Sukses

Parenting

Waspada Moms, Ini Alasan Mengapa Balita Sering Sekali Sakit

Tak dapat dipungkiri lagi, sebagai orangtua kita pasti cemas jika anak sakit. Apalagi ketika anak sering sekali sakit, biasanya kondisi anak akan sangat lemas, dan anak sering sekali terkena penyakit pada usia 0-2 tahun.

Lalu apakah masih di tahap wajar jika anak usia tersebut sering sekali sakit? Dokter spesialis anak, dr. Herbowo Agung Soetomenggolo, SpA, menjelaskan bahwa seorang anak dapat dikategorikan sakit yang dianggap wajar apabila anak tidak sakit lebih dari 12 kali dalam setahun. Ini karena sistem imun yang berkembang sempurna sehingga rentan terkena dan bakteri.

Sakit ringan pada anak yaitu dengan jarak waktu sekitar dua bulan, lalu ketika anak sakit tidak mengalami durasi yang panjang, misalnya hari terjadi 3-7 hari. Kondisi anak yang harus dikhawatirkan adalah ketika anak bolak-balik sakit, bahkan dalam satu bulan dapat mengalami 2-3 kali sakit.

Sakit yang dialami anak dapat terjadi karena flu, diare atau pun batuk. Meskipun penyakit ini umum dialami oleh anak-anak akan tetapi apabila sering terjadi harus dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi anak.

"Jika dalam setahun anak sakit lebih dari 12 kali patut dicurigai, karena pilek bisa jadi awal dari ciri-ciri penyakit berbahaya. Sesak dan dehidrasi pada anak pun harus hati-hati,"ungkapnya.

Untuk itu anak perlu diberikan imunisasi, menjaga pencernaan, mengonsumsi makanan untuk meningkatkan daya tubuh seperti makanan yang mengandung vitamin C dan E. Hal terpenting lainnya adalah menjaga pola hidup sehat seperti berolahraga, serta menjauhkan si kecil dari asap rokok.

"Sebaiknya kalau orangtuanya merokok, tidak boleh sama sekali mendekat pada anak, apalagi menciumnya. Sebab kuman di tenggorokan sehabis merokok akan menular pada anak dan menjadi masalah serius bagi anak. Cuci muka atau mandi, ganti baju bagi para orangtua yang merokok jika ingin bertemu anaknya. Namun, disarankan sebaiknya tidak merokok jika memiliki anak kecil," tutupnya.

(vem/asp/feb)
Loading
Artikel Selanjutnya
Kapan Bumbu Masakan Bisa Ditambahkan pada Makanan Anak?