Fimela.com, Jakarta - Setiap orang tua tentu mendambakan yang terbaik bagi buah hatinya, termasuk agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berani, mandiri, serta tidak gentar menghadapi kekeliruan. Namun, seringkali tanpa disadari, ada beberapa kebiasaan orang tua yang tanpa sadar membuat anak takut berbuat salah.
Pola asuh yang kurang tepat ini berpotensi meninggalkan jejak psikologis yang mendalam, menghambat perkembangan alami anak, dan membuat mereka ragu untuk mencoba hal-hal baru atau mengambil risiko. Padahal, keberanian untuk berbuat salah adalah bagian esensial dari proses belajar dan tumbuh kembang. Kritik yang berlebihan, misalnya, dapat menghancurkan kepercayaan diri anak dan mengganggu perkembangan mentalnya.
Memahami kebiasaan-kebiasaan ini menjadi langkah awal bagi orang tua untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan memberdayakan anak. Artikel ini akan mengulas delapan kebiasaan umum orang tua yang dapat memicu rasa takut berbuat salah pada anak, lengkap dengan dampak-dampak yang mungkin timbul, dilansir fimela.com dari berbagai sumber, Senin (31/8/2026).
Advertisement
Advertisement
1. Membiarkan Anak Terus Menghindari Hal yang Ditakuti
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4616799/original/085178200_1697712410-steven-van-loy-oUhSla4L_98-unsplash.jpg)
Melansir laman Empowering Families Counseling, memberikan kesempatan bagi anak untuk menghindari hal yang ditakuti memang dapat menghentikan tangisan atau tantrum dengan cepat. Anak menjadi tenang dan orang tua pun merasa lega. Namun, kebiasaan ini bisa membuat anak tanpa sadar tumbuh menjadi kurang percaya diri.
Misalnya, anak takut naik lift sehingga orang tua selalu memilih menggunakan tangga, anak tidak mau datang ke pesta ulang tahun lalu dibiarkan tidak hadir, atau anak menangis setiap pagi saat harus berangkat sekolah sehingga akhirnya dibiarkan tinggal di rumah.
Hal yang sebaiknya dilakukan, bantu anak menghadapi ketakutannya secara bertahap melalui metode yang dikenal sebagai paparan bertahap (gradual exposure). Misalnya pada anak yang takut naik lift:
-
Tahap 1: Berdiri di dekat lift dan melihat pintunya terbuka serta tertutup.
-
Tahap 2: Menekan tombol lift, tetapi tetap menggunakan tangga.
-
Tahap 3: Mencoba naik lift satu lantai bersama orang tua.
-
Tahap 4: Secara perlahan menambah jumlah lantai.
-
Tahap 5: Setelah lebih percaya diri, anak dapat mencoba naik sendiri.
Tidak perlu memaksa anak bergerak terlalu cepat. Yang terpenting adalah terus membuat kemajuan, meskipun langkahnya kecil.
2. Memberikan Kepastian Secara Berlebihan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5210013/original/047970100_1746461605-family-spending-time-together_23-2149290054.jpg)
Masih melansir laman Empowering Families Counseling, anak mungkin berkali-kali bertanya, misalnya, "Pintunya sudah dikunci, kan?", "Aku akan baik-baik saja di sekolah?", atau "Bagaimana kalau terjadi sesuatu?" Orang tua kemudian terus memberikan jawaban untuk menenangkan anak. Namun, beberapa menit kemudian pertanyaan yang sama kembali muncul.
Daripada menjawab pertanyaan yang sama berulang kali, orang tua dapat membatasi respons terhadap perilaku mencari kepastian ini. Misalnya dengan berkata, "Pertanyaan itu sudah Mama jawab. Kamu bisa menghadapi rasa tidak pasti ini," atau "Menurut kamu bagaimana?", atau "Mama tidak akan menjawab pertanyaan itu lagi, tetapi Mama percaya kamu bisa menghadapi kekhawatiranmu."
Advertisement
3. Tidak Memberikan Apresiasi pada Keberanian Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5110626/original/086902500_1737976278-Kontrol_anak.jpg)
Anak cenderung mengulangi perilaku yang mendapatkan perhatian. Jika kecemasan selalu mendapat respons besar sementara keberanian tidak diperhatikan, anak dapat belajar bahwa menunjukkan rasa takut adalah cara mendapatkan perhatian orang tua. Berikan pujian secara spesifik setiap kali anak menunjukkan keberanian, sekecil apa pun kemajuannya, misalnya dengan berkata, "Tadi kamu berani mengangkat tangan meski sempat ragu, itu keren sekali."
4. Menunjukkan Perilaku Cemas di Depan Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4964086/original/078547400_1728450952-IMG-20241009-WA0019.jpg)
Salah satu kebiasaan orang tua yang membuat anak takut berbuat salah adalah menunjukkan kecemasan berlebihan di depan anak, misalnya panik saat anak terjatuh, terlalu khawatir saat anak mencoba hal baru, atau sering mengucapkan kalimat seperti "Awas, nanti salah" atau "Hati-hati, jangan sampai keliru." Anak yang terus-menerus melihat orang tuanya cemas cenderung ikut belajar bahwa dunia adalah tempat yang penuh bahaya dan kesalahan adalah sesuatu yang harus ditakuti.
Advertisement
5. Terlalu Banyak Membantu saat Anak Salah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4097677/original/048213700_1658486784-pexels-agung-pandit-wiguna-1128318.jpg)
Ketika anak melakukan kesalahan, misalnya salah menjawab soal atau salah menyusun mainan, orang tua sering kali langsung turun tangan membetulkannya tanpa memberi anak kesempatan untuk mencoba sendiri terlebih dahulu. Kebiasaan ini memang terasa membantu, tetapi secara tidak langsung mengirimkan pesan bahwa kesalahan adalah hal yang harus segera diperbaiki orang lain, bukan sesuatu yang bisa dipelajari.
Akibatnya, anak menjadi kurang percaya diri untuk mencoba dan lebih memilih menunggu bantuan daripada berusaha sendiri. Sebaiknya, beri anak ruang untuk menemukan solusinya sendiri terlebih dahulu, dan baru dampingi jika ia benar-benar membutuhkan bantuan.
6. Selalu Membandingkan Anak dengan Anak Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4964085/original/068291500_1728450951-IMG-20241009-WA0018.jpg)
Melansir laman Bambinos, salah satu praktik pengasuhan terburuk adalah membandingkan anak dengan orang lain, misalnya dengan kakaknya, temannya, atau anak tetangga. Kalimat seperti "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?" atau "Lihat, temanmu saja bisa" dapat membuat anak merasa dirinya tidak pernah cukup baik. Alih-alih termotivasi, anak justru bisa tumbuh dengan rasa takut berbuat salah karena merasa terus-menerus dinilai dan dibandingkan dengan standar orang lain, bukan berdasarkan usahanya sendiri.
Advertisement
7. Sering Mengkritik atau Menghukum Kesalahan Secara Berlebihan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5038399/original/043864800_1733462367-Gambar_WhatsApp_2024-12-06_pukul_11.16.11_c5ee6ee8.jpg)
Kebiasaan orang tua yang membuat anak takut berbuat salah juga bisa muncul dari cara merespons kesalahan itu sendiri. Kritik yang berlebihan, nada bicara yang keras, atau hukuman yang tidak sebanding dengan kesalahan yang dibuat dapat membuat anak mengasosiasikan kesalahan dengan rasa malu dan takut.
Lama-kelamaan, anak menjadi enggan mencoba hal baru karena khawatir akan dimarahi jika hasilnya tidak sempurna. Sebagai gantinya, orang tua bisa merespons kesalahan dengan tenang, menjelaskan apa yang bisa diperbaiki, dan menekankan bahwa membuat kesalahan adalah bagian normal dari proses belajar.
8. Menetapkan Standar atau Ekspektasi yang Terlalu Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2843891/original/018274600_1562156772-boy-child-childhood-235554.jpg)
Menuntut anak untuk selalu mendapatkan nilai sempurna, menang di setiap kompetisi, atau tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apa pun juga menjadi salah satu kebiasaan orang tua yang membuat anak takut berbuat salah. Ekspektasi yang terlalu tinggi membuat anak merasa dirinya hanya berharga jika berhasil, sehingga ia menjadi sangat takut gagal atau melakukan kesalahan. Orang tua sebaiknya menetapkan target yang realistis sesuai kemampuan anak, serta lebih menghargai usaha dan proses belajarnya dibandingkan hanya berfokus pada hasil akhir.
Advertisement
Bagaimana Membantu Anak agar Tidak Takut Berbuat Salah?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5210009/original/002456600_1746461235-lgtbiq-family-enjoying-life-together_23-2149173385.jpg)
Pola pengasuhan dapat diperbaiki secara bertahap. Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan antara lain:
- Normalisasi kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.
- Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba sendiri.
- Hindari memberikan label seperti "ceroboh", "malas", atau "tidak bisa".
- Puji keberanian anak ketika mencoba sesuatu yang baru.Fokus pada proses dan usaha, bukan hanya hasil.
- Tanyakan solusi setelah anak melakukan kesalahan.
- Berikan konsekuensi yang masuk akal jika memang diperlukan.
- Tunjukkan bahwa kasih sayang tidak bergantung pada prestasi.
- Ceritakan kesalahan yang pernah dilakukan orang tua dan bagaimana cara memperbaikinya.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Membuat Anak Takut Berbuat Salah
1. Apa dampak membiarkan anak terus menghindari hal yang ditakuti?
Kebiasaan ini bisa membuat anak tumbuh menjadi kurang percaya diri karena tidak pernah belajar menghadapi ketakutannya secara langsung.
2. Bagaimana cara membantu anak menghadapi ketakutannya tanpa memaksa?
Gunakan metode paparan bertahap (gradual exposure), yaitu mengenalkan anak pada hal yang ditakuti secara perlahan, tahap demi tahap, sesuai kesiapannya.
3. Mengapa memberikan kepastian secara berlebihan justru tidak baik untuk anak?
Karena hal ini membuat anak semakin bergantung pada jawaban orang tua dan tidak belajar untuk menenangkan dirinya sendiri saat menghadapi rasa tidak pasti.
4. Apakah kecemasan orang tua bisa memengaruhi anak?
Ya, anak dapat "menular" kecemasan orang tua melalui proses yang disebut modeling, yaitu belajar merasa takut hanya dengan mengamati reaksi cemas orang tuanya.
5. Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua saat anak melakukan kesalahan?
Sebaiknya orang tua merespons dengan tenang, memberi ruang bagi anak untuk mencoba memperbaiki sendiri, serta memberikan apresiasi atas usaha dan keberanian yang ditunjukkan anak.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4598468/original/048272600_1696412875-pexels-ketut-subiyanto-4473774.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336554/original/003077400_1788165365-Gemini_Generated_Image_8q3l3k8q3l3k8q3l__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336495/original/089769300_1788163428-Gemini_Generated_Image_fyzbn6fyzbn6fyzb__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336283/original/035227000_1788152969-50ea118a-0f67-47ae-b436-0c2d29537cbc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336396/original/098056600_1788159787-HL_semut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3503888/original/073199800_1625656085-pexels-photo-935789.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569544/original/098163400_1777445637-pexels-luisbecerrafotografo-35659780.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569519/original/039377400_1777444700-pexels-steffan-wiliams-2148064025-30895054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564262/original/049314900_1776931762-flat-lay-hands-holding-notebook-cash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572111/original/028475500_1777774433-pexels-cottonbro-7118214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7826343/original/031913400_1780645907-pexels-cottonbro-6181839.jpg)
![Bikin anak makin sehat, ini rahasia trik stimulasi grounding. [Dok/Pexels.com/Ron Lach].](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/cgstAcTvTYUIV7GNtQsuPEOVcXU=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7955671/original/027065700_1780791938-pexels-ron-lach-10033218.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691408/original/040891300_1778567403-pexels-denisenys-14824327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317739/original/021174400_1786068843-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261782/original/054643400_1750688856-portrait-woman-cooking-home-kitchen-holding-tomatoes-preparing-delicious-fresh-meal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5934075/original/055087900_1778831527-pexels-maksgelatin-4775196.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293366/original/017821600_1783695315-DSC09836.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488589/original/000791000_1769757751-mom-comforting-her-upset-daughter.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5932615/original/009181300_1778830171-little-boy-outdoor-crying.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5570303/original/045253200_1777521902-mom-daughter-making-high-five_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5457158/original/075801100_1766989393-senivpetro.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542574/original/034170700_1774946838-medium-shot-people-yoga-mat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5436169/original/033702700_1765164894-medium-shot-woman-working-from-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326200/original/073461400_1786965125-gem2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326201/original/003720900_1786965126-gem3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335646/original/011346500_1788009959-IMG-20260829-WA0049.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335626/original/080018000_1788008067-1000118220.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5292222/original/022875000_1753247405-efee62e2-84c3-4d97-89c6-32bf7b5f099d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335594/original/051360000_1788001267-f88a50f6-f3e5-4260-8d0d-80e85f511f82.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336585/original/046259200_1788166807-SEEN_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152958/original/080011200_1741313247-AP25062857106360.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336705/original/011016800_1788171722-4310339.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299972/original/068846100_1784281645-_image__-_5260763.jpg)