Sukses

Update

Cetak Sejarah, Laurel Hubbard Jadi Atlet Transgender Pertama di Olimpiade

Fimela.com, Jakarta Laurel Hubbard, atlet Selandia Baru mencetak sejarah baru di Olimpiade Tokyo 2020. Dia menjadi atlet transgender pertama yang berkompetisi di ajang Olimpiade, Senin (02/08/2021).

Laurel Hubbard mentas di Olimpiade Tokyo pada cabang olahraga (cabor) angkat besi. Hubbard tampil di nomor +87 kg putri. Dalam kelas tersebut, Hubbard turut bersaing dengan lifter asal Indonesia, Nurul Akmal.

Kehadiran sosok Hubbard sempat diperkirakan banyak orang akan mendapat medali, mengingat statusnya yang merupakan transgender. Tetapi, dia gagal memenuhi ekspektasi tersebut.

Hubbard sebenarnya bukan satu-satunya transgender yang terlibat di Olimpiade Tokyo. Namun, ia paling disorot karena masuk daftar penantang medali di angkat besi meski sempat absen bertahun-tahun.

Diketahui, Hubbard sebelumnya telah bertanding di kompetisi putra sebelum memutuskan menjadi transgender di tahun 2012.

Gagal memenuhi ekspektasi

Atlet berusia 43 tahun itu tidak dapat menstabilkan beban 120 kg di atas kepalanya. Setelahnya, dia juga mengalami dua kali kegagalan pada berat yang sama yakni 125 kg.

Medali emas pun diraih lifter China, Li Wenwen yang mengumpulkan total Angkatan seberat 320kg yang terdiri dari 140 kg angkatan snatch dan 180 kg di angkatan clean and jerk.

Sementara medali perak diraih lifter Britania Raya Emily Jade Campbell disusul Sarah Robes dari Amerika Serikat sebagai peraih perunggu. Posisi Hubbard juga masih kalah dari Nurul Akmal yang mampu finis di lima besar.

Meski demikian, Hubbard tetap menebar senyum karena mengukir sejarah besar dalam hidupnya. Namanya tercatat dalam buku sejarah sebagai pelopor atlet transgender di Olimpiade.

Sempat tuai kontroversi

Mengutip dari BBC, partisipasi Hubbard dalam kompetisi sebelumnya juga sempat memicu kontroversi. Pada tahun 2019 ia memenangkan medali emas di Pacific Games di Samoa, mengalahkan seorang atlet dari negara tuan rumah, yang memicu kemarahan.

Begitu pula pada ajang Olimpiade Tokyo. Keikutsertaanya sempat tuai kontroversi dan menjadi perbincangan publik. Lifter Belgia, Anna Vanbellinghen merupakan salah satu yang menentang partisipasi Hubbard di ajang bergengsi tersebut.

“Siapa pun yang telah melatih cabor angkat besi tahu, bahwa fisik kedua gender (laki-laki dan perempuan) jelas berbeda. Situasi ini tidak adil untuk olahraga dan atlet putri yang berlaga,” ujar Anna, dikutip dari Daily Star.

Namun sebenarnya, Hubbard telah memenuhi syarat untuk bertanding di Olimpiade sejak tahun 2015. Saat itu, IOC (International Olympic Committee) pertama kalinya mengizinkan atlet transgender berlaga di ajang Olimpiade.

IOC mengizinkan peserta transgender jika kadar testosterone mereka di bawah 10 nanomol per liter selama setidaknya satu tahun sebelum kompetisi dihelat.

 

Menginspirasi komunitas transgender

Meski tak berhasil membawa medali, Hubbard bersyukur atas kesempatan yang diberikan oleh IOC untuk mewakili bangsanya di panggung besar dunia. Hubbard berharap partisipasinya akan menjadi awal dari sesuatu yang positif bagi komunitas transgender.

"Apa yang saya harapkan adalah, jika saya dalam posisi untuk melihat ke belakang bahwa ini hanya akan menjadi bagian kecil dari sejarah, hanya sebuah langkah kecil,” ujar Hubbard.

“Sebaliknya saya berharap hanya dengan berada di sini, saya dapat memberikan dorongan semangat,”

"Dan saya hanya berharap bahwa orang-orang yang berbeda yang sedang mengalami kesulitan atau perjuangan dengan hidup mereka bahwa mereka mungkin dapat melihat bahwa ada peluang di dunia,” tutupnya.

 

#Elevate Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Kasur Atlet Olimpiade Tokyo 2020 Digunakan Kembali oleh Pasien COVID-19
Artikel Selanjutnya
Apresiasi Atlet Berprestasi-Pelatih Olimpiade Tokyo 2020 Diganjar Rp1,3 Miliar