The Seven Reasons Men Don't Listen

FimelaDiterbitkan 08 Februari 2011, 15:02 WIB

 

 

 

 

 

Dia menyebutnya 4 Penyebab Perpisahan – termasuk beberapa masalah komunikasi. 4 Penyebab tersebut adalah Kritikan (“Kamu selalu mengeluh”), Ketidakpuasan (“Kamu berantakan”), Defensif (“Bukan aku masalahnya, kamu!”) dan Membangun Tembok (menutup diri atau memutuskan diam). Masalah lainnya termasuk memulai percakapan dengan gaya menuduh atau keras, memberikan bahasa tubuh yang defensif atau dingin, membanjiri pasangan dengan negatifitas, dan mengungkit cerita lama, keluhan dan luka.

Bukan berarti kesalahannya selalu ada pada laki-laki – atau mereka lebih banyak jadi masalah dibanding perempuan. No group is innocent, no group is perfect. Tapi memang seringkali laki-laki memang punya kesulitan untuk membuka diri dan mendukung secara emosional perempuan yang ada dalam hidup mereka. Here are some reasons.

  1. Beberapa laki-laki melihat sebuah hubungan sebagai permainan yang terdiri dari menang dan kalah. Kalau perempuan mengungkapkan perasaan, dia menang dan laki-laki kalah. Hasilnya laki-laki berusaha untuk mendominasi dan mengontrol perempuan, dengan bilang kalau si perempuan nggak logis, out of control atau nggak bisa dimengerti.
  2. Banyak laki-laki yang mengungkapkan respon mereka dengan komentar sarkastik – merendahkan,  nggak puas, mengkritik dan arogan. Contohnya, merespon dengan, “Pasti lagi PMS” atau malah bilang “Ambilkan aku minum.” Mereka berpikir kalau sarkasme akan membuat perempuan diam atau membantu perempuan melihat kalau sedang berlaku nggak jelas. Hasilnya perempuan mendapat kesan kalau laki-laki bukan hanya nggak peduli – but that he is the last person to ask for support. Laki-laki berpikir kalau dia pintar dan lucu – sementara perempuan berpikir kalau he just doesn't get it.
  3. Mereka berpikir kalau menunjukkan atau mengatakan sesuatu yang emosional kepada perempuan itu nggak macho. “Kalian mau kami jadi banci,” kata mereka. Mereka percaya kalau peran laki-laki itu harus kuat, malah mendominasi. Menunjukkan emosi adalah untuk laki-laki yang lemah.
  4. Beberapa laki-laki, mendengarkan keluhan atau perkataan perempuan membuat mereka kesal sehingga harus menyalurkan perasaan marah atau memilih untuk pergi. Malah, menurut riset, denyut jantung laki-laki bertambah cepat saat merasa menghadapi konflik. Hasil dari emosi yang meninggi – which they can’t tolerate – mereka akan menyuruh perempuan diam – atau meninggalkan tempat.
  5. Alasan lain laki-laki nggak menunjukkan perasaan, mereka percaya kalau meladeni curhat pasangan ujung-ujungnya menjadi keluhan, yang nggak akan berhenti mengalir. Jadi mereka ingin menghentikan dengan menggunakan sarkasme, mengontrol atau menarik diri. Perempuan jadi merasa kalau laki-laki nggak mau mendengarkan, so she goes somewhere else to get that support – another woman friend – or another man.
  6. Beberapa laki-laki berpikir kalau perempuan harus selalu rasional dan jika nggak rasional maka nggak bisa ditolerir. Respon laki-laki saat pasangan nggak rasional adalah menunjukkan setiap kesalahan dalam pemikiran perempuan, mengecilkan, sarkastik atau menarik diri. Padahal komunikasi mestinya lebih tentang menenangkan, mengembangkan, menghubungkan – dan nggak cuma sekedar memberikan informasi dan menjadi logis.
  7. Semua masalah harus dipecahkan. Para laki-laki berpikir kalau alasan utama untuk berkomunikasi adalah membagi fakta yang kemudian bisa digunakan untuk memecahkan masalah. Mereka berpikir kalau hanya mengeluarkan perasaan dan share feelings nggak akan menyelesaikan masalah. Sehingga kalau perempuan terlihat nggak mau mencari masalah yang ada dan memecahkannya artinya dia hanya menghabiskan waktu dan energi. Sehingga saat laki-laki memberikan pilihan penyelesaian masalah, dia hanya membuat perempuan semakin emosi karena nggak merasa didengarkan atau menutup diri.

Coba tanya pada diri sendiri, “Apakah respon seperti ini bisa berhasil?” Kenapa sikap dan pemikiran seperti ini menjadi penyebab perpisahan? Kalau hubungan nggak berhasil – kamu dan pasangan tahu – mungkin waktunya untuk membuat perubahan. Kamu bisa mengubah pasangan dengan cara putus atau berpisah. Atau, lebih mudah untuk mengubah reaksi atau respon terhadap pasangan.

Dasar penting dari hubungan adalah kita ingin merasa kalau pasangan kita peduli dan menghormati perasaan kita. We want to believe kalau mereka punya waktu untuk mendengarkan. Kita ingin di-support, ditenangkan and that we are not a burden. Tujuh fakta di atas – yang digunakan laki-laki – hanya mengasingkan perempuan yang katanya mereka cintai. It it’s not working, why would you continue to act this way?

Jawabannya bisa jadi karena laki-laki melihat hubungan dalam kacamata power and control. Mereka percaya kalau laki-laki sejati nggak akan kalah atau giving up your power. Menurut mereka perempuan harus tahu tempat, nggak dimanjakan, dan diajarkan cara berpikir rasional dan memecahkan masalah. Of course, rasional dan memecahkan masalah itu penting, tapi kalau pasangan ingin didengar dan dihormati artinya laki-laki harus benar-benar mendengarkan dan mengerti sebelum loncat dan mengambil alih kendali. Real men share power, real men are partners, real men know that real women need real respect.

 

What's On Fimela

Tag Terkait