3 In 1 Tidak Efektif, Jokowi Buat Kebijakan Baru untuk Lalu Lintas Jakarta

Fimela Editor diperbarui 18 Des 2012, 10:00 WIB
2 dari 4 halaman

Next

Bagi warga Jakarta ataupun mereka yang mencari nafkah di Jakarta, menghadapi kemacetan lalu lintas sudah menjadi bagian dari jadwal harian mereka. Semakin hari tingkat kemacetan di Jakarta semakin parah. Dulu, macet masih bisa diprediksi, yakni saat pagi ketika berangkat kerja, jam makan siang, dan pulang kerja. Namun kini, rasanya hampir 24 jam jalanan di Jakarta dikepung dengan barisan kendaraan setiap hari.

“Saya selalu narik taksi shift malam. Dulu, mengantar penumpang jam 10 atau 11 malam dari daerah Sudirman ke Bekasi bisa ditempuh hanya dengan 40 menit atau paling lama 1 jam. Sekarang mah, jam 11 malam saja saya masih kedapatan antre di jalan tol. Macet Jakarta sekarang ini sudah nggak bisa diprediksi. Jalan tol nggak menjamin kita akan terbebas dari macet, bahkan biasanya jalan tol lebih parah dari jalan biasa. Entahlah, sampai kapan Jakarta akan seperti ini yang saya dengar nantinya 3 in 1 akan dihapus buat ngurangin macet. Tapi, saya kok ya saya pesimis sistem baru nanti bisa mengurangni macet,” ujar Yusuf, salah satu supir taksi yang biasa mangkal di daerah Sudirman.

3 dari 4 halaman

Next

 

Salah satu cara yang digunakan untuk mengurangi kemacetan Jakarta adalah dengan memberlakukan sistem 3 in 1 pada jalur-jalur utama di Jakarta. Setiap hari kerja, Senin—Jumat mulai pukul 07.00—10.00 dan pukul 15.30—19.00, mobil yang melintasi jalan-jalan tertentu harus berpenumpang 3 orang atau lebih. Sistem ini diterapkan untuk mengurangi kemacetan pada jam-jam krisis.

Namun ternyata, sistem tetaplah sistem karena masyarakat masih bisa mengakali kebijakan tersebut dengan hadirnya joki yang menawarkan diri sebagai penumpang agar pengendara mobil bisa dengan leluasa melewati jalur 3 in 1 dengan aman. Kini, setelah kurang lebih 2 bulan menjabat, Pemda baru DKI Jakarta berencana untuk menghapus sistem 3 in 1 yang sudah sekitar 8 tahun berlaku di Jakarta.

Jokowi dan jajarannya akan menerapkan sistem pelat ganjil dan genap di jalan-jalan tertentu mulai pertengahan tahun depan. Rencananya Jokowi akan memberikan tanda dengan cat merah untuk pelat ganjil dan warna hijau untuk pelat genap. Untuk penerapan wilayah pelat ganjil dan genap adalah wilayah yang selama merupakan wilayah 3 in 1. Sehingga untuk menghindari tumpang tindih antara sistem pelat ganjil-genap dan sistem 3 in 1 yang selama ini sudah berjalan, Jokowi akan menghapus peraturan tentang 3 in 1. Namun, lagi-lagi warga pun masih pesimis sistem baru ini nantinya bisa mengurangi kemacetan Jakarta.

4 dari 4 halaman

Next

 

“Entahlah, saya tidak terlalu berharap sistem baru ini nantinya bisa mengurangi 3 in 1. Yang ada, nantinya bisa saja satu kendaraan punya dua buah pelat. Kita tidak bisa menutup mata bahwa aparat birokrasi kita masih terlalu patuh dengan uang sehingga hal-hal yang semacam ini pun bukan tidak mungkin terjadi. Atau mungkin, mereka yang punya lebih dari satu kendaraan akan bertukar kendaraan setiap harinya,” Mala, karyawan swasta, angkat pendapat.

Rasanya nggak bisa menyalahkan masyarakat juga jika mereka berpikir pesimis terhadap upaya-upaya pemerintah untuk mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta. Karena setiap tahunnya, macet di Jakarta bukan berkurang malah bertambah parah dan membuat warga Jakarta seolah-olah imun menghadapi lalu lintas Ibukota. Namun, tentu kita semua berharap rencana sistem yang akan diberlakukan Pemda baru bisa mengurangi intensitas waktu kita berada di jalan raya.

 

Foto: Berbagai sumber