Perempuan Pilih Nikah Tanpa Cinta daripada Hubungan Tanpa Masa Depan

Fimela Editor diperbarui 11 Mar 2013, 07:59 WIB
2 dari 4 halaman

Next

Minggu lalu FIMELA.com membuat polling yang hasilnya cukup mengejutkan. Lebih dari 50% Fimelova memilih kejelasan status ketimbang memenangkan perasaan. Ya, pernikahan diyakini menjadi “gol” dari sebuah hubungan. "Buat apa menjalin hubungan kalau tidak ada ujungnya? Dalam hidup, termasuk cinta, kita ingin ada di titik puncak supaya hasil dari usaha, penyesuaian, sampai tiap masalah yang berhasil dilewati ketika berproses terlihat nyata," Nining (31, ibu rumah tangga) beralasan.

Lain Nining lain pula dengan Agusta (32, HR officer), katanya, “Di posisi sekarang sudah sangat nyaman, buat apa lagi ada pernikahan? Malah panjang urusannya kalau sesuatu yang buruk terjadi. Yang penting kami tahu kami saling mencintai.” Apa kata Agusta juga dibenarkan oleh Anasdina (28, sales executive), yang sampai sekarang masih asyik berpacaran, “Kalau aku dan pasangan bisa langgeng walau tanpa ikatan, aku yakin cinta kami jauh lebih dahsyat dari cinta orang-orang yang terikat dalam pernikahan, yang mau tak mau harus menjaga komitmen karena sudah terlanjur ‘terjebak’ status. Kami setia karena kami ingin setia, bukan setia karena keadaan mengharuskan kami begitu. Tantangannya lebih besar, lho.”

What's On Fimela
3 dari 4 halaman

Next

Apa yang diungkapkan Anasdina ada benarnya, seharusnya kesetiaan dijaga karena rasa cinta, bukan karena status. Lalu tepatkah alasannya, cinta pasangan yang memilih tak menikah bisa lebih besar dari mereka yang terikat dalam pernikahan? Bisa jadi begitu, karena tiap cinta dalam tiap hubungan memiliki kadar yang berbeda. Mengenai alasannya, menurut psikolog Teman Hati Konseling Ajeng Raviando, seseorang tidak ingin berkomitmen atau mengikatkan diri dengan seseorang karena berbagai pertimbangan. “Lebih santai dan tak ada tuntutan merencanakan masa depan, misalnya. Biasanya karena ragu terhadap kemampuan menjalani hubungan serius, atau bisa juga karena belum yakin dengan pasangan, situasi kurang mendukung, dan hanya ingin main-main,” jelas Ajeng.

Bagaimana dengan kelanjutan hubungan tanpa masa depan? Masih menurut Ajeng, hal itu bisa berujung negatif karena menyebabkan timbulnya konflik baru. Baginya, perempuan cenderung resah ketika merasa cocok dengan laki-laki tapi tak kunjung berkomitmen, sementara laki-laki resah karena memikirkan sanggup atau tidak, siap atau tidak, yakin atau tidaknya berkomitmen. Padahal, kita tak akan pernah bisa menemukan sosok sempurna kalau tak menerima seseorang apa adanya. Dalam hal ini, Roslina Verauli, psikolog yang aktif mengisi talkshow dan mengajar di beberapa universitas ternama meyakinkan, “Justru ketidaksempurnaan yang menjadikan sebuah kisah cinta sempurna.” Nah!

4 dari 4 halaman

Next

Bagaimana dengan pernikahan tanpa cinta? Psikolog Sawitri Supardi, konselor pernikahan dan dosen Universitas Padjajaran, juga mewacanakan hal ini dalam sebuah acara. “Ada yang berpikir cinta akan tumbuh dengan sendirinya dari kehidupan yang dijalani berdua, padahal risikonya terlalu besar, misalnya rentan pertengkaran dan tidak bahagia. Namun, tidak ada yang bisa menilai benar atau salah adanya pernikahan tanpa cinta, karena semua tergantung pandangan dan kepribadian orang yang menjalaninya,” papar Sawitri.

Menurut teori segitiga Robert Stenberg, hubungan dibangun atas 3 unsur, yaitu keintiman emosional, gairah, dan komitmen. So, dua pilihan, antara menikah tanpa cinta maupun cinta tanpa pernikahan, tak memenuhi kualifikasi hubungan yang sempurna. Dalam pernikahan tanpa cinta umumnya keintiman maupun gairah tak ditemukan, dan hubungan tanpa pernikahan mengaburkan arti dari komitmen itu sendiri. Ah, tapi sepanjang apa pun dibahas, tetap saja semua kembali pada pilihan masing-masing. Mencintai itu perasaan sakral yang (biasanya) dipatenkan dalam komitmen pernikahan, tapi memang tak semua hubungan punya jalan yang mulus, dan bahwa tak semua orang membutuhkan status untuk menjagai perasaan yang dimilikinya.

“Aku sendiri tidak mau memilih antara keduanya. Masuk dalam pernikahan tanpa cinta ibarat masuk kantor dengan profesi dan jobdesk yang kita tidak sukai. Apalagi ini seumur hidup. Pilihan kedua, cinta tanpa menikah, ibarat lari di atas treadmill, going nowhere. Dan namanya orang saling mencintai, pasti punya harapan atau visi mau ke mana hubungan itu,” Bunga Mega (29, founder dan CEO komunitas CeweQuat) ikut berpendapat. Bagaimana, masih tertarik membahasnya panjang-lebar, atau menyerahkan pilihan ke masing-masing pribadi? Kami mewacanakan, kalian yang tentukan.