Puasa Bulan Ramadan Menjadi Tantangan di Beberapa Negara Komunis

Karla Farhana diperbarui 25 Jun 2015, 05:10 WIB

Fimela.com, Jakarta Menjalankan ibadah puasa Ramadan di negara-negara yang sebagian penduduknya non muslim enggak gampang, lho! Apa lagi, di negara-negara komunis dengan iklim dan peraturan tertentu serta lingkungan yang berbeda dengan negara-negara lain.

Kuba

Kuba adalah negara komunis dengan populasi pemeluk agama Islam sedikit. Hanya sekitar 1500 orang. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa luar negeri yang sedag menuntut ilmu di negara ini. Contohnya seperti mahasiswa asal Pakistan dan Guinea. Menjalankan ibadah sehari-hari, khususnya pada bulan Ramadan, menjadi tantangan bagi komunitas muslim yang kecil ini. Komunitas kecil, fasilitas untuk beribadah pun terbatas. Tempat beribadah dan tempat berwudu di sana kecil, sehingga salah satu imam, Yahya, memberikan ruang tamu di rumahnya untuk komunitas muslim setempat untuk belajar agama, berdiskusi dan beribadah selama bulan Ramada. Sebenarnya, negara ini cukup toleran dengan agama apa pun. Cuma, kendala utama mereka adalah makanan. Daging babi sangat populer di sana. Makanya, masyarakat muslim disana dituntut untuk lebih fleksibel dalam menjalankan ibadah sehari-hari.

Vietnam

Tidak seperti di Kuba, populasi umat muslim di negara komunis satu ini cukup banyak, sekitar 5000 orang di Kota Ho Chi Minh, yang letaknya di daerah tenggara Vietnam. Karena memiliki komunitas yang cukup besar, menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan cukup lancar. Beberapa masjid di sana pun mengadakan acara buka puasa bersama. Contohnya di Masjid Jamaa, yang berlokasi di Distrik No.1, tepat di belakang Hotel Sheraton yang populer. Seperti di Indonesia, umat muslim saling berbagi makanan selama acara berbuka. Walaupun dengan menu yang sederhana. Sepiring pisang, permen, apel, sup dengan potongan ayam kecil dan salad. Masyarakat muslim pun mendapatkan pendidikan agama yang cukup. Tapi, buku-buku agama cuma dapat dari Malaysia. Sangat terbatas.

Rusia

Rusia memang bukan lagi negara komunis. Dulu, ketika masih Uni Soviet, negara ini menganut paham komunis. Menjadi umat muslim di negara yang dingin dan mayoritas non muslim enggak gampang. Selama Ramadan semua toko buka. Sebagian besar orang tetap menjalankan harinya seperti biasa, tidak ada yang berubah pada bulan Ramadan. Uniknya, di Rusia ada tradisi mengundangn seorang imam untuk berbuka puasa bersama. Setelah itu, semua yang hadir, berlaku bagi anak-anak dan orang tua wajib membaca beberapa ayat Al-Quran. Usai membaca Al-Quran, sang imam biasanya memberikan semacam kuliah. Semua yang hadir mendengarkan sambil menyesap teh hangat.

Cina

Cina adalah negara komunis. Pemerintahnya memiliki ketentuan yang berbeda dengan negara lainnya. Pemerintah Cina mengharuskan anak sekolah makan di siang hari, karena alasan kesehatan. Toko dan restoran yang menyajikan makanan halal pun harus tetap buka selama Ramadan. Hidup sebagai umat muslim di Cina enggak mudah. Sudah lama terjadi ketegangan antara penduduk Han yang minoritas dengan Muslim Uighur yang berjumlah sembilan juta orang. Mereka tinggal di wilayah otonomi Xinjian di bagian utara Cina. Walaupun begitu, ada tradisi unik yang dilaksanakan di Masjid Niujie, di Kota Beijing. Mereka menyantap makanan khas Cina, yaitu kue bulan, manisan yang biasanya dimakan pada saat festival Cina dan juga makanan luar negeri seperti Swiss Roll. 

 

Salut! Walaupun memiliki lingkungan, kondisi serta peraturan negara yang berbeda, umat muslim di negara komunis tetap menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. :) (Karla)

 

[Baca juga]: Jadwal Puasa 2015 untuk Warga Kota Bertuah, Pekanbaru

What's On Fimela