Sukses

Lifestyle

Waspada Dampak Financial Anxiety di Tengah Ancaman PHK dan Kenaikan PPN

ringkasan

  • Gelombang PHK dan potensi kenaikan PPN memicu kecemasan finansial yang mendalam di masyarakat.
  • Kecemasan finansial adalah perasaan khawatir akibat masalah keuangan seperti utang, pendapatan, dan situasi ekonomi yang merugikan.
  • Ketidakamanan pekerjaan dan kenaikan PPN berdampak signifikan pada daya beli konsumen serta stabilitas perusahaan.

Fimela.com, Jakarta - Gejolak ekonomi belakangan ini, mulai dari ancaman PHK hingga wacana kenaikan PPN, mendorong meningkatnya financial anxiety di masyarakat. Kecemasan finansial tidak hanya berkaitan dengan kondisi dompet hari ini, tetapi juga menyentuh rasa aman akan masa depan dan stabilitas hidup sehari-hari.

Berbagai riset menunjukkan bahwa ketidakamanan pekerjaan menjadi pemicu utama financial anxiety. Di sisi lain, perubahan kebijakan pajak konsumsi seperti PPN turut menekan daya beli rumah tangga. Kombinasi keduanya menghadirkan tekanan ganda yang berimbas pada kesejahteraan psikologis dan fisik.

Ketidakamanan Kerja dan PPN: Dua Pemicu Besar

Sejumlah penelitian menyoroti hubungan erat antara ketidakamanan pekerjaan dan stres finansial. Studi Choi et al. (2020) menunjukkan adanya keterkaitan antara ketidakamanan pekerjaan dan stres finansial yang dimediasi oleh kesejahteraan finansial. Temuan ini menggambarkan lingkaran setan: ketika rasa aman terhadap pekerjaan menurun, tekanan finansial meningkat dan kembali menggerus rasa sejahtera secara finansial.

Pada 2021, dalam konteks pandemi COVID-19, penelitian menemukan bahwa ketidakamanan pekerjaan terkait dengan kesejahteraan psikologis melalui stres finansial yang dialami individu. Ketidakpastian tersebut berfungsi sebagai pemicu stres kronis yang berkelanjutan, bersifat ambigu, dan sering kali tidak terkendali.

Di luar faktor pekerjaan, kebijakan PPN turut berdampak pada daya beli konsumen. Temuan empiris yang diterbitkan dalam Journal of Political Economy mengungkap bahwa pemotongan PPN umumnya tidak diteruskan ke harga konsumen; banyak bisnis memanfaatkan pemotongan itu untuk memperkuat keuangan mereka, bukan menurunkan harga. Sebaliknya, saat PPN dinaikkan, hampir semua perusahaan menaikkan harga produk secara substansial, yakni sekitar 80 hingga 120% dari kenaikan tarif PPN. Penelitian Abdulrahman Al-Shammari, Abdullah Al-Shammari, dan Mohammed Al-Shammari pada 2023 juga mencatat bahwa lonjakan PPN yang tajam dapat memicu volatilitas antar-industri pada metrik pelaporan keuangan perusahaan dan bahkan meningkatkan probabilitas kebangkrutan.

Dampak Financial Anxiety pada Kesehatan Mental dan Fisik

Kecemasan finansial memiliki konsekuensi luas terhadap kesehatan mental dan fisik. Stres finansial dikenal sebagai salah satu pemicu paling konsisten untuk gejala kecemasan dan depresi pada orang dewasa.

Survei Stress in America 2024 dari American Psychological Association terhadap lebih dari 3.300 orang dewasa di AS menunjukkan bahwa 73% responden menganggap ekonomi sebagai sumber stres yang signifikan. Sejalan dengan itu, studi 2022 dalam Journal of Family and Economic Issues mengaitkan kekhawatiran finansial yang lebih tinggi dengan meningkatnya tekanan psikologis di kalangan orang dewasa AS.

Dalam kehidupan sehari-hari, stres finansial yang intens dapat mengganggu fungsi dasar—mulai dari memicu depresi, masalah kardiovaskular, dan insomnia, hingga perubahan pada sistem kekebalan tubuh. Ketidakpastian ekonomi yang kronis memicu respons stres fisiologis seperti peningkatan kortisol berkepanjangan serta disregulasi otonom, yang berkontribusi pada gangguan kecemasan dan tidur. Selain itu, ketidakpastian terkait uang dapat menimbulkan kelelahan keputusan; LifeStance Health menjelaskan bahwa otak menafsirkan tuntutan finansial yang tidak dapat diprediksi sebagai ancaman kelangsungan hidup, sehingga menguras energi dan menurunkan kapasitas pemecahan masalah.

Siapa yang Paling Rentan Mengalami Tekanan Ekonomi?

Data menunjukkan generasi muda berada di kelompok paling rentan. Penelitian LifeStance mencatat 67% milenial dan 58% Gen Z melaporkan sangat terpengaruh oleh stres finansial. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 49% Gen X dan 41% Baby Boomers. Kesenjangan tersebut terkait faktor struktural seperti tingginya utang mahasiswa, pasar perumahan yang mahal, serta paparan perbandingan finansial melalui media sosial.

Pekerja di sektor yang sensitif terhadap kebijakan ekonomi—misalnya manufaktur, pertanian, dan ritel—juga menghadapi ketidakamanan pekerjaan yang tinggi. Kondisi ini berkorelasi dengan munculnya kecemasan, depresi, bahkan penggunaan zat, sebagaimana dilaporkan Homewood Health pada 2025.

Asosiasi antara kekhawatiran finansial dan tekanan psikologis juga lebih terasa pada kelompok tertentu: orang dewasa yang belum menikah, mereka yang menganggur, rumah tangga berpenghasilan rendah, serta penyewa. Pola ini menunjukkan bahwa ketidakpastian finansial memperkuat beban kesehatan mental akibat kekhawatiran akan uang.

Langkah Mitigasi saat Ketidakpastian Ekonomi Meningkat

Meski tekanan ekonomi nyata dirasakan, ada langkah-langkah proaktif yang dapat membantu mengelola dampaknya. Literasi finansial menjadi kunci penting. Studi Mitchell & Lusardi (2015) menemukan bahwa individu dengan literasi finansial yang baik cenderung lebih efektif dalam merencanakan, menabung, dan mengelola investasi mereka—termasuk untuk pensiun—serta lebih mungkin memiliki tabungan darurat sehingga lebih tangguh menghadapi krisis.

Di tingkat rumah tangga, perencanaan keuangan yang jelas membantu menavigasi masa depan yang tidak pasti. Memprioritaskan pengeluaran, menyesuaikan anggaran, dan tetap fokus pada tujuan finansial termasuk langkah yang dapat mendukung stabilitas di tengah perubahan ekonomi.

Apabila kekhawatiran finansial mulai mengganggu tidur, nafsu makan, atau fungsi sehari-hari selama lebih dari dua minggu, atau memicu gejala panik, mencari bantuan profesional dianjurkan. Dukungan dari klinisi dapat memberikan perbedaan signifikan dalam meredakan tekanan ini, sebagaimana disarankan oleh Boston 25 News pada 2026.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading