Sukses

Relationship

Saat Suami Istri Punya Gaji Sendiri, Jangan Menuruti Ego Hingga Saling Menghakimi

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

***

Oleh: Fuji Lindya

Dunia kampus membuka pikiranku. Kesempatan menempuh pendidikan di bangku kuliah mengajarkanku memandang kehidupan dari berbagai sudut pandang. Proses pendewasaanku dipengaruhi banyak oleh pengalaman yang  hadir di masa ini.  Bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang tak kalah memberi banyak pelajaran. Sukses dan mandiri tak hanya milik laki-laki, para wanita juga berhak untuk sukses dan mandiri.

Semenjak saat itu, aku bertekad dan berjuang untuk menjadi wanita yang mandiri lagi berhasil. Wanita tangguh yang mampu menghidupi dirinya sendiri dan tak terus bergantung dengan orang lain. Berbekal ilmu dan pengalaman yang diperoleh di kampus, aku mulai langkah ini. Berbuat hal yang berarti untuk jadi orang berhasil.

Aku memutar otak apa yang bisa dilakukan untuk menghasilkan pendapatan. Langkah nyatanya dimulai dari  berjualan kecil-kecilan, kemudian bekerja di suatu perusahaan sampai bisa memiliki usaha yang dikelola sendiri.

Tak ada yang sia-sia dari setiap hal yang dilakukan. Meskipun tak sempurna dan melalui jalan berliku, nyatanya aku bisa hidup dengan hasil yang aku kerjakan. Bahkan dari pendapatan yang aku dapatkan masih ada sisa untuk diberikan kepada orang lain. Pada tahap ini aku berhasil menjadi wanita mandiri.

Aku dan Keluarga Kecilku

Jadi wanita mandiri tak berarti memuluskan semua jalan kehidupan. Aku pikir dengan aku menjadi wanita berhasil dan mandiri, kehidupan keluarga kecil yang aku bangun akan berjalan mulus. Sama-sama punya penghasilan dan kehidupan yang cukup antara aku dan pasangan akan menghindari banyak konflik dalam rumah tangga. Sehingga jalannya kehidupan berumah tangga akan fokus ke tujuan yang lebih besar.

Tetapi kenyataan yang ada dan dialami tidak demikian, konflik dalam rumah tanggaku tetap ada dan terjadi. Permasalahannya memang bukan ekonomi. Tapi karena urusan dan bidang yang lain.

Sama-sama merasa punya peran besar dalam keluarga membuat ego tumbuh subur di antara aku dan pasangan. Ujungnya sikap saling menuntut untuk saling mengerti dan dimengerti tak segera usang. Alhasil keributan dan cekcok sering kali muncul disebabkan oleh hal yang sepele.

Hidup dengan penuh konflik aku jalani beberapa bulan dalam usia perjalanan rumah tanggaku. Keadaan ini bukan keadaan hubungan yang baik dan sehat. Apa enaknya hidup bersama namun selalu ribut dan tak tenang? Tentu tidak ada enaknya. Aku pun tak mau berlama-lama hidup dalam situasi di atas.

Mencari Solusi

Aku dan suami tak membiarkan begitu saja terhadap realitas rumah tangga yang sakit tersebut. Beberapa kali dilakukan duduk berdua dan berbicara dari hati ke hati untuk memperbaiki keadaan. Bukan tanpa hasil, beberapa hari pasca saling diskusi memang lumayan agak tenang dilalui. Damai dan saling mengerti. Namun tak berlangsung lama, setelah itu kembali lagi ke masa yang penuh konflik.

Rumah tangga berantakan bukanlah impianku. Begitu juga suamiku tak ingin terjadi perpisahan dalam rumah tangga yang sedang dibangun. Hal yang dilakukan selanjutnya menemui pihak ke tiga untuk melihat masalah keluargaku dari susut pandang lain dan memberikan solusi untuk kebaikan bersama.

Seseorang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan banyak tentang kehidupan rumah tangga. Beliau juga sudah dikenal sebagai tokoh masyarakat. Aku dan suami memilih untuk menemui beliau. Kemudian dibuatlah janji untuk bertemu dan berkonsultasi.

Hasil pertemuan tersebut beberapa hal terlihat untuk dievaluasi. Sementara beberapa poin lain disepakati untuk dilakukan. Tujuannya tentu untuk kebaikan agar mampu mengantarkan kehidupan keluarga yang berjalan damai dan berkualitas.

Salah satu hal tersebut yaitu adanya hak dan kewajiban yang belum ditunaikan sebagaimana mestinya. Suami dan istri itu bukan dua orang yang sama berkumpul jadi satu. Jadi aku dan suamiku itu dua orang yang berbeda dan berkomitmen bersama untuk mencapai suatu tujuan di depan. Karena itu aku dan suami harus paham akan posisi dan perannya masing-masing, hak dan kewajibannya dalam membangun rumah tangga ini.

Dengan saling memahami porsi peran dan tugasnya masing-masing diharapkan akan menurunkan ego yang tinggi. Tidak lagi bertabrakan kepentingan di tengah jalan dalam melakukan sesuatu hal. Tetapi bisa saling mengerti dan melengkapi dalam kerja sama untuk mencapai tujuan berumah tangga dapat tercapai.

Semenjak itu aku dan suami terus berusaha memperbaiki diri dan sampai kapan pun masih terus berproses untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

#ElevateWomen

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading