Fimela.com, Jakarta - Media sosial membuat tren datang dan pergi dalam waktu singkat. Hari ini orang ramai membeli barang tertentu, besok mencoba gaya berpakaian yang viral, lalu beralih mengikuti tantangan atau kebiasaan baru yang sedang populer. Tanpa disadari, sebagian orang ikut melakukan hal serupa meski awalnya tidak memiliki ketertarikan khusus.
Fenomena ini sering disebut latah mengikuti tren. Ada yang melakukannya karena benar-benar tertarik, ingin mencari pengalaman baru, atau sekadar bersenang-senang. Namun, ada pula yang merasa harus ikut agar tidak dianggap ketinggalan zaman, kehilangan kesempatan, atau tersisih dari lingkungan pergaulan.
Salah satu hal yang mungkin berperan adalah fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan takut melewatkan pengalaman, informasi, atau sesuatu yang dianggap penting oleh orang lain. Meski begitu, tidak semua orang yang mengikuti tren mengalami FOMO. Lantas bagaimana saja ciri orang yang sering latah ikut tren media sosial? Melansir dari berbagai sumber, Minggu (25/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
Advertisement
1. Merasa Harus Ikut Tren agar Tidak Ketinggalan Zaman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370499/original/064138400_1791631392-pexels-ron-lach-8396312.jpg)
Salah satu ciri orang yang sering latah ikut tren media sosial adalah merasa tidak nyaman ketika melihat banyak orang membicarakan sesuatu yang sedang viral, sementara dirinya belum ikut mencoba. Misalnya, ketika sebuah produk kecantikan ramai diperbincangkan, tempat nongkrong tertentu mendadak populer, atau gaya berpakaian tertentu menjadi tren, muncul dorongan untuk segera mengikutinya.
Dorongan tersebut terkadang bukan muncul karena benar-benar membutuhkan produk atau menyukai tren itu. Ada kekhawatiran bahwa dirinya akan kesulitan mengikuti percakapan, dianggap kurang kekinian, atau tidak nyambung saat berinteraksi dengan teman-teman. Akhirnya, mengikuti tren terasa seperti sebuah keharusan agar tetap menjadi bagian dari lingkungan sosial.
Dalam psikologi, perasaan takut tertinggal dari pengalaman yang dinikmati orang lain berkaitan dengan FOMO. Kajian dari Laboratorium Psikologi Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa FOMO dapat membuat seseorang merasa harus terus memantau media sosial karena khawatir melewatkan informasi atau tren terbaru.
2. Mudah Tergoda Membeli Barang yang Sedang Viral
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355482/original/080287700_1790133337-21956.jpg)
Pernah membeli barang hanya karena produk tersebut muncul berkali-kali di TikTok atau Instagram? Kebiasaan ini bisa menjadi salah satu tanda bahwa tren media sosial mulai memengaruhi keputusan belanja. Produk yang awalnya tidak menarik perhatian mendadak terasa penting setelah melihat banyak orang menggunakannya atau memberikan ulasan positif.
Misalnya, seseorang membeli botol minum populer, aksesori, pakaian, atau perlengkapan rumah tangga yang sedang ramai diperbincangkan. Padahal, barang serupa sudah dimiliki dan masih berfungsi dengan baik. Keinginan membeli pun lebih didorong oleh popularitas produk daripada kebutuhan sebenarnya.
Meski begitu, membeli barang viral bukan berarti seseorang pasti mengalami FOMO. Bisa saja produk tersebut memang berkualitas atau sesuai kebutuhan. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah keputusan belanja masih didasarkan pada pertimbangan pribadi atau justru muncul karena takut kehabisan kesempatan dan ingin segera memiliki sesuatu yang juga dimiliki orang lain.
Advertisement
3. Sering Membandingkan Diri dengan Kehidupan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5227871/original/002379100_1747824523-steptodown.com805171.jpg)
Orang yang mudah terbawa tren terkadang menjadikan unggahan media sosial sebagai tolok ukur untuk menilai kehidupannya sendiri. Ketika melihat orang lain memakai barang baru, berlibur ke tempat populer, mengikuti gaya hidup tertentu, atau mencapai pencapaian yang mengesankan, ia mulai merasa kehidupannya kurang menarik.
Perbandingan tersebut bisa membuat seseorang terus mencari hal baru untuk diikuti. Jika teman-temannya mulai berolahraga dengan metode tertentu, ia merasa perlu melakukannya juga. Ketika orang-orang di sekitarnya mengikuti tren gaya hidup sehat, ia mungkin merasa tertinggal jika belum melakukan hal serupa.
Menurut penjelasan psikolog dari Cleveland Clinic, kebiasaan membandingkan diri dengan apa yang ditampilkan di media sosial dapat memengaruhi harga diri. Sebab, unggahan yang terlihat menarik sering kali hanya menampilkan sisi tertentu dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan kenyataan yang dijalaninya.
Karena itu, penting untuk mengingat bahwa apa yang terlihat di layar bukan ukuran mutlak keberhasilan atau kebahagiaan. Setiap orang memiliki kondisi, kebutuhan, kemampuan finansial, dan prioritas yang berbeda. Tidak semua hal yang terlihat menarik bagi orang lain harus menjadi bagian dari kehidupan kita.
4. Sulit Menolak Ajakan Teman atau Tekanan Lingkungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447450/original/042110100_1765956855-pexels-koolshooters-7330336.jpg)
Ciri berikutnya adalah sulit mengatakan tidak ketika lingkungan pertemanan sedang ramai mengikuti tren tertentu. Seseorang mungkin sebenarnya tidak tertarik dengan tantangan viral, tidak menyukai gaya berpakaian yang sedang populer, atau tidak ingin mengunjungi tempat yang sedang ramai. Namun, ia tetap ikut karena khawatir dianggap tidak seru atau takut kehilangan kedekatan dengan kelompoknya.
Situasi ini bisa muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, ikut membeli pakaian dengan model yang sama seperti teman-temannya, mencoba tren yang sebenarnya membuat tidak nyaman, atau mengeluarkan uang lebih banyak demi mengikuti kegiatan yang sedang populer. Keputusan tersebut lebih banyak dipengaruhi keinginan untuk diterima daripada kemauan pribadi.
Keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok merupakan hal yang wajar. Namun, penerimaan sosial tidak seharusnya mengharuskan seseorang mengabaikan batasan pribadi. Mengikuti kegiatan bersama teman boleh saja, selama keputusan tersebut tetap sesuai dengan kenyamanan, kemampuan, dan prinsip yang diyakini.
Advertisement
5. Terus Memantau Media Sosial agar Tidak Ketinggalan Tren
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381459/original/092565300_1792819492-pexels-ketut-subiyanto-5050181.jpg)
Apakah kamu merasa harus membuka media sosial berkali-kali dalam sehari karena takut ada tren baru yang terlewat? Kebiasaan ini juga bisa menjadi petunjuk bahwa aktivitas online mulai mengambil porsi terlalu besar dalam keseharian.
Seseorang mungkin terus memeriksa notifikasi, menggulir linimasa sebelum tidur, atau membuka aplikasi segera setelah bangun pagi. Bahkan, ketika sedang bekerja, belajar, atau berkumpul bersama keluarga, pikirannya masih tertuju pada apa yang sedang ramai di internet. Ia merasa perlu selalu mengetahui informasi terbaru agar tidak tertinggal dari percakapan orang lain.
Laboratorium Psikologi Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa FOMO dapat ditandai dengan dorongan untuk terus memeriksa media sosial dan kegelisahan ketika tidak terhubung. Kebiasaan ini perlu diperhatikan apabila mulai mengganggu konsentrasi, waktu istirahat, atau interaksi langsung dengan orang lain.
Bukan berarti setiap orang yang sering membuka media sosial mengalami FOMO. Sebagian orang memang menggunakannya untuk bekerja, mencari informasi, atau berkomunikasi. Hal terpenting adalah melihat apakah penggunaan tersebut masih bisa dikendalikan atau justru terasa seperti dorongan yang sulit dihentikan.
6. Cepat Beralih ke Tren Baru sebelum Menikmati Tren Sebelumnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380687/original/027131300_1792731663-three-elegant-women-with-shopping-bags-city.jpg)
Ciri terakhir adalah mudah kehilangan minat pada sesuatu begitu popularitasnya mulai menurun. Hari ini seseorang sangat bersemangat mencoba hobi baru yang viral, tetapi beberapa minggu kemudian meninggalkannya setelah muncul tren lain yang dianggap lebih menarik.
Sebagai contoh, ia membeli perlengkapan untuk hobi tertentu karena banyak kreator membicarakannya. Setelah tren tersebut mereda, perlengkapan itu justru tersimpan tanpa digunakan. Tidak lama kemudian, ia kembali mengeluarkan uang untuk mengikuti tren berbeda yang muncul di linimasa.
Pola ini tidak selalu menunjukkan masalah. Mencoba banyak hal baru bisa menjadi cara untuk menemukan minat dan mengembangkan diri. Namun, jika kebiasaan tersebut terus berulang hingga menghabiskan uang, menumpuk barang yang tidak terpakai, atau membuat seseorang kesulitan mempertahankan kegiatan yang benar-benar disukai, ada baiknya ia mengevaluasi alasan di balik setiap keputusan.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah tren ini memang menarik bagi saya, atau saya hanya tertarik karena banyak orang membicarakannya? Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantu membedakan keinginan pribadi dari dorongan sesaat akibat paparan media sosial.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Ciri Orang yang Sering Latah Ikut Tren Media Sosial
1. Apa yang dimaksud dengan latah ikut tren media sosial?
Latah ikut tren media sosial adalah kebiasaan mengikuti sesuatu yang sedang populer tanpa selalu mempertimbangkan minat, kebutuhan, atau alasan pribadi. Kebiasaan ini bisa dipengaruhi rasa ingin tahu, tekanan sosial, maupun FOMO.
2. Apakah orang yang sering mengikuti tren pasti mengalami FOMO?
Tidak. Seseorang bisa mengikuti tren karena memang menyukainya atau ingin mencoba hal baru. FOMO lebih berkaitan dengan perasaan takut tertinggal dari pengalaman, informasi, atau aktivitas yang dinikmati orang lain.
3. Apa penyebab seseorang mudah FOMO?
FOMO dapat berkaitan dengan kebutuhan untuk merasa terhubung, keinginan diterima dalam kelompok, kebiasaan membandingkan diri, serta paparan terhadap unggahan media sosial yang membuat kehidupan orang lain terlihat lebih menarik.
4. Apakah mengikuti tren media sosial selalu berdampak buruk?
Tidak. Tren bisa memberi inspirasi, memperkenalkan hobi baru, dan membantu seseorang terhubung dengan komunitas. Dampaknya perlu diperhatikan jika kebiasaan tersebut menimbulkan tekanan, pengeluaran berlebihan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
5. Bagaimana cara agar tidak mudah terbawa tren viral?
Biasakan memeriksa alasan sebelum mengikuti tren, sesuaikan keputusan dengan kebutuhan dan anggaran, batasi waktu di media sosial, serta ingat bahwa kamu tidak harus melakukan semua hal yang dilakukan orang lain.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381900/original/053497500_1792908183-Gemini_Generated_Image_dk63vodk63vodk63.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381964/original/076816300_1792913667-ye-live-in-jakarta-pengalaman-imers-3-fa3ca.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3609985/original/085125800_1634888392-pexels-photo-4866043.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381459/original/092565300_1792819492-pexels-ketut-subiyanto-5050181.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381494/original/033302400_1792822612-man-woman-calculating-domestic-budget-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4948537/original/079557100_1726804807-pexels-hiday-t-i-sg-nd-rsoy-1178625345-23092150.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572813/original/016259900_1777870791-medium-shot-kid-with-tablet-plane_1_.jpg)
![Tidak sedikit anak yang tiba-tiba rewel, menangis, marah, atau bahkan mengalami meltdown saat berada di tempat wisata karena kelelahan itu. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/jxPB5TNH0nn8re8DCFOsQg_YQkw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7254711/original/003125400_1780040631-2149599412.jpg)
![Sahabat Fimela, yuk simak tips traveling dengan anak picky eater. [Dok/freepik.com/pvproductions]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/BOaSn6x3gTIoUHDPu2cZgnZ0Cqg=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7255394/original/047151500_1780041531-13552.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569544/original/098163400_1777445637-pexels-luisbecerrafotografo-35659780.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569519/original/039377400_1777444700-pexels-steffan-wiliams-2148064025-30895054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564262/original/049314900_1776931762-flat-lay-hands-holding-notebook-cash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8673798/original/057009200_1782714868-IMG_1232.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379363/original/097715300_1792594745-people-meeting-barter-event-exchange-goods.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4847216/original/065253100_1717033085-pexels-liza-summer-6347538.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537423/original/021121200_1774423642-pexels-yankrukov-5791251.jpg)
![Sahabat Fimela, terdepan cara sederhana untuk membersihkan kompor, yaitu dengan menggunakan racikan baking soda dan cuka. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/b5j_UycbiR6Uyj6fghEUoPdfem0=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7163473/original/028995400_1779953328-2148563321.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501289/original/065172500_1770892932-medium-shot-woman-working-from-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441751/original/077518700_1765516997-medium-shot-woman-girl-playing-memory-game.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5547486/original/041802400_1775460284-prostooleh.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314373/original/019217700_1785744561-pexels-dmitry-rodionov-30680377.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354984/original/074492100_1790068177-pexels-pavel-danilyuk-7938005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496723/original/082498100_1688964288-sylwia-bartyzel-m7HrMJJ0bW0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321823/original/039525400_1786505831-pal3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7186959/original/042884900_1779983531-IMG_0027.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381242/original/001440900_1792772123-IMG_0465.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377611/original/065727200_1792471085-IMG_5844.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381217/original/038803100_1792767568-Screenshot__381_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381216/original/013515900_1792767021-WhatsApp_Image_2026-10-23_at_21.38.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381964/original/076816300_1792913667-ye-live-in-jakarta-pengalaman-imers-3-fa3ca.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8673798/original/057009200_1782714868-IMG_1232.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381034/original/005594700_1792750620-beautiful-asian-woman-applying-makeup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2556406/original/044314600_1545825364-Guilherme_Stecanella.jpg)