Blue Mosque, Kecantikan Abadi di Selimut Debu Afghanistan

Asnida Riani diperbarui 21 Jun 2016, 21:08 WIB

Fimela.com, Jakarta Khaak (dalam bahasa Dari dan Pashtun berarti debu) memenuhi Afghanistan, bahkan dihirup oleh setiap manusia yang menjejak di negara tetangga Tajikistan tersebut. Berpayung biru cerah, bentangan 'selimut' cokelat dengan bukit cadas sebagai batas pandangan mungkin jadi deskripsi umum akan Afghanistan.

Namun demikian, bukan berarti negara di mana etnis Hazara jadi minoritas ini bisa dinilai semata dari satu bingkai saja. Berada jauh di utara, Blue Mosque berdiri di antara taman penuh bunga di jantung Mazar-e-Sharif. Riuh rendah kota di sekitarnya seakan tak membuat pesonanya memudar.

 

 

Sesaat setelah memasuki taman, bising perkotaan seakan tertinggal jauh. Yang terdengar hanya tertawa bocah dan kepakan sayap merpati. Di samping tempat beribadah, makam Ali bin Abi Thalib pun dipercaya 'berbaring' di bangunan abad ke-12 tersebut. Tak heran kalau banyak orang yang datang untuk berziarah.

Bergaya arsitektur Islam kentara dengan ornamen rumit di dinding, Blue Mosque merupakan satu atraksi paling populer di Afghanistan. Masjid ini pun kerap dijadikan memori lain untuk mendeskripsikan keelokan negeri yang sempat porak-poranda karena perang tersebut.

Tak hanya muslim, penganut selain Islam pun sering kali terlihat di Blue Mossque, meski beberapa hanya terlihat di pelataran masjid. Berpadu selaras dengan burqa perempuan Afghan, Blue Mosque dengan rentetan sejarah panjang adalah warna lain di bentangan selimut debu.

 

 

 

What's On Fimela