Sukses

Lifestyle

Kepribadian Orang yang Suka Mengumpulkan Barang, Apa Kata Psikologi?

ringkasan

  • Daya tarik barang gratis berakar pada 'Zero Price Effect' dan pelepasan dopamin, memicu perasaan senang dan mengabaikan potensi kekurangan.
  • Penggemar barang gratis seringkali memiliki kepribadian terbuka, menghargai nostalgia, mencari kontrol, dan menikmati sensasi berburu serta ekspresi diri.
  • Penting membedakan hobi mengoleksi dengan 'hoarding disorder' yang mengganggu fungsi hidup, dengan kunci perbedaan pada organisasi dan selektivitas barang.

Fimela.com, Jakarta - Ada orang yang selalu tertarik ketika melihat tulisan “gratis”, mulai dari sampel makanan, merchandise, kantong belanja, alat tulis, hingga barang promosi. Kepribadian orang yang suka mengumpulkan barang gratis ternyata tidak sesederhana anggapan bahwa mereka hanya ingin mendapatkan sesuatu tanpa mengeluarkan uang.

Kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan cara seseorang memandang nilai, kesempatan, dan rasa memiliki. Bagi sebagian orang, barang gratis terasa seperti bonus kecil yang sayang dilewatkan, terlebih ketika barang tersebut masih bisa digunakan.

Namun, kebiasaan mengumpulkan barang gratis juga perlu dilihat dari konteksnya. Seseorang yang senang mengambil barang promosi tetapi tetap selektif dan mampu menggunakannya tentu berbeda dengan orang yang mengambil hampir semua barang hanya karena gratis, meskipun tidak membutuhkannya, Senin (7/9/2026).

1. Mudah melihat peluang dari sesuatu yang dianggap bernilai

Salah satu karakter yang mungkin terlihat pada orang yang gemar mengumpulkan barang gratis adalah kemampuan melihat nilai atau peluang dari sesuatu yang bagi orang lain tampak sepele. Ketika mendapatkan pulpen gratis, misalnya, ia mungkin langsung berpikir bahwa pulpen tersebut bisa digunakan di rumah. Begitu pula dengan tote bag, kalender, wadah makanan, sampel produk, atau merchandise.

Daya tariknya bukan semata-mata karena tidak perlu membayar. Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang merasa mendapatkan manfaat tanpa mengeluarkan biaya.

Hal ini berkaitan dengan fenomena yang dalam psikologi konsumen dikenal sebagai zero-price effect. Dalam materi yang dirujuk dari Feedough dan pembahasan Dan Ariely, sesuatu yang diberi harga nol dapat memunculkan respons emosional yang berbeda dibandingkan barang murah sekalipun. Kata “gratis” membuat konsumen cenderung melihat tawaran tersebut sebagai kesempatan yang menguntungkan.

Artinya, orang yang gemar berburu barang gratis belum tentu berpikir, “Saya harus punya semua benda ini.” Bisa jadi pola pikirnya lebih sederhana: “Kalau bisa mendapatkannya tanpa membayar dan barangnya berguna, mengapa tidak?”

2. Cenderung merasa sayang melewatkan kesempatan

Orang yang sering mengambil barang gratis juga bisa memiliki kecenderungan tidak ingin melewatkan kesempatan. Ketika melihat sebuah acara membagikan merchandise terbatas, misalnya, muncul dorongan untuk mengambilnya karena kesempatan tersebut mungkin tidak datang dua kali.

Perasaan ini membuat barang gratis terasa lebih menarik ketika jumlahnya terbatas. Sebuah tote bag biasa dapat terasa lebih berharga ketika dibagikan hanya selama satu hari atau diberikan kepada sejumlah orang pertama.

Dalam konteks psikologi konsumen, kelangkaan dan kesempatan memperoleh sesuatu secara cuma-cuma dapat memperkuat persepsi nilai. Karena itu, perilaku mengumpulkan barang gratis tidak selalu berhubungan dengan harga barang sebenarnya. Yang menarik justru pengalaman “berhasil mendapatkan” sesuatu.

Ada sensasi pencapaian kecil ketika seseorang pulang membawa barang yang diperolehnya tanpa biaya.

3. Menyukai sensasi mendapatkan sesuatu

Kepribadian orang yang suka mengumpulkan barang gratis juga dapat terlihat dari kesenangannya pada proses berburu. Barang yang diperoleh mungkin bukan bagian terpenting dari pengalaman.

Misalnya, seseorang melihat informasi pembagian sampel gratis di sebuah pusat perbelanjaan. Ia kemudian datang, mencari lokasi stan, mengantre, memilih produk, lalu membawanya pulang. Seluruh proses tersebut dapat memberikan rasa puas.

Hal ini mirip dengan aktivitas mengoleksi pada umumnya. Penelitian Martin Reimann, Merrie Brucks, dan C. Clark Cao yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Research menunjukkan bahwa aktivitas mengoleksi berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk menciptakan struktur dan rasa kontrol. Dalam enam studi, peneliti menemukan bahwa keinginan terhadap kontrol dapat mendorong keterlibatan seseorang dalam aktivitas mengoleksi. Karena itu, kebiasaan mengumpulkan barang gratis dapat memberikan kepuasan yang bukan hanya berasal dari benda tersebut, tetapi juga dari proses memperoleh dan menambah koleksi.

4. Senang membuat barang menjadi bagian dari kategori tertentu

Tidak semua orang yang mengumpulkan barang gratis menyimpan benda secara acak. Sebagian justru memiliki kecenderungan mengelompokkan benda berdasarkan kategori.

Contohnya, seseorang mungkin mengumpulkan magnet kulkas gratis dari berbagai tempat. Orang lain mengumpulkan tote bag dari acara yang pernah dihadiri. Ada pula yang menyimpan pulpen, gelas, stiker, gantungan kunci, atau kalender dari berbagai perusahaan.

Di sinilah aktivitas mengumpulkan mulai memiliki unsur kurasi.

Penelitian dari University of Arizona menjelaskan bahwa struktur merupakan salah satu hal yang membuat kegiatan mengoleksi terasa memuaskan. Ketika benda-benda yang berkaitan disusun menjadi satu kesatuan, koleksi tersebut terasa lebih lengkap dan teratur. Jadi, orang yang mengumpulkan barang gratis mungkin sebenarnya menikmati proses menciptakan pola dari benda-benda yang diperoleh.

5. Memiliki kecenderungan hemat dan berpikir praktis

Pada sebagian orang, kebiasaan mengambil barang gratis dapat berkaitan dengan pola pikir hemat. Mereka mungkin terbiasa mempertimbangkan apakah suatu benda bisa dimanfaatkan sebelum membeli barang baru.

Contohnya, ketika memperoleh tas belanja gratis, ia tidak perlu membeli tas serupa. Ketika mendapatkan sampel sabun atau produk pembersih, barang tersebut dapat digunakan terlebih dahulu sebelum membeli versi baru.

Dalam kondisi seperti ini, mengumpulkan barang gratis bukan berarti seseorang tidak mampu membedakan kebutuhan dan keinginan. Justru sebaliknya, ia mungkin merasa bahwa mendapatkan barang secara gratis merupakan cara untuk mengurangi pengeluaran.

Namun, sifat hemat baru memberikan manfaat jika tetap disertai selektivitas. Barang yang gratis tetap membutuhkan tempat untuk disimpan. Jika terlalu banyak mengambil sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan, penghematan tersebut justru bisa berubah menjadi penumpukan.

6. Memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi

Barang gratis sering kali hadir dalam bentuk sampel atau produk percobaan. Seseorang yang senang mencobanya mungkin memiliki rasa ingin tahu terhadap produk baru.

Misalnya, ia mendapatkan sampel makanan dan ingin mengetahui rasanya. Atau memperoleh miniatur produk perawatan dan ingin melihat apakah produk tersebut cocok digunakan. Dalam situasi seperti ini, barang gratis berfungsi sebagai kesempatan untuk bereksperimen dengan risiko finansial yang kecil atau bahkan tidak ada.

Feedough, dalam pembahasannya mengenai psikologi “free”, menjelaskan bahwa penawaran gratis dapat mengurangi hambatan konsumen untuk mencoba sesuatu. Ketika tidak perlu mengeluarkan uang, risiko merasa rugi juga terasa lebih rendah.

Karena itu, ketertarikan terhadap barang gratis terkadang justru mencerminkan karakter yang eksploratif, bukan sekadar keinginan mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma.

7. Menyukai rasa puas karena berhasil melengkapi koleksi

Ada pula orang yang merasa puas ketika koleksinya semakin lengkap. Misalnya, seseorang memiliki beberapa mug promosi dari berbagai acara dan kemudian menemukan satu desain yang belum dimiliki.

Barang tersebut mungkin sebenarnya tidak penting secara fungsional. Namun, keberadaannya membuat koleksi terasa lebih lengkap.

Penelitian Cao, Brucks, dan Reimann menunjukkan bahwa dorongan untuk menyelesaikan sebuah koleksi dapat menjadi lebih kuat ketika seseorang merasa koleksinya sudah mendekati lengkap. Struktur yang jelas membuat aktivitas tersebut terasa lebih memuaskan.

Karakter semacam ini dapat menjelaskan mengapa seseorang tetap tertarik mengambil barang gratis meskipun sudah memiliki benda serupa. Yang dicari bukan lagi fungsi barang, melainkan posisi benda tersebut dalam keseluruhan koleksi.

8. Bisa memiliki keterikatan emosional dengan benda

Barang yang awalnya didapat secara gratis dapat berubah menjadi benda yang memiliki nilai sentimental.

Sebuah tote bag gratis dari acara kelulusan, misalnya, dapat mengingatkan seseorang pada masa tertentu. Kalender dari sebuah perjalanan bisa menjadi pengingat tempat yang pernah dikunjungi. Gantungan kunci dari sebuah acara dapat mengingatkan pemiliknya pada orang-orang yang ditemui saat itu.

Psychology Today menjelaskan bahwa motivasi mengoleksi sangat beragam. Ada orang yang mengoleksi karena kenangan, identitas, ketertarikan tertentu, atau sekadar menjadikannya hobi. Dengan demikian, tidak tepat menganggap semua kolektor memiliki kepribadian yang sama. Hal yang sama berlaku pada orang yang mengumpulkan barang gratis. Benda yang bagi orang lain tidak berarti bisa memiliki cerita pribadi bagi pemiliknya.

9. Tidak selalu berarti pelit atau serakah

Kebiasaan mengambil barang gratis sering kali mendapatkan label seperti “pelit”, “kalap”, atau “suka mengambil kesempatan”. Padahal, label tersebut belum tentu tepat.

Psychology Today menekankan bahwa aktivitas mengoleksi secara umum tidak otomatis menunjukkan gangguan obsesif-kompulsif. Banyak orang melakukan aktivitas mengoleksi sebagai hobi biasa, sementara hanya sebagian kecil yang mengalami masalah sampai mengganggu kehidupan sehari-hari. Karena itu, kepribadian orang yang suka mengumpulkan barang gratis sebaiknya tidak dinilai hanya dari jumlah benda yang dimilikinya. Yang lebih penting adalah alasan mengambil, cara menyimpan, kemampuan memilah, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

10. Perlu dibedakan dari kebiasaan menimbun

Hal paling penting adalah membedakan antara mengoleksi dan menimbun.

Orang yang mengoleksi biasanya memiliki alasan tertentu terhadap barang yang dikumpulkan. Benda-benda tersebut dapat dikelompokkan, ditata, digunakan, dipajang, atau dirawat. Sebaliknya, masalah dapat muncul ketika seseorang terus mengambil barang tanpa mampu mengendalikan dorongan untuk mendapatkan dan menyimpannya.

Psychology Today menjelaskan bahwa salah satu perbedaan penting antara kolektor dan perilaku menimbun adalah tingkat organisasi. Kolektor cenderung memilih benda yang masuk ke dalam koleksi dan memahami hubungan antarbarang, sedangkan proses memperoleh barang pada perilaku menimbun dapat menjadi lebih tidak selektif.

Dengan demikian, memiliki banyak barang gratis bukanlah satu-satunya ukuran. Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah barang-barang tersebut masih memiliki fungsi dan apakah keberadaannya mulai mengganggu ruang, hubungan sosial, pekerjaan, atau kehidupan sehari-hari.

11. Ada kepuasan psikologis ketika berhasil mendapatkan “sesuatu”

Pada akhirnya, daya tarik barang gratis dapat dipahami sebagai perpaduan antara nilai, kesempatan, rasa puas, dan pengalaman mendapatkan sesuatu.

Seseorang bisa merasa senang karena berhasil mendapatkan produk tanpa membayar. Orang lain merasa puas karena koleksinya bertambah. Ada pula yang sekadar ingin mencoba produk baru.

Namun, kebiasaan tersebut tetap perlu dikendalikan. Barang gratis bukan berarti benar-benar “tanpa biaya” dalam arti luas. Barang tetap membutuhkan ruang, waktu untuk disortir, dan perhatian untuk dirawat. Jika benda yang dikumpulkan semakin banyak tetapi tidak pernah digunakan, nilai praktisnya justru dapat berkurang.

Karena itu, kepribadian orang yang suka mengumpulkan barang gratis tidak bisa disimpulkan hanya sebagai orang yang “suka gratisan”. Di baliknya bisa terdapat sifat hemat, praktis, penasaran, menyukai keteraturan, menikmati proses berburu, hingga memiliki keterikatan sentimental terhadap benda.

Yang membedakan kebiasaan sehat dan kebiasaan bermasalah bukan semata-mata berapa banyak barang yang dikumpulkan, melainkan apakah seseorang masih mampu memilih, mengatur, dan melepaskan barang yang memang sudah tidak diperlukan.

Tanya Jawab Seputar Mengumpulkan Barang Gratis

1. Apakah suka mengumpulkan barang gratis berarti pelit?

Tidak selalu. Sebagian orang tertarik pada barang gratis karena ingin berhemat atau memanfaatkan sesuatu yang memang berguna. Selama tetap selektif dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari, kebiasaan tersebut tidak otomatis menunjukkan sifat pelit.

2. Mengapa barang gratis terasa lebih menarik daripada barang murah?

Kata “gratis” dapat memicu respons psikologis yang berbeda karena seseorang tidak merasakan risiko kehilangan uang. Konsep ini sering dikaitkan dengan zero-price effect, yaitu kecenderungan memberikan daya tarik lebih besar pada sesuatu ketika harganya nol.

3. Apakah mengumpulkan barang gratis termasuk perilaku menimbun?

Tidak otomatis. Mengoleksi dan menimbun merupakan dua hal yang berbeda. Kolektor umumnya memiliki pilihan dan struktur terhadap barang yang dikumpulkan. Perilaku menimbun menjadi masalah ketika seseorang terus memperoleh dan sulit membuang barang hingga menimbulkan kekacauan atau gangguan dalam kehidupan.

4. Apakah kebiasaan mengumpulkan barang gratis bisa menjadi masalah?

Bisa, jika dorongan tersebut tidak terkendali. Misalnya, seseorang mengambil semua barang yang ditawarkan meskipun tidak diperlukan, rumah semakin penuh, barang tidak pernah digunakan, atau aktivitas tersebut mulai mengganggu pekerjaan dan hubungan dengan orang lain.

5. Bagaimana agar tetap bisa menikmati barang gratis tanpa menumpuk?

Gunakan prinsip sederhana: ambil hanya jika benar-benar akan digunakan. Sebelum membawa pulang barang gratis, tanyakan apakah benda tersebut memiliki fungsi, apakah sudah memiliki barang serupa, dan apakah tersedia ruang untuk menyimpannya. Dengan begitu, kesenangan mendapatkan barang gratis tetap bisa dinikmati tanpa membuat rumah penuh benda yang tidak diperlukan.

 

 

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading