkap Pittsburg State University. Apabila tidak nyaman melakukannya di depan umum, ajak bicara secara pribadi dan jelaskan mengapa perilaku mereka tidak dapat diterima. Seringkali, pelaku mansplaining tidak menyadari bahwa mereka sedang melakukannya.

Gunakan frasa yang tegas namun sopan untuk mengklaim kembali otoritas atau mengarahkan kembali percakapan. Beberapa contoh kalimat yang bisa Anda pakai antara lain:

  • "Sebenarnya, saya sudah membahas ini—izinkan saya menjelaskan lebih lanjut poin saya."
  • "Terima kasih, tapi saya sudah familiar dengan topik ini."
  • "Saya menghargai masukan Anda. Saya sudah menguasai konsep yang Anda jelaskan, dan saya sudah menanganinya. Mari kita fokus pada langkah selanjutnya dalam proyek ini."
  • "Saya sudah mengurus ini. Jika saya membutuhkan bantuan atau masukan, saya pasti akan bertanya. Mari kita fokus pada agenda saat ini."
  • "Saya dengar Anda, [nama], tapi saya sudah mengurus ini."
  • "Terima kasih, tapi saya tahu cara menggunakan [nama software/alat]."
  • "Saya punya beberapa poin lagi yang perlu disampaikan, setelah itu kita bisa membahas pertanyaan Anda."
  • "Ide bagus. Saya rasa saya akan menggunakan ide saya sendiri."

Membangun Dukungan dan Mengambil Alih Kendali Komunikasi

Saat seseorang menyela atau mencoba menjelaskan ulang ide Anda, penting untuk mengambil kembali kendali percakapan. Anda bisa terus berbicara tanpa berhenti, mempertahankan nada suara, bahkan jika orang lain mencoba memotong. Alternatifnya, Anda dapat mengatakan, "Karena rapat ini terbatas waktu, saya akan menjawab pertanyaan di akhir presentasi. Saya akan menghargai jika Anda menunggu untuk mendengar semua yang ingin saya katakan sebelum memberikan tanggapan Anda." Jika rekan kerja mencoba mengoreksi atau 'mendidik' Anda tentang pendekatan yang seharusnya, jangan ragu untuk menjelaskan mengapa Anda membuat keputusan tersebut, berdasarkan informasi yang terdidik dan terinformasi dengan baik.

Melibatkan sekutu atau rekan kerja yang suportif juga sangat membantu. "Dorong rekan kerja yang suportif untuk ikut campur jika mereka melihat mansplaining dengan melakukan percakapan terbuka tentang dinamika tempat kerja dan bagaimana mereka dapat membantu," saran Pittsburg State University. Sekutu dapat mendukung dengan mengatakan, "Mari kita beri dia kesempatan untuk menyelesaikan pemikirannya," atau "Dia sudah membahas itu—mari kita dengar poin berikutnya."

Peran Perusahaan dan Langkah Lanjutan untuk Lingkungan Inklusif

Perusahaan dan departemen HR memiliki peran krusial dalam mengatasi mansplaining. Mereka harus menyadari bahwa mansplaining adalah masalah serius dan menciptakan lingkungan yang saling menghargai. Ini bisa diwujudkan melalui pelatihan keberagaman yang rutin, mengedukasi tim tentang mansplaining dan cara menghindarinya, serta mendorong karyawan untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Jika mansplaining terus berlanjut atau berdampak negatif pada kinerja atau lingkungan kerja Anda, pertimbangkan untuk melibatkan manajer atau HR. Berikan contoh spesifik tentang bagaimana perilaku tersebut menghambat pekerjaan, jadwal proyek, atau bahkan ROI. Jika Anda seorang manajer, Anda memiliki tanggung jawab untuk mengambil tindakan. "Jika Anda adalah eksekutif atau manajer, maka Anda memiliki wewenang untuk memindahkan pelaku mansplaining dari tim. Berikan contoh spesifik tentang bagaimana mereka menghambat jadwal, biaya, atau ROI saat Anda mengajukan permintaan Anda," jelas sebuah sumber. Mendokumentasikan setiap kejadian mansplaining juga penting, terutama jika masalah ini menjadi pola atau sangat mengganggu. Dokumentasi ini akan sangat berguna jika Anda perlu membawa masalah ini ke manajemen atau HR.

Menghadapi mansplaining di tempat kerja adalah langkah penting menuju terciptanya lingkungan yang adil dan inklusif. Dengan tetap tenang, menggunakan komunikasi yang tegas namun profesional, melibatkan sekutu, dan jika perlu, melibatkan manajemen atau HR, setiap individu dapat secara efektif menantang perilaku ini dan mendorong perubahan positif. Perusahaan juga memiliki tanggung jawab untuk mendidik karyawan dan menetapkan kebijakan yang mendukung kesetaraan serta rasa hormat di tempat kerja.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading