Eksklusif, Cerita Astrid Tiar Tinggal di Inggris

Altov JoharTeddy Kurniawan diperbarui 21 Nov 2016, 08:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Astrid Tiar kembali ke Indonesia dengan membawa segudang cerita tentang kehidupan keluarga kecilnya di Inggris sejak Desember 2014. Di negeri Ratu Elizabeth itu, Astrid Tiar menemani sang suami, Gerhard Reinaldi Situmorang menyelesaikan pendidikan S3-nya. Keputusan untuk ikut sang suami, bagi Astrid Tiar memang keputusan yang berat. Ia harus meninggalkan dunia keartisannya yang sudah dibangun selama belasan tahun. Lantas, bagaimana suka duka Astrid Tiar tinggal di negeri orang?

***

Astrid Tiar berada di Indonesia bersama dua anaknya memang sementara waktu. Lantaran tidak kuat menghadapi musim dingin di Inggris. Selain menghindar dari musim dingin yang menurut Astrid Tiar menusuk tulang, ia juga sudah menjadwalkan untuk menjalankan beberapa pekerjaan di dunia keartisan yang selama ini ditinggalnya selama menetap di Inggris.

Sudah satu bulan belakangan ini, Astrid Tiar kembali menikmati kemacetan Ibu Kota Jakarta dan makanan khas Indonesia yang dapat menggoyang lidah. Kerinduan Astrid Tiar benar-benar ditumpahkan begitu menginjakkan kaki di Jakarta. Meski tidak berharap tinggal di Inggris, namun Astrid bersyukur memiliki pengalaman tinggal di negeri orang. Selain bisa membuatnya lebih mandiri, ia juga banyak belajar untuk lebih mensyukuri apa yang saat ini dimilikinya.

Selama di Inggris juga, Astrid Tiar benar-benar belajar menjadi seorang ibu rumah tangga. Nalurinya sebagai seorang perempuan dan ibu, menuntunnya untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah yang selama tinggal di Indonesia banyak dilakukan asisten rumah tangga. Kedewasaan Astrid kemudian menjadi terasah dengan beragam problematika kehidupan selama di negeri orang.

"Beresin rumah, nyuci baju, setrika, masak, ke pasar, ya banyak. Jadi kalau ditanya sibuk apa? Nyetrika," ujar Astrid Tiar sambil tertawa saat bertandang ke studio Bintang.com, Senin (9/11/2016).

Jika tidak ada halangan, Astrid Tiar mengungkapkan, akhir tahun 2017 mendatang, ia dan keluarga kecilnya sudah kembali menetap di Indonesia. Menantikan saat itu, Astrid berusaha untuk bersabar. Lantas, bagaimana cerita lengkap Astrid Tiar selama tinggal di Inggris? Simak wawancara lengkapnya berikut.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Di Inggris, Lebih Sibuk Nyetrika

Setiap datang musim dingin, Astrid Tiar meminta izin kepada suami untuk pulang ke Indonesia. (Fotografer: Bambang E. Ros, Wardrobe by: @yosepsinudarsono, Make up: @joemakeup20, Stylist: Indah Wulansari, DI: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Mengikuti suami melanjutkan pendidikannya, bagi Astrid Tiar bukan sekadar pengabdian sebagai istri. Namun, ia juga belajar untuk lebih mandiri di negeri orang. Salah satu kemandiriannya adalah mengurus rumah sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga yang harganya selangit di Inggris.

Sekarang sudah menetap di Inggris ya?
Ya, selama dua tahun kita pergi ke Inggris, menemani suami yang sekolah di sana. Mudah-mudahan tahu depan, 2017, adalah tahun terakhir saya berada di negara itu terus saya bisa pulang.

Ada penyesalan meninggalkan karier sebagai artis di Indonesia?
Nggak lah. Saat aku memutuskan nikah aku tahu betul bahwa aku harus tidak konsentrasi lagi. Maksudnya tidak 100 persen lagi, harus menjadi ibu dan harus mengutamakan keluarga. Otomatis pekerjaan diberikan sepenuhnya kepada suami. Jadi kerjaan sambi-sambi saja lah.

Bisa dibilang pengorbanan seorang istri?
Emang seharusnya seperti ini. Karena memang harus memilih. Ketika aku memilih menikah, aku sadar bahwa 100 persen kerjaan aku nggak di sini. Ya aku ambil itu dan happy, jadi keluarga dan karier. Keluarga 80 persen dan karier 20 persen, gitu deh.

Di Inggris, benar-benar jadi ibu rumah tangga?
Karena aku sudah berangkat ke Inggris, otomatis 100 persen ibu rumah tangga, urus anak, suami, urus rumah. Sekarang, mumpung lagi libur, suami izinkan aku untuk kalau mau syuting lagi silahkan. Mumpung lagi di sini.

Hidup di negeri orang, apa yang pertama kali kamu rasakan?
Karena susah banget ya di negara orang itu. Aturannya beda, jadi kita mesti adjust lagi. Cuacanya juga berbeda. Apalagi di Inggris cuacanya beda dengan negara lain yang patern-nya sudah jelas. Pori-pori aku yang kampung ini tuh, jadinya agak sedikit sedih karena dingin mulu jadi jarang keluar.

Banyak orang pengen tinggal di luar negeri, tapi kamu malah pengin pulang?
Indonesia itu home sweet home. Mungkin oke lah kalau dua minggu. Bersyukur sih pernah tinggal. Ketika aku di Indonesia keringetan, kalau dulu kan ngomel-ngomel. Kalau sekarang terimakasih Tuhan atas keringat ini. Aku di sana harus minum vitamin D lho biar sehat. Karena badan kita kan butuh sinar matahari, dan di Inggris, sinar matahari itu sangat langka.

Selama di sana sosialisasi sama tetangga bagaimana?
Iya, karena di lingkungan komplek rumah aku, 90 presen british. Yang asia itu bukan Indonesia. Jadi yang asia itu Jepang, Korea. Tetangga aku Jepang dan Korea, jadi mau nggak mau harus adaptasi. Kalau sudah sebulan sekali kita ada acara PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), kalau nggak kebetulan aku aktif di arisan ibu-ibu. Ibu-ibu yang tinggal di Inggris Kan banyak juga yang ambil PHD. Rata-rata mereka sudah lama dan kita kumpul.

Yang dirindukan dari Indonesia selama tinggal di sana?
Orang-orangnya. Mereka di sana terlalu individual banget. Aku orangnya tuh mudah berteman, suka ngajak ketemuan. Sementara di sana beda. Aku bikin kue bolu mereka bingung, malah tanya, ini nggak beracun, hahaha. Mereka bingung dengan hal yang tetangga banget. Bingung dengan aku berikan sesuatu kayak nggak lazim. Nggak boleh sok akrab di sana, itu satu. Yang kedua dari makanannya. Di sana mahal banget. Cuaca di Indonesia aku kangen banget, macetnya di sini. Ketika orang bilang Indonesia begini, terserah. Indonesia home sweet home banget.

Berarti selama di sana lebih banyak di rumah?
Ya, aktivitasnya antar anak sekolah, Anabel kan sudah sekolah di nursery, selebihnya di rumah. Karena mereka itu keluar cuma Sabtu dan Minggu. Senin sampai Jumat mereka kerja. Jadi kalau tiba-tiba lihat aku siang-siang di sebuah kafe, mereka merasa aneh.

Jadi habiskan waktunya di rumah ngapain saja?
Beresin rumah, nyuci baju, setrika, masak, ke pasar, ya banyak. Jadi kalau ditanya sibuk apa? Nyetrika, hahaha.

Saat diajak ke Inggris sempat ada pergulatan batin?
Ya iya lah. Kan nggak pernah nyetrika.

Memangnya nggak pernah?
Di rumah kan ada mbak. Kalo di kerjaan yang nyetrika kan stylist, wardrobe. Pas di sana semua-muanya ya aku.

3 dari 3 halaman

Kangen Dunia Hiburan

Astrid Tiar juga ternyata rindu tampil di dunia hiburan. (Fotografer: Bambang E. Ros, Wardrobe by: @yosepsinudarsono, Make up: @joemakeup20, Stylist: Indah Wulansari, DI: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Selama di Inggris, Astrid Tiar benar-benar menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengatur segala keperluan rumah dan mengurus dua anak serta suami. Keikhlasan Astrid Tiar menjalani statusnya itu, membuat ia tak mengeluh dengan situasi. Ini yang membuat Astrid belajar semakin dewasa. Namun Astrid tetap rindu dengan dunia hiburan. Karena itu, setiap pulang ke Tanah Air, ia menyelipkan jadwal tampil di beberapa acara televisi dan pekerjaan lainnya.

Di Inggris merasakan betul menjadi ibu rumah tangga?
Betul. Tapi ketika aku mengeluh atau bercerita tentang ibu sama orang di sana, lalu aku bilang mereka itu hebat banget ya, mereka malah bingung. Karena mereka sudah terbiasa mandiri dari kecil kan. Yang aku lakukan sekarang buat mereka tuh nothing. Jadi itu yang membuat aku kuat. Mereka mana ada asisten rumahtangga. Suster, boro-boro, mahal.

Dua tahun di sana kangen balik ke dunia hiburan?
Kangen banget. Biasanya kita kerja dapat uang, nggak munafik dong. Di sana dapat uangnya dari suami. Ya nggak apa-apa juga, cuma aku kan sudah kerja dari 13 tahun. Mengerti perasaannya seperti apa, biasanya kerja sampai di sana nggak ngapa-ngapain.

Di sana melahirkan anak kedua, nanti warga negaranya bagaimana?
Indonesia dong tetap. Diurusnya Indonesia. Karena nanti ribet. Takutnya nanti pas 17 tahun disuruh milih, tiba-tiba anak bilang, mah aku mau ke Inggris, mati gue. Aku bisa apa. Daripada endingnya repot, sebelum dia bisa milih, aku pilih saja.

Bagaimana menanamkan nilai-nilai ke-Indonesiaan kepada anak, karena kan di sana pergaulannya disebut-sebut lebih bebas?
Sempat berpikir di sana anak nggak usah sekolah. Sempat berpikir kursus saja kayak balet, karena ajarannya beda banget. Mereka terlalu bebas, dan aku nggak menganut kebebasan itu. Jadi ya sudahlah, pada akhirnya kan balik lagi ke sini. Daripada anak shock culture pas ke sini, yang tadinya sekolah Senin sampai Jumat, aku memilih cuma tiga hari dan aku mengikuti semuanya itu. Jadi nggak aku lepas 100 persen.

Anak rewel nggak pas pertama tinggal di sana?
Malah dia suka banget, karena dia suka dingin. Aku pakai baju tiga sampai empat lapis, dia cuma selembar. Dia suka main salju.

Sering ngeluh ke suami selama di sana?
Nggak, aku ngeluhnya kalau dingin, cuaca doang. Aku benar-benar bisa sampai migren, muntah-muntah. Memang sudah dicap nggak bisa dingin. Aku tuh sebelum ke Inggris, belum pernah ke negara yang suhunya minus. Aku nggak punya bayangan seperti apa sih yang suhunya minus. Aku pikir, badan aku oke nih dengan salju. Ternyata sampai di sana, itu semua, kayak migren, muntah, panas, pusing, semua deh. Jadi memutuskan setiap mulai winter waktunya pesan tiket dan pulang.

Suami jadi merasa bersalah =lihat kamu kayak gitu?
Nggak sih, memang akunya saja yang kampung. Dia sudah mengerti sih, sudah tahu. Nanti pulang lagi berkabar. Aku sekarang belum beli tiket, serius. Kan BBC selalu kasih report sebulan nanti cuaca seperti apa. Nanti dia kasih tahu kayaknya bulan ini cuaca sudah mulai bagus, tandanya beli tiket dan balik lagi ke sana.

Jadi di sini belum tentu berapa lama?
Belum tentu, karena tahun lalu Januari sudah berubah, dan aku sudah pulang lagi ke sana. Inggris nggak tepredeksi, pernah satu hari ada hujan, salju, matahari. Serius, satu hari ada empat musim.

Melahirkan dua anak, badannya masih terlihat ideal. Ada resepnya?
Nggak sih, sebenarnya ini sudah agak gemukan. Caranya, coba deh nggak punya suster, nggak punya asisten rumah tangga, hidup di negara orang lain, yang mana kalau di Inggris parkiran maksimal sejam. Setelah itu anda harus pergi kalau nggak ditilang. Gue hobi ditilang, mahal bok, 75 pound. Akhirnya daripada parkir seharga 5 pound cuma sejam, pilih jalan. Coba saja tiap hari nyapu, ngepel, nyuci baju, nyeterika, antar anak, ke pasar, setiap hari begitu deh, pasti kurus.

Selama Inggris sepertinya kamu selalu jaga penampilan ya?
Masa sih, nggak ah. Aku kalau di sana nggak pernah dandan. Setiap balik rambut pasti aku papas segini (pendek). Pasti, karena mahal di sana gunting rambut, sejuta. Daripada gunting rambut mending beli susu.

Keadaan di sana jadi pembelajaran banget?
Pelajaran yang sangat berharga dalam hidup itu ketika saya tinggal di Inggris. Semuanya, cara menyelesaikan masalah dengan suami, cara mendidik anak, kan beda ya karakter di Inggris ibu-ibunya. Kalau di Inggris anak nggak makan, nggak apa-apa, ntar juga makan sendiri kalau lapar. Kalau di sini, gila anak gue nggak makan.

Kalau nanti suami ditugaskan ke luar negeri lagi gimana?
Sudah, sudah dibilang. Nanti habis dari sini dia bakal ambil short course ke kanada. Aku sempat protes, karena Kanada itu dingin. Paling dia akan cari tempat panas seperti Spanyol atau lainnya. Namanya juga dokter, mereka harus update dengan ilmu baru.

Astrd Tiar, sosok istri yang bukan hanya menjalankan kewajibannya saja, namun lebih dari itu, apa yang dilakukan ibu dua anak itu semoga dapat memberikan inspirasi bagi para perempuan, bahwa di balik kesuksesan seorang suami, ada sosok istri yang selalu setia mendampingi. Semoga selalu dalam kebahagiaan ya.