Fimela.com, Jakarta - Dalam hubungan sehari-hari, kebiasaan orang yang sulit menghargai boundaries orang lain sering kali muncul dalam bentuk yang terlihat sederhana. Misalnya, terus menghubungi seseorang meski sudah diminta memberi waktu, memaksa orang menerima ajakan, atau menganggap penolakan sebagai sesuatu yang harus diperdebatkan.
Padahal, boundaries atau batas pribadi merupakan bagian penting dalam hubungan yang sehat. Batas ini dapat berkaitan dengan ruang fisik, waktu, privasi, perasaan, tenaga, komunikasi, hingga keputusan pribadi. Ketika batas tersebut terus diabaikan, seseorang dapat merasa tidak dihargai, lelah, tertekan, bahkan mulai menjaga jarak dari hubungan tersebut.
Menariknya, perilaku semacam ini tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan yang terang-terangan kasar. Ada orang yang melakukannya melalui candaan, rasa bersalah, bujukan berulang, atau kebiasaan menganggap kebutuhannya selalu lebih penting. Karena itu, mengenali polanya dapat membantu seseorang memahami kapan sebuah interaksi sudah mulai melewati batas, Sabtu (12/9/2026).
Advertisement
Advertisement
1. Sulit menerima kata "tidak" dan terus membujuk
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5222442/original/003021000_1747394287-steptodown.com883206.jpg)
Salah satu kebiasaan paling mudah dikenali adalah tidak menganggap penolakan sebagai jawaban yang final. Ketika seseorang mengatakan tidak bisa datang, tidak ingin bercerita, atau tidak nyaman melakukan sesuatu, orang dengan kebiasaan ini justru terus mencari alasan agar keputusan tersebut berubah.
Responsnya bisa berupa, "Masa begitu saja tidak mau?", "Sebentar saja," atau "Kamu kan biasanya mau." Sekilas terdengar seperti bujukan biasa, tetapi jika dilakukan berulang setelah penolakan sudah disampaikan dengan jelas, perilaku tersebut dapat menjadi bentuk pengabaian terhadap batas pribadi.
Psych Central menjelaskan bahwa mengabaikan kata "tidak", terus melakukan sesuatu yang sudah diminta untuk dihentikan, atau mencoba mengubah pikiran seseorang mengenai batas yang telah ditetapkan merupakan tanda boundaries tidak dihormati.
Dalam hubungan yang sehat, seseorang boleh kecewa terhadap sebuah keputusan, tetapi tetap perlu menghormati keputusan tersebut.
2. Menganggap batas pribadi sebagai sesuatu yang berlebihan
Kebiasaan berikutnya adalah mengecilkan kebutuhan orang lain. Ketika seseorang mengatakan tidak nyaman menerima telepon larut malam, misalnya, respons yang muncul justru, "Kamu terlalu sensitif," atau "Kan cuma telepon."
Menurut Psych Central, meminimalkan kebutuhan seseorang atau membuatnya merasa terlalu sensitif dapat menjadi salah satu bentuk pelanggaran boundaries. Hal serupa juga dapat terjadi melalui candaan yang sebenarnya membuat orang lain tidak nyaman.
Masalahnya, kalimat semacam itu membuat orang yang sedang menetapkan batas mulai meragukan perasaannya sendiri. Padahal, batas pribadi tidak harus dianggap masuk akal oleh semua orang agar tetap layak dihormati.
Setiap orang memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda. Sesuatu yang biasa bagi seseorang belum tentu nyaman bagi orang lain.
3. Memaksa mengetahui hal-hal yang bersifat pribadi
Orang yang sulit menghargai boundaries juga cenderung merasa berhak mengetahui kehidupan pribadi orang lain. Mereka bisa terus menanyakan masalah keluarga, hubungan, kondisi keuangan, isi percakapan pribadi, atau persoalan emosional meski lawan bicara sudah menunjukkan keengganan untuk bercerita.
Mindful Center memasukkan tekanan untuk mengungkapkan informasi pribadi yang tidak ingin dibagikan sebagai salah satu contoh pelanggaran batas emosional. Dalam konteks sosial, hal tersebut bisa terasa semakin berat ketika pertanyaan diajukan berulang kali atau disertai kalimat seperti, "Kita kan teman dekat."
Kedekatan bukan berarti seseorang kehilangan hak atas privasinya. Hubungan yang sehat justru memberikan ruang bagi setiap orang untuk menentukan informasi apa yang ingin dibagikan dan kapan waktunya.
4. Mengabaikan kebutuhan seseorang untuk memiliki waktu sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5263005/original/017115400_1750760643-close-up-worried-woman-with-her-husband.jpg)
Tidak semua orang selalu siap menerima telepon, membalas pesan, bertemu, atau mendengarkan curhat. Namun, orang yang sulit menghargai boundaries dapat menganggap kebutuhan untuk menyendiri sebagai bentuk penolakan terhadap dirinya.
Ia mungkin terus mengirim pesan ketika tidak mendapat balasan, menelepon berkali-kali, atau membuat seseorang merasa bersalah karena memilih beristirahat. Mindful Center menyebut tuntutan untuk segera merespons pesan atau panggilan, serta mengabaikan kebutuhan seseorang untuk memiliki ruang pribadi, sebagai contoh pelanggaran boundaries.
Kebiasaan ini sering muncul dalam hubungan dekat karena pelakunya merasa kedekatan memberi hak atas akses tanpa batas. Padahal, seseorang tetap membutuhkan waktu untuk bekerja, beristirahat, mengurus keluarga, atau sekadar menenangkan diri.
5. Menggunakan rasa bersalah agar orang lain menuruti keinginannya
Perasaan bersalah dapat menjadi alat yang sangat kuat dalam sebuah hubungan. Orang yang sulit menghargai batas terkadang menggunakannya ketika permintaannya ditolak.
Misalnya, setelah seseorang mengatakan tidak bisa membantu, ia menjawab, "Berarti aku memang tidak penting buat kamu." Dalam situasi lain, ia mungkin mengungkit berbagai kebaikan yang pernah diberikan agar orang tersebut merasa memiliki utang emosional.
Mindful Center menyebut guilt-tripping atau membuat seseorang merasa bersalah agar melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya sebagai salah satu tanda pelanggaran batas emosional. Psych Central juga membahas bagaimana rasa bersalah, ejekan, atau tekanan dapat digunakan untuk membuat seseorang mengubah batas yang sudah ditetapkannya.
Perbedaan pendapat tentu wajar. Namun, memanfaatkan rasa bersalah agar seseorang menyerah bukanlah bentuk komunikasi yang sehat.
6. Terus mengulang perilaku meski sudah diberi tahu
Satu kali melakukan kesalahan belum tentu berarti seseorang tidak menghargai boundaries. Bisa saja ia memang belum memahami batas tersebut atau terjadi miskomunikasi.
Yang perlu diperhatikan adalah polanya. Jika seseorang sudah diberi tahu dengan jelas bahwa suatu tindakan membuat tidak nyaman, tetapi ia terus mengulanginya, persoalannya menjadi berbeda.
Psych Central mengutip sejumlah terapis yang menjelaskan bahwa kebutuhan untuk terus-menerus mempertahankan, menjelaskan, atau membela sebuah batas dapat menjadi tanda bahwa batas tersebut tidak dihormati. Ketika seseorang sudah mengatakan, "Saya tidak nyaman dengan hal itu," tetapi perilaku yang sama tetap dilakukan, komunikasi perlu dievaluasi kembali.
Konsistensi perilaku menjadi penting karena boundaries bukan sekadar permintaan satu kali. Batas pribadi perlu dihormati setelah dikomunikasikan dengan jelas.
Advertisement
7. Menganggap ruang, barang, atau tubuh orang lain sebagai miliknya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2757536/original/013698200_1553159608-lipstick-791761_960_720.jpg)
Boundaries tidak hanya berkaitan dengan perasaan. Ada pula batas fisik dan material yang perlu dihormati.
Contohnya adalah masuk ke kamar seseorang tanpa mengetuk, mengambil barang tanpa izin, membaca pesan di ponsel orang lain, berdiri terlalu dekat meski orang tersebut mencoba menjauh, atau menyentuh tubuh seseorang tanpa persetujuan.
Mindful Center memasukkan tindakan meminjam barang tanpa izin, menyentuh atau memeluk tanpa memastikan kenyamanan, datang ke rumah tanpa diundang, serta membuka ponsel atau pesan pribadi tanpa izin sebagai contoh pelanggaran batas fisik dan privasi.
Kedekatan hubungan tidak otomatis menghapus kebutuhan akan persetujuan. Bahkan dengan keluarga atau pasangan sekalipun, seseorang tetap memiliki hak atas tubuh, barang, ruang, dan privasinya.
8. Marah atau menghukum ketika orang lain mulai menetapkan batas
Kebiasaan terakhir sering kali menjadi bagian yang paling membingungkan. Ketika seseorang akhirnya mulai mengatakan tidak, orang yang selama ini terbiasa mendapatkan akses bebas mungkin justru menjadi marah.
Ia dapat mendiamkan, menyindir, mengeluarkan komentar pasif-agresif, menuduh orang lain berubah, atau mengatakan bahwa hubungan mereka sudah tidak seperti dulu. Psych Central menjelaskan bahwa silent treatment, rasa bersalah, ejekan, dan berbagai tekanan dapat digunakan untuk membuat seseorang kembali melepas batas yang telah dibuat.
Reaksi semacam ini tidak selalu berarti orang tersebut sengaja memanipulasi. Bisa saja ia belum terbiasa menghadapi perubahan pola hubungan atau memiliki pemahaman yang berbeda mengenai kedekatan. Karena itu, konteks dan pola tetap penting diperhatikan.
Namun, seseorang tetap berhak mempertahankan batas yang menurutnya diperlukan.
Menghargai boundaries dimulai dari memahami bahwa setiap orang punya batas
Memahami kebiasaan orang yang sulit menghargai boundaries orang lain bukan berarti langsung memberi label buruk kepada seseorang. Ada kalanya perilaku tersebut muncul karena ketidaktahuan, kebiasaan komunikasi yang berbeda, atau karena batas yang sebelumnya memang belum pernah dibicarakan secara terbuka.
Psych Central menekankan bahwa boundaries pada dasarnya berkaitan dengan diri sendiri. Seseorang tidak dapat mengendalikan perilaku orang lain, tetapi dapat menjelaskan batasnya, menentukan respons, dan mengambil tindakan ketika batas tersebut terus dilanggar.
Whitney Casares, M.D., MPH, dalam Psychology Today juga menjelaskan pentingnya menyampaikan batas secara jelas. Menurutnya, seseorang dapat memahami sudut pandang orang lain terlebih dahulu, menyatakan kebutuhannya dengan tegas, kemudian menjelaskan seperti apa perilaku yang diharapkan ke depannya.
Misalnya, daripada hanya mengatakan, "Jangan menghubungi saya terus," seseorang dapat berkata, "Saya biasanya membutuhkan waktu setelah pulang kerja. Saya akan membalas pesan ketika sudah punya waktu untuk berbicara." Kalimat seperti ini lebih jelas karena menjelaskan batas sekaligus ekspektasi.
Pada akhirnya, menghargai boundaries bukan berarti harus selalu setuju dengan keinginan orang lain. Kita boleh merasa kecewa, memiliki kebutuhan berbeda, atau ingin bernegosiasi. Namun, perbedaan tersebut sebaiknya dibicarakan tanpa memaksa, mempermalukan, atau membuat orang lain merasa bersalah karena memiliki batas.
Pertanyaan Seputar Menghargai Boundaries
1. Apa yang dimaksud dengan boundaries dalam hubungan?
Boundaries adalah batas pribadi yang membantu seseorang menentukan hal-hal yang membuatnya nyaman atau tidak nyaman dalam hubungan. Batas ini dapat berkaitan dengan waktu, ruang fisik, privasi, komunikasi, emosi, tubuh, pekerjaan, maupun barang pribadi.
2. Apakah mengatakan "tidak" berarti tidak menghargai orang lain?
Tidak. Mengatakan "tidak" merupakan bagian dari komunikasi yang sehat. Seseorang dapat menolak permintaan tanpa bermaksud merendahkan atau tidak menghargai orang yang mengajukannya.
3. Bagaimana cara mengetahui seseorang tidak menghargai boundaries?
Perhatikan polanya. Beberapa tanda antara lain terus mengabaikan penolakan, memaksa setelah diminta berhenti, mengecilkan perasaan, membuat rasa bersalah, mengambil barang tanpa izin, atau terus mengulangi perilaku yang sudah dinyatakan tidak nyaman.
4. Apakah boundaries harus selalu dipatuhi tanpa kompromi?
Tidak semua situasi memiliki tingkat kepentingan yang sama. Psych Central menjelaskan bahwa beberapa persoalan dapat dibicarakan dan dinegosiasikan, selama tidak menyangkut keselamatan, integritas, atau batas yang memang tidak dapat dikompromikan oleh seseorang.
5. Bagaimana cara menghargai boundaries orang lain?
Dengarkan ketika seseorang mengatakan tidak nyaman, jangan memaksa, tanyakan persetujuan untuk hal-hal yang bersifat pribadi atau fisik, dan hormati keputusan yang sudah disampaikan. Jika batas tersebut belum jelas, komunikasi terbuka dapat membantu kedua pihak memahami kebutuhan masing-masing.
Â
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4568625/original/044600400_1694172056-callum-shaw-xHNcjqTlk6E-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346747/original/011575700_1789200579-769af8c2-9382-4bf7-ae49-017939f85f2c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346703/original/046546800_1789194940-pempek.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338533/original/056677500_1788332784-b618b66b-65fc-42bb-9d42-897bc214b4c0.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346674/original/054618800_1789192738-Sup_jamur_garlic_bread_enak.jpg)
![Ayam panggang rosemary garlic. [AI Generated]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/Wo7wC-lSsluwI2LX5YR8I-TgrOM=/200x200/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346146/original/077163100_1789112858-c01fccd9-3f67-4d85-ab30-058afb37e50c.jpg)
![Tidak sedikit anak yang tiba-tiba rewel, menangis, marah, atau bahkan mengalami meltdown saat berada di tempat wisata karena kelelahan itu. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/jxPB5TNH0nn8re8DCFOsQg_YQkw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7254711/original/003125400_1780040631-2149599412.jpg)
![Sahabat Fimela, yuk simak tips traveling dengan anak picky eater. [Dok/freepik.com/pvproductions]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/BOaSn6x3gTIoUHDPu2cZgnZ0Cqg=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7255394/original/047151500_1780041531-13552.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569544/original/098163400_1777445637-pexels-luisbecerrafotografo-35659780.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569519/original/039377400_1777444700-pexels-steffan-wiliams-2148064025-30895054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564262/original/049314900_1776931762-flat-lay-hands-holding-notebook-cash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572111/original/028475500_1777774433-pexels-cottonbro-7118214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537423/original/021121200_1774423642-pexels-yankrukov-5791251.jpg)
![Sahabat Fimela, terdepan cara sederhana untuk membersihkan kompor, yaitu dengan menggunakan racikan baking soda dan cuka. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/b5j_UycbiR6Uyj6fghEUoPdfem0=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7163473/original/028995400_1779953328-2148563321.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691408/original/040891300_1778567403-pexels-denisenys-14824327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317739/original/021174400_1786068843-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261782/original/054643400_1750688856-portrait-woman-cooking-home-kitchen-holding-tomatoes-preparing-delicious-fresh-meal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346079/original/053857300_1789109596-pexels-giulianogiudici-18269729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7165470/original/073643600_1779955615-pexels-reneterp-13821255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488589/original/000791000_1769757751-mom-comforting-her-upset-daughter.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5932615/original/009181300_1778830171-little-boy-outdoor-crying.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5570303/original/045253200_1777521902-mom-daughter-making-high-five_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5457158/original/075801100_1766989393-senivpetro.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5289607/original/098662900_1753074718-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_12.09.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1662905/original/003171100_1501352511-Taman_Nasional_Gunung_Gede_Pangrango.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5446609/original/066893700_1765931612-Kapolri_Jenderal_Listyo_Sigit_Prabowo.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3560138/original/068350600_1630651083-20210903-Bus-Sekolah-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/849467/original/025285500_1428837125-Ilustrasi-pembunuhan-wanita-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345296/original/029953500_1789028707-WhatsApp_Image_2026-09-10_at_15.20.35.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339773/original/072587400_1788427751-_NEW___Prime_Video__A_Love_Other_Than_Yours_____Still__20_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346019/original/078918600_1789105437-pexels-nguyen-ngoc-tien-1321490019-32704988.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345921/original/052619300_1789099370-IMG_2536.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5538275/original/050316400_1774509073-pexels-catscoming-1359331.jpg)