Kesetaraan Perempuan dan Laki-Laki, Topik yang Masih Bisa Dibicarakan?

Fimela Editor diperbarui 31 Agu 2012, 11:59 WIB
2 dari 5 halaman

Next

Saat ini (seharusnya) perempuan sudah bebas untuk menentukan langkah yang akan dijalani nantinya. Misalnya saja dalam pendidikan, perempuan tidak lagi dibatasi jenjang pendidikannya dengan alasan ‘kodrat dasar perempuan yang harusnya hanya mengurusi masalah rumah tangga’. Ya, seringkali kata ‘kodrat’ menjadi belenggu untuk perempuan bergerak sesuai dengan kata hatinya. Bukankah dengan bebasnya seorang perempuan bergerak, tidak lantas ia melupakan kodratnya yang dilahirkan sebagai Ibu untuk anak-anak mereka kelak.

Membaiknya taraf pendidikan perempuan maka dengan sendirinya membuka berbagai peluang lain yang membuat kita berkesempatan bisa mendapatkan hak yang sama dengan apa yang bisa diperoleh oleh kaum lelaki. Emansipasi atau yang berarti kesetaraan lebih sering digaungkan dalam kehidupan kita saat ini. Sering munculnya isu kesetaraan perempuan dalam berbagai bidang maka dengan demikian terangkatlah istilah ‘feminis’ di Indonesia. Padahal, ‘feminis’ sudah tercetus di Eropa sejak abad ke-19.

What's On Fimela
3 dari 5 halaman

Next

 

“Jujur, saya kurang suka dengan ungkapan feminis atau emansipasi. Karena menurut saya feminis itu lahir dari rasa marah, kesal, merasa tidak diperlakukan adil, dan tertindas sehingga output-nya membuat kita ingin merasa sama atau bahkan lebih dari laki-laki. Padahal, jika diibaratkan, laki-laki dan perempuan seperti meja dan kursi, masing-masing memunyai fungsi yang berbeda sehingga tidak bisa dikatakan bahwa yang satu lebih baik dari yang lainnya. Sedangkan berbicara emansipasi sama saja layaknya meja dan kursi bertengkar memperebutkan tempat terbaik. Walaupun dikatakan ingin membela hak perempuan, namun tetap saja bahwa semua langkah ini berawal dari ketidakpuasan hati ditambah lagi kurangnya kesadaran terhadap fungsi diri sendiri,” Bunga Mega, Founder Komunitas CeweQuat berkomentar.

Namun pada kenyataannya, di balik kondisi ideal tersebut, masih banyak juga ketimpangan yang terjadi di sekitar kita. Masih banyak perempuan yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan. “Di Indonesia ketimpangan masih banyak terjadi. Contohnya, beberapa waktu lalu saya semat mengunjungi sebuah panti perempuan, di sana banyak sekali korban kekerasan dalam rumah tangga dan korban pemerkosaan. Banyaknya ketimpangan yang terjadi di Indonesia dikarenakan konsep patrialisme sangat mengakar pada budaya Indonesia dan masih banyak perempuan yang “pasrah” sekalipun menerima perlakuan yang tidak menyenangkan,” Bunga menambahkan.

4 dari 5 halaman

Next

 

Menurut Genih Mamanda, S. Hum, alumni FIB Universitas Indonesia yang menyelesaikan tugas akhirnya dengan mengangkat topik gender dalam sastra, ideologi dasar feminisme adalah mengenai kesetaraan gender; laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Namun, pada perkembangannya feminisme pun terpecah-pecah, ada yang liberal dan juga ada yang radikal dan tentu setiap jenis pun berdasarkan ideologi yang berbeda pula. Namun demikian, seorang ahli gender tidak selalu mau disebut dirinya feminis.

Dengan dukungan masyarakat yang semakin teredukasi dengan baik maka kesetaraan hak laki-laki dan peremuan pun semakin terbuka. “Melihat masih banyaknya perempuan Indonesia yang berada dalam posisi yang kurang menguntungkan, saya ingin melakukan sesuatu untuk mereka,” ujar Bunga. Saat ini, perempuan sudah bisa mengaktualisasikan diri mereka dalam berbagai bidang yang memang mereka minati. Hingga muncullah perempuan-perempuan yang mengambil profesi yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh perempuan sebelumnya, misalnya saja pilot dan driver.

5 dari 5 halaman

Next

 

Bukan hanya itu, semakin banyaknya perempuan yang teredukasi dengan baik, banyak melahirkan komunitas perempuan yang juga ingin mencerdaskan dan peduli terhadap sesama, misalnya saja Komunitas Perempuan Indonesia dan Komunitas CeweQuat. Kedua komunitas tersebut sama-sama bertujuan mengangkat perempuan untuk bisa lebih baik lagi dan bisa bersinergi dengan laki-laki.

Rasanya, konsep ‘kesetaraan’ yang diusunglah yang saat ini harus diperjelas. Bagaimana pun juga, sebagai sesama perempuan tentu kita harus mendukung kemajuan perempuan lainnya dengan mulai melakukan tindakan nyata. Buka mata dan lihat sekeliling, masih banyak kegiatan positif yang bisa kita lakukan.