Eksklusif, Cut Tary Kembali Berkarya di Tahun 2016

Edy Suherli diperbarui 31 Des 2015, 08:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Tahun 2015 dilalui Cut Tary dengan lebih banyak memerhatikan anak semata wayangnya Sydney Azkassya Jusuff. Setelah yakin dengan tumbuh kembang anaknya, di tahun 2016 ini ia mulai berani untuk kembali beraktifitas di dunia entertain yang membesarkan namanya. Namun yang diinginkan Tary bukan lagi bekerja di depan layar, tapi di balik layar.

 

***

Bukan perkara mudah bagi Cut Tary yang terbiasa bekerja di dunia entertainmen harus berhenti. Namun hal itu ia lakukan demi anak tercinta. Ia sudah melihat bagaimana teman dan sahabatnya ya terlalu fokus pada urusan kerja sampai melalaikan tanggungjawab dan kewajiban pada anak.

 

 

Di hadapkan pada dua pilihan yang sama beratnya itu. Tary dengan mantab memilih anak. "Sepanjang tahun 2015 itu aktifitas saya full untuk anak. Setiap hari aktifitas saya dari pagi membangunkan, memandikan, menyiapkan seragam sekolah berikut keperluan sekolah, menyiapkan sarapan untuk anak, mengantar ke sekolah dan terakhir menjemputnya saat hendak pulang sekolah, dan juga menemani anak saya bermain. Rutinitas sebagai seorang ibu tidaklah mudah, namun demi anak apa saja saya lakukan," terang bintang berdarah Aceh ini.

Tary menerapkan sistem keterbukaan pada anaknya. Dia meminta Sydney untuk menceritakan apa saja yang dialaminya sepanjang hari. Dan konsekwensinya Tary tidak boleh marah saat Sydney melakukan kesalahan. Namun untuk memberi
peringatan dia masih bisa.

Setelah melihat dampak positif dari perkembangan buah hatinya, Cut Tary mulai melakukan ancang-ancang untuk tahun 2016. Ia sudah memasang resolusi kembali berkarya. Uniknya di tahun 2016 ini yang di pikirkan Tary bukan perkerjaan di depan layar seperti selama ini. Ia akan berkarya dari balik layar.

"Saya ingin menuangkan beragam ide di kepala saya yang selama ini menumpuk. Bentuknya nanti berupa acara televisi. Tentu ide ini harus dielaborasi lagi agar lebih realistis dan sesuai dengan kebutuhan publik saat ini," katanya.

Lalu bagaimana rencana untuk berkeluarga kembali? Bagaimana soal kabar kedekatan dengan Richard Kevin? Tary tak bisa lugas menjawab beberapa pertanyaan soal ini. Namun secara tersirat dia mengatakan keinginannya untuk kembali membina rumah tangga. "Kalau ada yang bilang saya cocok dengan dia, sejauh doanya baik, saya ucapkan Alhamdulillah," kata Cut Tari saat ditemui Edy Suherli, Hasan Mukti Iskandar, Fathan Rangkuti, Ruben Silitonga dan Nurwahyunan di Melly's Garden Bar & Resto Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2015).

2 dari 3 halaman

2015 Fokus untuk Anak

Cut Tary sadar ia harus berkorban untuk anaknya. (Photographer: Nurwahyunan, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Sama sekali tak ada kata menyesal bagi Cut Tary sepanjang tahun 2015 lalu meluangkan waktu sepenuhnya untuk anaknya.

Apa saja aktivitas Anda selama 2015?

Saya fokus mengurus anak. Sejak berpisah, sayafull time mengurus anak, tanpa bantuan baby sitter, mbak, atau pun yang lainnya.  Jadi, saya benar-benar mengurus anak. Salah satu cita-cita saya, saya tidak ingin anak saya menjadi korban perpisahan. Saya tidak mau ada dampak di Sydney, maka itu saya harus menjaga dan menghandle semuanya sendiri. Kalaupun ada kerjaan saya ambil jika memang saya suka, saya enjoy, dan waktunya masih bisa dibagi dengan Sydney, saya ayo aja.

Sekarang Sydney umur berapa?

Anak saya umurnya delapan tahun. Sekarang dia kelas 3 SD. Sejak 2014 hingga 2015, Saya cukup tersenyum akan apa yang saya terapkan ke Sydney mulai terlihat hasilnya. Misalnya, ia harus cerita apapun. Saya bilang ke Sydney, cerita saja apapun ke mama, mama berusaha tidak akan marah. Baik Sydney salah, maupun Sydney benar. Kalau mama tahu dari orang lain, maka mama akan marah. Saya open ke Sydney, apapun dia ceritakan. Lebih baik aku tahu tentang anakku, bukan dari orang lain.

Itu sudah berjalan ya?

Ya, sudah mulai. Sydney jadi belajar mengingat apa-apa yang terjadi di kesahariannya. Sydney bahkan bilang, ma, apalagi yang harus aku ceritakan ke mama. Soalnya, Sydney takut jika aku dengar dari orang lain. Namun, ini aga gimana juga ya. Karena saat Sydney melakukan kesalahan, di sisi lain aku harus mengontrol diri aku juga agar jangan sampai salah reaksi karena aku sudah janji dengan Sydney untuk tidak marah. Tidak marah, tapi mengarahkan Iya. 

 

Sejauh ini bakat dan minat Sydney ke mana?

Saat ini lebih ke olahraga, gymnastic. Kemarin ia ikut pertandingan antarklub se-ASEAN. Mulai dari Filipina, Malaysia, Singapura, bertanding dengan Indonesia. Jadi, Sydney sering ikut kompetisi-kompetisi. Bagi aku, sejauh Sydney suka, maka saya akan mendukungnya. Melalui olahraga, aku mencegah anakku tahu lebih cepat tentang kemewahan, semua yang serba indah, atau semua serba mudah didapat. Kalau sport itu kan, intinya jika ingin menang harus dari tenaga sendiri, fokus diri sendiri, dan keringat sendiri, dan tidak mencontek siapa-siapa, murni dari diri sendiri. Dan secara mental juga penting karena Sydney jadi belajar menang dan kalah secara yang fair. 

Bagaimana jika Sydney berada di luar rumah? Apa Anda protektif?

Kalau misalnya di luar rumah atau di dalam rumah, saya agak protektif. Tapi saya enggak mau proktetif yang over. Saya takutnya anak saya enggak nyaman dengan ibunya. Saya pernah kecil, saya pernah muda, saya juga pernah ABG, saya juga pernah umur 8 tahun. Apa yang diajarkan orang tua saya dulu, kayaknya udah enggak berlaku untuk zaman sekarang. Jangan ini, enggak boleh ini. Saya protektif dari luar, dari jauh.

Sekarang ini banyak kekerasan seksual pada anak-anak, seperti apa Anda mensosialisasikan hal ini kepada Sydney?

Saya prihatin dengan kejadian-kejadian yang belakangan ini sering terjadi.  Penting bagi saya untuk menjelaskan kepada anak saya, jika ada orang  yang tak dikenal, enggak boleh begini bla-bla. Merasa akrab pun, meski  itu bukan mama, enggak boleh disentuh bagian tubuhnya. Karena Sydney  masih kecil. Bagian apapun di badan tidak boleh disentuh, meskipun itu  teman, ataupun anak perempuan sekalipun. Saya benar-benar memulainya  dari situ. Sampai saya mengajarkan Sydney menghapal nomor-nomor telepon penting. Jadi, kalau ada apa-apa langsung telepon. 

Setelah diajarkan begitu rupa seperti apa Sydney?

Ya, dia mulai sadar. Dia sekarang kalau ada apa-apa langsung menelepon. Dia kan suka main di kamar mandi sekolah. Dia kemudian cerita main dengan -teman-temannya. "Mama, tadi Sydney main sama temen Sydney di kamar mandi sekolah". Kita kan  mulai parno. "Main apa?" Main kepang-kepangan. Terus berapa lama mainnya? Lama, abis istirahatlah. Ada siapa
lagi di sana? Ada penjaga  perempuan. Terus ada siapa lagi? Oh ya, sudah. Terus saya ingatkan Sydney, lain kali kalau ke kamar mandi harus dikunci. Sydney tidak boleh takut, karena kalau ada apa-apa ada yang menolong. Semuanya saya ajarkan satu persatu pelan-pelan agar Sydney mengerti yang ia tidak mengerti. 

Apa Anda mengarahkan anak ke dunia entertainment?

Sepertinya enggak. Saya enggak mengarahkan anak saya ke dunia entertainment. Tapi  mungkin, ada beberapa temen yang mengarahkan anaknya ke dunia entertainment, bagi saya itu pilihan mereka. Itu mungkin pilihan yang terbaik buat anak mereka. Tapi pilihan yang terbaik buat anak saya, beda lagi. Saya sepakat dengan papanya untuk sebisanya tidak terjun ke dunia entertainment. Jika mau menjadi atlet, silakan. Jika pada akhirnya ke dunia entertainment, itu sudah pilihan terakhir, mentok. Tapi kalau bisa sih jangan. 

 

 

3 dari 3 halaman

2016 Berkarya di Balik Layar

Cut Tary mencoba berkarya lagi di tahun 2016. (Photographer: Nurwahyunan, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Kalau sebelumnya Cut Tari berkarya di depan layar, kini dia ingin merasakan
sesuatu yang berbeda. Dengan bekerja di balik layar.

Apa resolusi Anda untuk tahun 2016 bagi?

Resolusi 2016 saya akan kembali berkarya. Namun saya tetap melihat anak saya saat kembali berkarya. 

Sejauh ini apakah anak Anda sudah bisa ditinggal?

Saya memang tidak terlalu memaksakan diri. Jika memang sudah bisa ditinggal, saya mungkin akan kembali aktif. Tapi mungkin, saya lebih memilih di balik layar saja dulu.

Maksudnya seperti apa?

Dalam arti kata, saya ingin memproduksi sebuah program. Dengan ilmu yang saya pernah dalami dan dapatkan itu, saya rasa saya bisa belajar lagi lebih mendalam. Kalau di depan layar, saya sudah tahu saya harus apa, tapi kalau di balik layar, saya akan belajar lagi dan belajar lagi.

Apa yang Anda akan lakukan dengan posisi di balik layar itu?

Saya tertarik  buat program televisi. Program televisi bisa talk show, variety show, atau apapun. Kalau menurut saya program televisi, saya akan coba membuatnya.

Jadi di kepala Anda banyak sekali konsep ini dan itu ya?

Saya itu orangnya banyak konsep di kepala. Konsep yang tertahan dan yang tertunda. Kalau seandainya saya punya program, saya bisa melakukan begini-begini. Misalnya, penonton maunya yang begini, tapi tidak boleh mengikuti penonton juga,  harus bisa juga mengajak penonton untuk tertarik di acara yang tidak lebay. Saya ingin masyarakat menontonnya. Ya, saya ingin menuangkan konsep yang saya miliki.

Kebayang enggak dengan keribetan yang akan Anda alami?

Kebayang sih. Ya, Kebayang saya bakalan repot. Wara-wiri segala macam. Berbeda kalau di depan kamera, kan harus selalu kelihatan bagus, lipstik enggak boleh habis. Kita juga harus melihat pembawa acaranya, dia nanti begini-begini. Mereka tidak boleh jelek, kalau saya sih boleh aga cuek. Rambut dikuncir, sendal jepit, celana jins dan kaus. Jadi saya bisa aga santai untuk penampilan di saat bekerja, berbeda dengan pembawa acaranya. Hahaha.

Apalagi keinginan Anda di tahun 2016?

Meski sudah matang, saya ingin lebih matang lagi. Enggak boleh rugi dalam hidup, bukan masalah rugi soal 'orang itu sudah begitu, gua harus begini', enggak. Tapi saya punya target keterbatasan diri sendiri. Paling enggak saya bisa jadi makhluk yang lebih baik dari segi apapun, di mata Sang Pencipta, diri sendiri, keluarga, apalagi anak. Itu bukan soal yang gampang. Tapi saya harus terus mengasah diri untuk menjadi manusia yang tidak merugi. Saya harus berhati-hati dalam berpikir, melangkah dan menstabilkan jati diri saya. Kemarin saya sudah mengalami berbagai proses, sekarang momen bagi saya
untuk membuka diri untuk menerima semua, kehidupan baru, membuka halaman baru, mungkin siapa tahu jodoh.

Soal jodoh apa kriterianya bagi Anda?

Saya akan memilih pasangan yang bisa nyambung dalam segala hal dan sama-sama mau belajar soal kehidupan. Saya pernah gagal, tapi saya harus memperbaiki kegagalan itu. Supaya nggak menjadi orang yang merugi. Gagal lagi.  Kalau dapat, ada lelaki di hadapan saya yang memiliki model seperti itu, saya akan menerimanya dengan senang hati.

Apa itu hanya baru sebatas mimpi saja?

Gini ya, Kenapa Tary itu suka misterius, kalau ditanya dekat soal kedekatan dengan seseorang.  Kenapa saya susah banget berbicara kepada semua orang, ini lho pasangan saya. Ini lho yang baru, misalnya. Saya ini begini, saya sudah bukan single lagi. karena saya sudah punya anak, kalau nanti orang ngomongin, kan saya harus mikir saya harus protek anak saya. Saya harus membuat kenyamanan bagi Sydney. Makanya saya ga mau terlalu banyak bicara soal itu. Kalau nanti saya mau ke jenjang lebih serius, saya akan bicara ke Sydney, ini dia. Lebih baik saya utamakan Sydney dulu daripada mikirin keinginan tahuan orang banyak. Itu yang membuat kenapa Tary tertutup.

Seperti apa kedekatan dengan Richard Kevin?

Apa yang harus saya klarifikasi tentang dia. Saya juga bukan anak SMA. Saya bukan orang yang muda banget. Saya punya anak, saya punya prinsip sendiri. Untuk saat ini saya merasa ngga perlu bicara apa-apa soal itu. Saya serahkan kepada masyarakat.

Sosok Richard Kevin itu seperti apa?

Menurut saya orangnya, kalau dia nggak baik, saya enggak mau dekat-dekat. Kalau ada yang bilang saya cocok dengan dia, sejauh doanya baik, saya ucapkan Alhamdulillah. Saya terima aja. Jangankan ngomong baik, ngomong enggak enak pun
saya terima.

Jadi serius sudah serius ni hubungan dengan Richard Kevin?

Yang pasti keinginan untuk mempunyai pasangan yang serius, ya. Buat apa umur sudah segini, perjalanan sudah panjang seperti ini, pastinya saya enggak main-main lagi dalam mencari pasangan. Seperti saya bilang, saya enggak mau rugi dalam menjalani kehidupan.