Sukses

Lifestyle

10 Ciri Orang yang Suka Mengontrol Kehidupan Orang Lain, Tak Selalu Terlihat

ringkasan

  • Orang yang suka mengontrol sering menyalahkan orang lain, bahkan untuk hal-hal kecil yang tidak relevan.
  • Mereka kerap mengkritik secara terus-menerus, baik secara pribadi maupun di depan umum, untuk merusak kepercayaan diri.
  • Taktik isolasi sosial digunakan untuk menjauhkan korban dari teman dan keluarga.

Fimela.com, Jakarta - Ciri orang yang suka mengontrol kehidupan orang lain tidak selalu terlihat melalui perintah atau paksaan secara terang-terangan. Perilaku tersebut terkadang muncul lewat kritik berlebihan, tuntutan perhatian, atau kebiasaan membuat orang lain merasa bersalah.

Dalam sebuah hubungan, cara seseorang memperlakukan batasan juga dapat menunjukkan kecenderungan untuk mengontrol. Sulit menerima penolakan, tidak suka ketika orang terdekat menghabiskan waktu dengan pihak lain, hingga berusaha memengaruhi keputusan pribadi bisa menjadi ciri orang yang suka mengontrol kehidupan orang lain.

Pola tersebut dapat muncul dalam hubungan pertemanan, keluarga, pekerjaan, maupun pasangan. Mengenali ciri orang yang suka mengontrol kehidupan orang lain membantu memahami apakah perilaku tersebut sekadar perbedaan karakter atau mulai membatasi kebebasan seseorang.

Berikut Fimela.com merangkum dari Healthline tentang ciri orang yang suka mengontrol kehidupan orang lain, Kamis (10/9/2026).

1. Sering Membuat Orang Lain Merasa Bersalah

Orang yang suka mengontrol dapat membuat orang lain merasa bertanggung jawab atas berbagai masalah, termasuk hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali mereka. Kesalahan kecil pun bisa dibesar-besarkan dan diarahkan kepada orang lain.

Mereka mungkin sering mengatakan bahwa suatu masalah terjadi karena kesalahanmu atau membuatmu merasa seharusnya tidak melakukan sesuatu. Jika terus terjadi, pola ini dapat membuat seseorang merasa bersalah bahkan ketika tidak melakukan kesalahan.

2. Terus-Menerus Mengkritik

Kritikan yang diberikan secara berulang dapat menjadi cara untuk menurunkan rasa percaya diri orang lain. Mereka mungkin sengaja menyoroti kesalahan kecil, membesar-besarkan kekurangan, atau tidak pernah mengakui ketika seseorang melakukan sesuatu dengan baik.

Bentuknya juga bisa berupa candaan yang menyakitkan hingga komentar mengenai cara berpakaian, berbicara, atau bekerja. Lama-kelamaan, seseorang bisa merasa harus selalu berhati-hati agar tidak menjadi sasaran kritik.

3. Berusaha Menjauhkan dari Orang-Orang Terdekat

Upaya untuk mengontrol kehidupan orang lain terkadang dilakukan dengan membatasi hubungan sosialnya. Mereka bisa terus menuntut perhatian hingga perlahan membuat seseorang menjauh dari teman atau keluarga.

Sikap tersebut tidak selalu disampaikan secara terang-terangan, tetapi dapat terlihat dari keluhan, tatapan tidak suka, atau perubahan sikap setiap kali orang tersebut menghabiskan waktu bersama orang lain. Tujuannya dapat membuat perhatian seseorang lebih banyak tertuju kepada mereka.

4. Suka Mengungkit Bantuan yang Pernah Diberikan

Orang yang suka mengontrol dapat menganggap setiap bantuan sebagai sesuatu yang harus dibalas. Mereka mungkin terus mengingatkan bahwa pernah membayar makanan, memberikan tempat tinggal sementara, atau melakukan kebaikan tertentu agar orang lain merasa berutang.

Kebaikan tersebut kemudian digunakan sebagai alasan untuk meminta sesuatu sebagai gantinya. Akibatnya, orang yang menerima bantuan bisa merasa tidak enak hati ketika ingin menolak keinginan mereka.

5. Melakukan Gaslighting

Gaslighting terjadi ketika seseorang menyangkal atau meremehkan pengalaman orang lain hingga membuatnya mulai meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri. Misalnya, ketika perkataan atau tindakan mereka dipermasalahkan, mereka justru menyangkal pernah mengatakannya atau menuduh orang lain terlalu sensitif.

Bahkan, mereka bisa menyalahkan pihak lain meski terdapat bukti yang menunjukkan sebaliknya. Jika berlangsung berulang, seseorang dapat terus mempertanyakan apakah dirinya yang sebenarnya salah.

6. Menciptakan Drama untuk Mendapatkan Perhatian

Perhatian dari orang lain juga bisa menjadi sesuatu yang ingin dikuasai oleh pribadi yang gemar mengontrol. Ketika seseorang sedang mendapatkan pencapaian atau perhatian positif, mereka mungkin tiba-tiba mengalihkan pembicaraan pada masalah yang sedang dihadapi agar fokus kembali tertuju kepada mereka.

Mereka juga dapat mengganggu hubungan seseorang dengan pihak lain untuk mempertahankan pengaruhnya. Dalam sumber tersebut, perilaku ini bahkan dapat berupa membagikan percakapan pribadi tanpa izin untuk memicu masalah dengan orang lain.

7. Suka Mengintimidasi atau Merasa Lebih Superior

Perilaku mengontrol dapat terlihat melalui sikap yang sengaja membuat orang lain merasa lebih rendah. Mereka mungkin sering menyela pembicaraan, meremehkan pendapat, berbicara dengan nada merendahkan, atau berusaha menjatuhkan reputasi seseorang.

Di lingkungan kerja, misalnya, perilaku tersebut dapat terlihat ketika seseorang terus memotong pembicaraan rekan atau merendahkan orang lain di depan banyak orang. Dalam beberapa situasi, intimidasi juga dapat disampaikan melalui ancaman terselubung yang dibungkus sebagai candaan.

8. Sulit Menerima Kata "Tidak"

Batasan yang sehat seharusnya dapat dihormati, tetapi orang yang suka mengontrol cenderung kesulitan menerima penolakan. Ketika keinginannya tidak diikuti, mereka dapat terus membujuk, menekan, atau berusaha mengubah keputusan orang lain.

Misalnya, seseorang sudah mengatakan tidak bisa bertemu, tetapi mereka tetap datang tanpa diundang. Sikap semacam ini menunjukkan bahwa keinginan untuk mendapatkan apa yang mereka mau dapat mengalahkan penghormatan terhadap batasan orang lain.

9. Cemburu Secara Berlebihan

Rasa cemburu yang tidak wajar dapat menjadi cara untuk membatasi kebebasan seseorang dalam berinteraksi. Mereka mungkin tidak suka ketika orang yang dekat dengannya membuat rencana bersama orang lain, memberikan komentar negatif tentang teman-teman, atau terus mempertanyakan seseorang pergi dengan siapa dan ke mana.

Sikap merajuk atau marah setiap kali orang tersebut bertemu orang baru juga bisa menjadi bagian dari pola tersebut. Perhatian yang diinginkan akhirnya bukan lagi sekadar kedekatan, tetapi dapat berubah menjadi tuntutan agar seseorang selalu memprioritaskan mereka.

10. Berusaha Mengubah Diri atau Penampilan Orang Lain

Keinginan untuk mengontrol dapat membuat seseorang berusaha membentuk orang lain sesuai dengan keinginannya sendiri. Misalnya, mereka menekan seseorang untuk mengubah cara berpakaian atau penampilan agar sesuai dengan selera mereka.

Dalam bentuk yang lebih ekstrem, mereka bahkan bisa membuang pakaian yang disukai atau menolak pergi bersama jika orang tersebut tidak mengenakan pakaian sesuai keinginan. Pola seperti ini menunjukkan adanya usaha untuk mengatur pilihan pribadi orang lain, bukan sekadar memberikan pendapat.

Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Suka Mengontrol Kehidupan Orang Lain

Apa ciri orang yang suka mengontrol kehidupan orang lain?

Beberapa cirinya antara lain sering membuat orang lain merasa bersalah, terus-menerus mengkritik, sulit menerima penolakan, cemburu berlebihan, serta berusaha mengatur pilihan atau penampilan orang lain.

Mengapa orang yang suka mengontrol sering membuat orang lain merasa bersalah?

Membuat seseorang merasa bersalah dapat menjadi cara untuk memengaruhi keputusan dan perilakunya. Mereka bisa menyalahkan orang lain atas masalah yang sebenarnya berada di luar kendali atau terus mengungkit kesalahan kecil.

Apakah sulit menerima kata "tidak" termasuk perilaku mengontrol?

Ya. Orang yang cenderung mengontrol biasanya kesulitan menghormati batasan dan dapat terus membujuk atau menekan seseorang agar mengubah keputusan sesuai keinginannya.

Apakah cemburu berlebihan bisa menjadi tanda perilaku mengontrol?

Bisa, terutama jika kecemburuan membuat seseorang berusaha membatasi hubungan dengan orang lain. Contohnya, mempertanyakan dengan siapa seseorang pergi, menjelekkan teman, atau marah ketika orang terdekat membuat rencana bersama pihak lain.

Kapan perilaku mengontrol perlu dianggap sebagai tanda bahaya?

Perlu lebih diwaspadai ketika pola tersebut mulai membatasi kebebasan, membuat seseorang merasa terjebak, didominasi, atau takut. Dalam kondisi tertentu, perilaku mengontrol dapat berkembang menjadi bentuk kekerasan atau coercive control.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading