Eksklusif Luthfi Hadi: Sukses Raih Ratusan Juta Dari Hobi

fitriandiani diperbarui 09 Des 2016, 09:28 WIB

Fimela.com, Jakarta “Cintai pekerjaanmu sampai kamu merasa tidak sedang melakukan sebuah pekerjaan,” adalah sebuah kalimat motivasi yang diperuntukkan bagi mereka yang ‘harus’ bekerja karena tuntutan profesi. Namun kalimat tersebut tak berlaku bagi Luthfi Hadi, pria asal Kota Hujan, Bogor.

Lulus dari universitas negeri kenamaan Indonesia sebagai Sarjana Komunikasi tak meluruhkan hobinya mendesain. Bahkan, bidang itu pula yang ia geluti sampai kini dan dikembangkan menjadi bisnis dengan profit yang luar biasa setiap bulannya. Siapa, sih, yang tak senang bisa mendapat ‘gaji’ dari hobi?

Dengan menggadang nama Unchal, yang diambil dari nama binatang yang banyak ditemui di landmark kota Bogor, ia mulai menuangkan hobinya ke dalam kaus yang ia produksi mulai tahun 2010 lalu. Unchal, berasal dari bahasa Sunda; uncal, atau dalam bahasa Indonesia berarti rusa. Bukan sembarang kaus, konsep yang diusung Luthfi untuk bisnisnya adalah kaus oleh-oleh khas kota Bogor.

Berbicara kaus oleh-oleh khas kota, mungkin Anda akan langsung teringat pada Joger dari Bali atau Dagadu dari Jogja. Ya, memang kedua brand itulah yang menginspirasi Luthfi. Luthfi melihat kaus ini sebagai peluang sebab sebelumnya, ia menemukan kaus oleh-oleh khas kotanya yang telah ada, jalan di tempat alias kurang berkembang. Percaya diri bisa membuat kaus dengan desain yang lebih baik, ia pun tertarik mencobanya.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Menekuni Hobi dan Memanfaatkan Peluang


Sejak membangun bisnisnya, Luthfi berpegang teguh pada konsep ‘kaus oleh-oleh khas Bogor’. Desain yang dia buat memang selalu berkaitan dengan Bogor. Hingga kini, dibantu dengan rekannya, Dodi, kaus produksi mereka terus dipromosikan sebagai ‘kaus oleh-oleh khas Bogor’. Saat ditemui tim Bintang.com di kediamannya yang sekarang juga dijadikan salah satu outlet kausnya, Luthfi membagikan perjalanan kesuksesannya.

Bagaimana awal dimulainya bisnis kaus oleh-oleh ini?

Ide-idenya, sih, tahun 2010 sudah ada. Tahun 2010 saya bikin sendiri, karena saya hobi desain. Terus melihat peluang juga di situ. Pada saat itu belum ada kaus oleh-oleh sejenis ini. Ada, sih, tapi menurut saya itu kurang Bogor banget. Mereka terlalu sederhana mengambil tema Bogor-nya. Saat itu saya masih muda juga, terus merasa nggak asik kalau pakai kaus itu. Lalu ada ide bikin sesuatu yang lain. Saya mau angkat tentang Bogor tapi dari sisi yang lebih up to date dan lebih anak muda.

‘Yang lebih up to date dan lebih anak muda’ itu yang seperti apa?

Saat itu kebetulan lagi booming Transformer, ide dasarnya, sih, mobil-mobil keren yang jadi robot. Lalu menangkap ide itu, kita bikin desainnya tapi mobilnya mobil angkot. Bogor kan terkenal banyak angkotnya. Itu desain pertama yang kita buat.

Bagaimana proses produksi dan penjualan kaus ini?

Dari desain pertama, kita sudah pakai brand Unchal, tapi produksinya baru 20 kaus, di jualnya pun ke teman-teman sendiri. Tapi ternyata responnya bagus. Akhirnya bikin lagi, cetak lagi. Saat yakin sudah makin bagus, baru berani jual ke luar. Awalnya juga jual online via Facebook. Tapi karena pada waktu itu masih bisnis sampingan, jadi belum fokus mengurusnya.

Bagaimana cara mengenalkan Unchal ke pasar sebagai kaus oleh-oleh khas Bogor?

Kita, sih, maunya masyarakat Bogor dulu yang kenal dengan Unchal. Jadi tahun 2013 kita mulai aktif ikut pameran di sekolah, di kampus, di bazaar pemerintah, itu terus kita ikutin. Kalau masyarakat Bogor sudah akrab dengan Unchal, nanti kan dengan sendirinya kalau ada wisatawan nanya, “oleh-oleh khas Bogor apa, sih?” masyarakat sendiri yang akan menyebut Unchal.

Kendala seperti apa yang dialami saat menjalankan bisnis ini, lalu bagaimana mengatasinya? 

Kendala itu ada aja kalau dalam bisnis. Waktu kita buka toko pertama di sebuah mall baru di daerah Cibinong, itu kita sempat down karena sepi. Toko kedua kita buka di mall lain di Bogor, lho ini kok rame, bahkan jauh di luar perkiraan kita. Kita analisis, berarti yang salah bukan produknya. Dan memang benar, di Cibinong itu mall baru, pengunjung masih sepi, pantas aja toko kita sepi. Sampai sekarang kita punya total 7 kandang. Kandang itu sebutan untuk outlet kita, karena ‘uncal’ kan hewan.

3 dari 3 halaman

Fokus Pada Proses Kreatif, Abaikan Peniru

Kepada Bintang.com Luthfi mengakui, pada awalnya bisnis kaus oleh-oleh ini hanya sekadar sampingan baginya. Dalam perjalanannya dari 2010 pun ia sempat mundur beberapa kali. Baru di 2013 ia fokus menggeluti bisnis kaus ini. Dibantu salah satu rekannya, Dodi, ia mengembangkan kaus khas oleh-oleh buatannya dari berbagai sisi. Saat ditanya mengapa akhirnya mereka memutuskan untuk menekuni bisnis ini, keduanya seakan bersepakat bahwa bisnis ini bisa maju. Kini, keyakinan keduanya seakan terbayarkan dengan perkembangan bisnis yang mereka organisir bersama.

Bagaimana perkembangannya dari sisi produksi?

Sekarang kita produksi perdesain minimal 120 potong. Perbulannya total kita produksi 3000-4000 kaus.

Sudah pernah ada yang meniru desainnya?

Wah, kalau yang niru, banyak!

Lalu bagaimana menyikapi peniruan desain tersebut?

Sampai sekarang masih kita biarkan aja, karena kalau kita urus proses hukum, itu akan makan waktu dan tenaga. Sementara kita bergelut di dunia kreatif, kalau energinya habis dipakai mengurus peniru, yang ada malah kita yang stuck. Kita mikirnya, selama kita kreatif, pasti kita ditiru. Jadi biar aja, dengan ditiru itu jadi satu tolak ukur juga bahwa produk kita berhasil.

Apa tidak ada ketakutan peniruan itu akan mematikan pasar?

Pasti ada. Tapi balik lagi, kita ini bergerak di bidang kreatif. Daripada energi kita dihabiskan untuk mikirin itu, lebih baik kita fokus mengembangkan apa yang kita punya. Kita pakai prinsip ATM, yakni amati, tiru, dan modifikasi. Bedanya, kita nambahin faktor B yaitu 'better'. Unchal juga bukan bisnis kaus pertama di Bogor, tapi ya itu tadi, setelah mengamati, meniru dan memodifikasi, kita membuatnya punya nilai lebih, seperti misal dari tag brand-nya, lalu permainan copy ukuran. Kalau S itu kan artinya small, tapi kita plesetin jadi 'sempit'. Semacam itulah. Kemasan produk juga kita buat unik, kita nggak pakai kantung plastik, tapi kotak pembungkus. Itu pembeli suka. Malah pada nanyain bungkusnya kalau beli. Jadi saya rasa, kita udah nemuin faktor 'B'-nya di sini.

 

Tiga tahun setelah digeluti dengan serius, kini mereka bisa memperoleh keuntungan hingga Rp250 juta setiap bulan dari ketujuh kandang di berbagai penjuru kota Bogor. Lebih dari itu, Luthfi mengaku mendapatkan keuntungan lain yang tak ternilai harganya dari bisnis ini, yakni ketika di suatu tempat dirinya bertemu dengan orang tak dikenal memakai kaus hasil desainnya. "Sudah dapat uang dari ngerjain hobi, terus lihat hasil karya kita diapresiasi, itu kan happy," ungkapnya.

Luthfi dan Dodi masih terus fokus mengembangkan bisnis kausnya. Tentu saja, untuk mewujudkan misi jangka panjang mereka; sukses menempatkan produknya jadi kaus oleh-oleh khas kota Hujan.