Tenun Ikat Tanimbar Diolah Menjadi Pakaian Ready to Wear Bergaya Jepang

Yuni Haumahu diperbarui 19 Apr 2018, 02:18 WIB

Fimela.com, Jakarta Indonesia memiliki banyak ragam budaya yang sangat menarik. Salah satunya kain tradisional, di setiap daerah kain ini berbeda-beda salah satunya adalah tenun ikat Tanimbar, kain tenun asal Maluku Tenggara Barat yang berusaha naik ke permukaan.

Indonesia kaya akan beragam kearifan lokal berupa kain tradisional, we know it. Tapi sudahkah tahu bahwa Indonesia bagian Timur, lebih tepatnya Maluku Tenggara Barat memiliki kain tenun yang khas dan cantik? Provinsi yang terletak di bagian utara benua Australia ini memiliki kain tradisional berupa Tenun Ikat Tanimbar, yang ternyata tak kalah istimewa dari kain tenun daerah lain.

Apalagi setelah mendapat sentuhan dari perusahaan minyak dan gas bumi asal Jepang INPEX dan desainer fashion Indonesia Wignyo Rahadi. Ada alasan khusus mengapa INPEX memilih tenun Tanimbar sebagai program investasi sosialnya.

Karena Tanimbar atau Maluku Tenggara Barat adalah daerah operasi INPEX sebagai operator blok minyak dan gas bumi. Maka INPEX berkomitmen mengembangkan masyarakat daerah tersebut (sesuatu yang wajib dilakukan semua investor dan pengusaha asing di tanah air, sebenarnya). 

Tak hanya berusaha memperkenalkan dan mengangkat nama kain tenun ikat Tanimbar di dunia fashion regional dan internasional, pelatihan juga diberikan bagi para penenun (penenun aktif berjumlah 20% dari populasi perempuan di Tanimbar). 

What's On Fimela
Kain tradisonal yang masih jarang ditemui.
2 dari 2 halaman

Tenun Ikat Tanimbar Diolah Menjadi Koleksi Ready to Wear

Kolaborasi unik hasilkan tenun ikat bergaya Jepang.

Bekerja sama dengan pemerintah Maluku Tenggara Barat dan desainer fashion Wignyo Rahadi dari Tenun Gaya, kolaborasi unik ini terjadi. Di tangan Wignyo Rahadi bersama Chossy Latu, tenun ikat Tanimbar ini diolah menjadi koleksi ready-to-wear yang terinspirasi dari pakaian tradisional Jepang, yakni kimono, hakama, dan obi. Koleksi bertema “Metamorphoeast” ini kemudian ditampilkan pertama kalinya di Tokyo, Jepang, April lalu dan mendapat sambutan positif dari pemerhati fashion di sana.

Wignyo Rahadi sendiri memang sudah dikenal sebagai desainer fashion yang sangat dekat dengan kerajinan tenun. Tak hanya mengolah kain tenun, tapi juga membina para pengrajin tenun. Koleksi rancangannya merupakan favorit keluarga mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan salah satu kreasinya yang terkenal adalah ‘Kemeja Tenun SBY'. Berkat kecintaannya pada kain tenun, sederet penghargaan telah diterima desainer yang juga aktif dalam Dewan Kerajinan Nasional dan National Vice Chairman Indonesian Fashion Chamber ini.

Di tengah geliat kain tradisional yang menjelma menjadi fashion terkini, kehadiran tenun ikat Tanimbar ke permukaan semakin menonjolkan kekuatan lokal nusantara di panggung internasional. Dan ternyata, kepulauan kecil yang berada jauh di Tenggara Barat Indonesia tersebut memiliki potensi yang sangat bisa dikembangkan. Kolaborasi tenun ikat Tanimbar ini tentu menggembirakan, karena sejauh ini, kain tradisional ini baru diperkenalkan di sejumlah fashion show dan pameran di Jakarta. Juga sebagai seragam untuk acara-acara nasional.

 

Reporter: Monica Dian

Sumber: Fimela.com