Eksklusif, Indro Warkop dan Transfer Kebaikan

Edy Suherli diperbarui 15 Jun 2015, 08:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Dunia lawak sudah dilakoni Indro Warkop  sejak belia. Saat sekarang usianya sudah tak bisa dibilang muda lagi, ia ingin berbagi kebaikan pada  juniornya di dunia entertainmen dan juga publik secara keseluruhan. Namun, pemilik nama lengkap Indrodjojo Kusumonegoro ini tak berani menyuruh orang lain berbuat kebaikan, yang bisa dia lakukan adalah memberikan contoh. Dari sana dia berharap transfer kebaikan itu bisa terjadi.

***

Pria kelahiran, Jakarta 8 Mei 1958 ini melambung namanya bersamaan dengan besarnya nama Warkop DKI, sebuah group lawak yang awalnya beranggotakan Nanu Mulyono, Rudy Badil, Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro). Namun, belakangan hanya tiga orang yang bertahan; Dono, Kasino, dan Indro.

Tak hanya besar di panggung lawak, ketiganya juga eksis dengan film-film komedi khas Warkop. Di era 1980-an film-film Warkop selalu hadir saat Lebaran. Libur Lebaran dinikmati dengan menonton film terbaru yang dibintangi oleh Trio Warkop dan tentunya cewek-cewek cantik sebagai bintang tamu. Ketika Dono dan Kasino harus menghadap Sang Khalik, tinggal Indro sendirian. Indro pun kemudian bersolo karier sampai saat ini.

Baca juga: Wawancara Indro Warkop, Masih Eksis Setelah 36 Tahun Main Film

Indro tak hilang akal meski kedua sahabatnya sudah mendahului. Ia berkolaborasi dengan pelawak-pelawak muda. Salah satu kiprahnya yang masih terlihat adalah terlibat aktif lewat acara Stand up Comedy. Pak De, begitu ia sering disapa para juniornya, memiliki wadah baru yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk transfer kebaikan.

Selain di acara reality competition show itu, Indro terlibat juga dalam sebuah film komedi berjudul Comic 8: Casino Kings yang merupakan sekuel dari Comic 8. Di film ini Indro beradu akting dengan para juniornya. “Buat saya tidak ada kata mati untuk urusan berkarya. Usia boleh tua, namun berkarya jalan terus. Dulu saya berpartner dengan kolega saya seperti almarhum Dono dan Kasino, sekarang partner saya yang komedian-komedian muda itu,” tegasnya.

Lihat juga: Indro Warkop & Comic 8: Casino Kings

Indro bicara banyak hal, seperti apa transfer kebaikan pada junior, kepada Edy Suherli, Fathan Rangkuti, dan Nizar Zulmi berbagi cerita saat ditemui di kediamannya yang asri di bilangan Pulomas, Jakarat Timur, pada Selasa (9/6/2015) malam. Inilah petikannya untuk Anda.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Soal Tertib Lalu Lintas

Tertib lalu lintas menurut Indro Warkop, tak boleh terpaku pada polisi. Saat tak ada polisi pun harus tertib lalu lintas, (Fathan Rangkuti/Bintang.com)

Selain berkesenian, Indro juga hobi mengendarai motor gede (moge). Eksistensi Indro di klub motor gede sudah tak perlu diragukan. Ia termasuk pendiri dan sesepuh sebuah klub motor gede yang terus eksis hingga kini. Di rumahnya terparkir beberapa jenis moge keluaran Harley Davidson. Belakangan sang anak juga sudah mulai tertular kegemaran sang ayah gemar motor gede.

Seiring pertumbuhan ekonomi makin banyak orang kaya baru yang bisa membeli motor gede yang notabene termasuk barang mewah itu, seperti apa Anda melihat fenomena ini?

Adalah hak semua orang memiliki barang apa saja, termasuk motor gede. Sampai-sampai ada prestise sendiri saat seseorang bisa memiliki moge alias motor gede. Selama aktivitas bermoge-ria ini masih dalam ranah positif saya kira tak ada persoalan. Namun, saat para pemotor gede ini mulai berulah itu yang menjadi persoalan. Misalnya kelompok moge tertentu saat touring dengan beraninya melanggar tata tertib lalu lintas. Kalau sudah seperti ini pasti akan menimbulkan dampak negatif tidak hanya pada kelompok moge yang sedang melakoni touring itu, namun bisa juga berdampak pada kelompok moge yang lain.

Mengapa bisa seperti itu?

Soalnya, publik itu punya kecendrungan untuk menggeneralisir. Ketika suaatu kelompok atau klub moge tertentu melanggar lalu lintas dengan berani, mereka akan menyamakan kelompok moge yang lain juga begitu. Jadinya, seperti kata pepatah, karena nila setitik rusaklah susu sebelanga.

Saat ada orang yang sok berkuasa, mentang-mentang sedang menjabat dan sebagainya tentu tidak serta-merta berperilaku seperti itu, ada histori yang melandasinya?

Tentu saja, dan itu berpengaruh sekali. Kalau saya menganalisanya karena kita ini terlalu lama dijajah. Kita dijajah Belanda berapa abad? Kemudian lanjut dijajah oleh Jepang meski cuma 3,5 tahun. Setelah Proklamasi, ternyata bangsa ini belum juga merdeka. Kita dijajah oleh bangsa sendiri. Makanya, ada pergerakan ini dan itu, dan terakhir adalah gerakan reformasi yang dimotori oleh para tokoh dan mahasiswa. Orang-orang yang dulunya dijajah pengen juga merasakan, menjajah saat ia punya kekuasaan. Ya begitulah jadinya, bebas dari penjajahan bangsa asing kita dijajah oleh bangsa sendiri.

Jadi, moge makin memasyarakat?

Betul, dulu hanya segelintir orang yang bisa membeli motor gede. Sekarang sudah semakin banyak. Moge bukan lagi barang yang eksklusif.

Tapi masih prestise dong punya moge?

Oh ya, makanya ada anekdot di kalangan tertentu. Belum orang kaya kalau belum punya moge. Malah ada juga yang bilang belum jenderal kalau belum punya moge, hehehe. Pokoknya, ada saja istilah untuk menggambarkan bagaimana prestisenya punya moge. Meski pun makin banyak orang yang bisa membeli moge. Namun, tetap saja ada prestisenya.

Tetapi tidak ada pengecualian kan untuk pemotor gede tetap harus patuh dan taat pada aturan lalu lintas?

Waktu saya pertama kali bergabung dengan para pembesar yang kebetulan sama-sama gemar ber-moge saya sempat bertanya-tanya, mengapa polisi di jalanan tak pernah berani memberhentikan kami. Ada apa, kenapa begitu perkasanya kelompok itu di jalan raya. Saya sempat bertanya dalam hati, bukannya aturan lalu lintas itu berlaku umum untuk semua lapisan masyarakat. Kalau dibiarkan kesan orang bisa seperti gangster yang di luar negeri. Pelan-pelan, anggota klub bermotor saya itu diajak patuh pada lalu lintas. Disiplin dan sopan santun berlalu lintas. Itu perlu waktu yang tidak sebentar.

Mengapa Anda begitu concern pada para anggota moge khususnya yang ada di bawah naungan atau club moge Anda untuk patuh pada aturan lalu lintas?

Apa pun yang dilakukan di muka bumi ini akan indah dan apik kalau dilandasi dengan aturan. Begitu juga dengan di jalan raya. Ketika seorang saja merasa gagah, lalu tidak mau tunduk pada aturan lalu lintas akan merambat ke pengguna lalu lintas lainnya.

Aturan lalu lintas itu kan banyak yang mengetahui, namun saat tidak ada polisi di jalanan mereka yang melanggar makin banyak, seperti apa menurut Anda fenomena ini?

Itu seperti tipikal anak kecil, saat ada orang tua dia duduk manis. Namun, saat tak ada orang tua dia bubar. Kalau masih ada di jalan raya orang yang seperti itu, artinya dia anak kecil. Dia baru patuh pada aturan lalu lintas saat ada petugas di jalan raya. Saat tak ada petugas lampu merah diacuhkan. Larangan berhenti dilanggar dan sebagainya.

Penegakan hukum itu kan tergantung pada sejauh mana peran pemerintah, seperti saat orang kita bepergian ke negeri jiran orang patuh sekali dengan aturan di sana. Saat kembali ke Tanah Air kembali seperti semula?

Karena itu dalam upaya menegakkan hukum pemerintah harus tegas. Tidak boleh juga pandang bulu atau pilih kasih. Saat seorang pejabat melanggar, atau anak pejabat melanggar dia tetap harus dihukum. Kalau pilih kasih akan membuat publik tidak percaya pada hukum. Memang perlu proses untuk membuat anak bangsa dan publik patuh pada hukum.

3 dari 3 halaman

Kekuatan Sebuah Contoh

Bagi Indro Warkop memberi contoh jauh lebih baik. (Fathan Rangkuti/Bintang.com)

Di tengah keterpurukan bangsa Indonesia baik di kancah internasional maupun di kancah regional, bahkan di skala lokal keindonesiaan, amat diperlukan sosok yang bisa menjadi contoh atau panutan. Kalau hanya menyuruh, menurut Indro hal itu tidak akan banyak pengaruhnya. “Sosok panutan tidak hanya bisa memerintah, namun bisa dilihat ditiru kebajikan yang dilakukannya. Kita butuh sosok itu sekarang ini,” tandas Warkop.

Jadi Anda melihat kelangkaan sosok yang menjadi panutan di negeri ini?

Orang yang bisa menyuruh banyak, orang yang bisa pamer kekayaan juga banyak, namun orang yang bisa menjadi suri telatan itu sulit. Bukannya tidak ada, ada saja namun kita harus berusah payah mencarinya. Padahal di saat bangsa ini sedang terpuruk menurut saya sebuah tindakan yang bisa dicontoh oleh orang lain jauh lebih bermakna daripada seribu seruan atau perintah. Jadi untuk mengajak orang berbuat bersih lebih baik diberikan contoh. Dan itu bisa ddilakukan oleh pejabat, figur publik, atau siapa pun yang dianggap bisa menjadi panutan oleh masyarakat.

Di jalanan juga begitu?

Di jalanan Jakarta dan mungkin juga kota-kota lainnya berapa banyak orang yang baru bisa tertib kalau ada polisi yang mengatur lalu lintas. Kalau tak ada polisi kembali seperti zaman bar-bar, padahal rambu-rambu lalu lintas ada. Ini pertanda apa? Artinya, kita kembali mundur. Di jalanan jangan ada kendaraan apa pun yang boleh masuk jalur busway. Itu yang paling gampang. Selama ini sering banget kita saksikan kendaraan pelat merah, kendaraan penegak hukum dengan enaknya melewati jalur busway. Kalau kendaraan pelat merah atau kendaraan penegak hukum yang masih berani masuk jalur busway saya curiga dia berani melanggar aturan yang lain. Termasuk melakukan tidak pidana korupsi, misalnya.

Kok bisa begitu?

Kalau seseorang sudah banyak melanggar sebuah peraturan, saya hampir yakin orang itu juga berani melanggar peraturan yang lain. Aturan di jalanan seorang pejabat berani melanggar aturan lalau lintas, saya kok berburuk sangka pejabat itu juga berani korupsi, hehehe. Itu prasangka yang semestinya tidak terjadi. Namun, kerangka berpikir kita terbentuk seperti itu. Untuk hal yang dilihat orang banyak saja dia berani melanggar, konon pula untuk hal yang tidak dilihat oleh orang banyak. Makin berani dia melakukan pelanggaran.

Sebagai seorang pelawak senior, seperti apa Anda memberi contoh pada para junior?

Kalau saya pribadi, memulai dari hah-hal yang kecil. Misalnya, soal disiplin waktu. Meski saya senior, namun untuk datang ke lokasi syuting saya tepat waktu. Dengan begitu, para junior saya akan malu datang terlambat. Untuk anak-anak saya di rumah juga begitu. Saya tidak berani menyuruh mereka berhenti merokok kalau saya sendiri masih merokok. Karena itu ketika saya ingin mereka berhenti merokok, saya harus berjuang dulu melawan diri sendiri untuk stop merokok. Dan itu perjuangan yang amat berat yang saya lakukan. Soalnya saya perokok berat. Tetapi itu saya lakukan demi anak-anak.

Sebenarnya untuk seorang pelawak senior seperti Anda sudah bisa dong memberikan saran, mengapa Anda lebih percaya diri hanya memberikan contoh saja?

Soalnya saya masih banyak kekurangan. Saya ini masih banyak salahnya. Amal saya saja belum beres semua kok berani-beraninya menyuruh orang lain berbuat baik. Terus terang saya masih sering emosi. Mukut saya masih comberan, kayaknya belum pantas untuk merintah atau menyuruh. Yang bisa saya lakukan adalah memberikan contoh.

Dalam konteks puasa yang sebentar kita jalani apa korelasinya?

Lewat puasa kita dilatih untuk bertanggungjawab. Puasa yang dilakukan sejak kecil adalah pendidikan yang amat ampuh. Namun, untuk menyuruh orang lain puasa kita sendiri dulu yang harus melakukan. Saya tidak berani menyuruh anak saya berpuasa kalau saya tidak berpuasa. Puasa itu punya dimensi duniawi dan ukhrawi. Sebagai orang tua yang benar harus menjadi contoh dulu sebelum menyuruh anak-anak kita berpuasa.

Malam semakin larut, namun Indro seperti tak pernah kehabisan energi. Selain wawancara, ia juga melakoni sesi pemotretan khusus yang sudah beberapa tahun tak dilakoninya. Dari gaya biasa, sampai gaya selonjor. Ia tersenyum saat melihat hasil pemotretan. Sebelum kami mohon diri ia berbisik, “Jangan lupa saya di diberi file fotonya,” ujarnya.