Sukses

Lifestyle

Micro-Workout hingga Pilates, Tren Olahraga yang Digemari Gen Z

Fimela.com, Jakarta - Kesibukan kuliah, pekerjaan, hingga aktivitas sosial sering kali membuat olahraga terasa sulit dimasukkan ke dalam jadwal harian. Namun, pilihan olahraga yang semakin beragam membuat anak muda bisa menemukan aktivitas fisik yang sesuai dengan waktu dan kebutuhan masing-masing. Di Jakarta, micro-workout hingga Pilates bisa menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin tetap aktif di tengah rutinitas perkotaan.

Dilansir dari The Gym Group, sebanyak 73 persen responden Gen Z berusia 16–28 tahun mengaku berolahraga setidaknya dua kali seminggu. Laporan tersebut juga mencatat bahwa latihan kekuatan dan lari di luar ruangan menjadi pilihan populer, sementara Pilates, yoga, serta latihan berintensitas tinggi turut diminati. Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan olahraga generasi muda hadir dalam berbagai bentuk, tidak terbatas pada satu jenis latihan saja.

Bagi Sahabat Fimela yang sulit meluangkan waktu untuk berolahraga lama, micro-workout bisa menjadi alternatif. Konsep ini mengacu pada sesi latihan singkat yang dapat disisipkan di sela-sela aktivitas, misalnya melakukan squat, push-up sesuai kemampuan, atau berjalan kaki selama beberapa menit.

Keunggulannya terletak pada fleksibilitas. Latihan singkat bisa dilakukan di rumah sebelum berangkat kuliah, saat jeda bekerja, atau setelah menyelesaikan pekerjaan. Durasi dan gerakannya dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh.Meski singkat, latihan tetap perlu dilakukan dengan teknik yang tepat. Yang terpenting bukan memaksakan diri mengikuti tren, melainkan menemukan cara bergerak yang realistis dan bisa dijalani secara konsisten.

Pilates hingga Strength Training, Ini Pilihan Olahraga yang Bisa Dicoba Gen Z

  • Pilates untuk Gerakan yang Lebih Terkontrol

Pilates menjadi salah satu pilihan bagi mereka yang ingin melatih kekuatan otot inti, keseimbangan, fleksibilitas, serta koordinasi tubuh. Gerakannya cenderung terkontrol dan melibatkan pengaturan napas, sehingga latihan ini juga mengajak peserta lebih memperhatikan postur dan cara tubuh bergerak. Kalian bisa mencoba Pilates mat yang menggunakan matras sebagai alas, atau reformer Pilates yang memanfaatkan alat dengan sistem pegas untuk memberikan resistansi. Keduanya memiliki karakteristik berbeda, sehingga pilihan dapat disesuaikan dengan kenyamanan, kebutuhan, dan arahan instruktur.

  • Strength Training untuk Membangun Kekuatan

Bagi yang ingin mencoba tantangan berbeda, strength training atau latihan kekuatan bisa menjadi pilihan. Latihan ini dapat dilakukan menggunakan dumbbell, resistance band, mesin gym, maupun berat tubuh sendiri. Gerakannya bisa mencakup squat, lunge, dan latihan untuk otot tubuh bagian atas. Selain membantu meningkatkan kekuatan, latihan yang terencana juga dapat mendukung aktivitas sehari-hari, seperti mengangkat barang atau menaiki tangga. Untuk pemula, sebaiknya mulai dengan beban dan intensitas yang sesuai kemampuan. Teknik gerakan perlu diprioritaskan sebelum menambah beban atau jumlah repetisi.

  • Running untuk yang Suka Beraktivitas di Luar Ruangan

Lari juga bisa menjadi pilihan bagi anak muda yang ingin bergerak sambil menikmati suasana luar ruangan. Tidak harus langsung menargetkan jarak jauh, kalian bisa memulai dengan kombinasi jalan kaki dan lari ringan sesuai kemampuan.

Apa pun pilihannya, tidak ada satu jenis olahraga yang wajib dilakukan semua orang. Menyesuaikan latihan dengan kondisi tubuh, waktu, dan preferensi pribadi dapat membantu olahraga terasa lebih menyenangkan dan berkelanjutan.

Biar Olahraga Tidak Cuma Jadi Tren, Ini Cara Gen Z Menjaga Konsistensi

Melihat konten olahraga di media sosial terkadang membuat seseorang ingin langsung mencoba berbagai latihan sekaligus. Namun, memulai dengan terlalu banyak target justru bisa terasa melelahkan. Kalian dapat memulainya dengan menentukan jadwal sederhana, misalnya berjalan kaki selama beberapa menit atau melakukan latihan ringan di rumah. Jika sudah terbiasa, durasi dan intensitas latihan bisa ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan. Tidak perlu merasa tertinggal hanya karena orang lain mampu berolahraga lebih lama atau lebih sering. Setiap orang memiliki kondisi tubuh, kesibukan, dan proses adaptasi yang berbeda.

Salah satu cara agar tidak mudah bosan adalah memilih aktivitas yang benar-benar disukai. Jika senang mendengarkan musik sambil bergerak, latihan di rumah bisa menjadi pilihan. Jika lebih menikmati suasana ramai, kelas Pilates, gym, atau kegiatan olahraga bersama teman mungkin terasa lebih menarik. Mengajak teman juga bisa membuat jadwal olahraga terasa seperti kegiatan sosial, bukan sekadar kewajiban. Namun, pastikan pilihan latihan tetap sesuai kemampuan masing-masing dan tidak berubah menjadi ajang membandingkan tubuh atau pencapaian.

Rutinitas olahraga yang baik tidak hanya tentang seberapa sering tubuh bergerak. Istirahat, tidur cukup, asupan makanan bergizi, dan hidrasi juga berperan dalam mendukung pemulihan setelah latihan. Jika tubuh terasa sangat lelah atau mengalami nyeri yang tidak biasa, kurangi intensitas dan beri waktu untuk pulih. Konsistensi bukan berarti harus memaksakan diri setiap hari, melainkan mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.

Pada akhirnya, micro-workout, Pilates, strength training, maupun lari menawarkan cara berbeda untuk tetap aktif. Tidak harus mencoba semuanya sekaligus. Mulailah dari aktivitas yang paling nyaman, lalu bangun rutinitas secara perlahan agar olahraga menjadi bagian dari gaya hidup, bukan hanya tren sesaat.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading