Sukses

Parenting

Cara mencegah Kematian Pada Ibu Hamil Kata Kementerian Kesehatan

Kejadian ibu hamil yang meninggal dunia saat masa kehamilannya atau ketika ibu melahirkan masih sering terjadi di Indonesia.

Direktur Kesehatan Keluarga dari Kementerian Kesehatan RI, Eni Gustina, MPH, mengatakan daerah timur Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua menjadi daerah tertinggi kematian ibu hamil. Eni pun menambahkan, ada beberapa penyebab kematian pada ibu hamil diantaranya, pendarahan, hipertensi, dan penyebab lainnya seperti infeksi.

“Hipertensi menyumbang 31 persen penyebab ibu hamil. Serta faktor lainnya seperti ada TBC, diabetes, atau jantung,” ujar Eni saat ditemui dalam acara penandatangan MoU antara PP Muslimat NU-YAICI tentang Edukasi Masyarakat Bijak Menggunakan SKM di Jakarta, Senin, (30/7).

Lebih lanjut, Eni menyampaikan pendarahan pada ibu hamil erat kaitannya dengan ibu yang kekurangan darah, sebab plasenta menempel terlalu dalam. Serta kehamilah muda juga berrisiko menyebabkan kematian ibu hamil.

Selain itu, masih banyak faktor ibu bermasalah pada kehamilan, seperti penyebab gizi, serta gander. Gander yang dimaksud adalah seorang ibu tidak berani mengambil keputusan.

Oleh karenanya, Eni mengatakan deteksi risiko sedini mungkin sangat penting. Seperti, ibu hamil rajin untuk memeriksakan kandungan dan kesehatannya di tenaga medis.

“Seorang ibu bisa mendeteksi gejala yang tidak diinginkan seperti periksa secara rutin ke dokter kandungan atau bidan. Jadi kalau tahu ada masalah saat kehamilan, ibu bisa langsung mecegahnya dengan diobati,” paparnya.

World Health Organization (WHO) menyarankan untuk mendeteksi risiko masalah kehamilan sebanyak delapan kali. Namun, menurut Eni, di Indonesia baru menerepan empat kali deteksi masalah kehamilan.

“Karena kurangnya akses dan tenaga kerja kita baru sanggup empat kali deteksi. Sebab, saat pendarahan saja membutuhan waktu yang cepat untuk ditangani,” paparnya.

Bukan hanya itu, Eni menyarankan setelah melahirkan sebaiknya langsung menggunakan KB intrauterine device (IUD).

“Risiko kematian terrendah bila ibu memiliki jarak kelahiran 4-5 tahun setelah melahirkan. Sebaiknya pakai KB IUD, karena KB suntik atau pil memiliki risiko tinggi,” tutupnya.

(vem/asp)
Loading
Artikel Selanjutnya
Agar Perasaan Makin Bahagia, Ini 4 Makanan Sebaiknya Kamu Konsumsi
Artikel Selanjutnya
Ibu Hamil Positif Hepatitis B, Begini Cara Menanganinya!