Republik Cangik, Ketika Panakawan Tentukan Nasib Negara

Fimela Editor diperbarui 18 Nov 2014, 18:05 WIB

Jakarta Itulah pertanyaan besar yang dimunculkan oleh Teater Koma dalam lakon “Republik Cangik”, pementasan terbaru yang dimainkan oleh kelompok teater ternama Indonesia yang sudah berdiri lebih dari tiga puluh tahun. Ini adalah produksi ke-136 yang dibuat oleh Teater Koma namun tetap, pertunjukan yang menghibur seraya menggelitik bisa dikemas dengan apik oleh mereka.

Adalah Cangik, seorang emban atau abdi perempuan dari Maharaja Surasena pemimpin Negeri Suranesia, sedang kelimpungan mencari penerus tahta kerajaan negeri yang dikenal dengan sebutan Old Mandura. Pasalnya Sang Maharaja baru saja meninggal dunia dan tak ada yang mau menggantikannya. Anak-anak Sang Maharaja pun tak ada yang mau jadi pemimpin seperti ayahnya.

Cangik terbeban berat untuk mencari penerus bangsa Suranesia. Dibantu anaknya, Limbuk, perempuan bertubuh tambun yang punya peringai slengekan, mereka memanggil bala bantuan dari segala penjuru untuk membantu memilih siapa satu orang yang pas untuk jadi pemimpin. Akhirnya Cangik mengundang bangsawan seperti Gatotkaca, panakawan seperti Semar, perwakilan dewa seperti Batara Nada, hingga Ratu Para Setan yang bernama Permoni untuk bersama-sama voting dan menentukan siapa yang akan memegang tampuk pemerintahan Suranesia selanjutnya. Cangik berkata bahwa ada enam calon yang bersedia menjadi pemimpin dan mereka harus memilihnya.

Saat enam calon itu muncul, penonton dibuat tergelak lantaran mengingat fenomena yang baru saja kita alami beberapa waktu lalu. Santanu Garu misalnya, ia datang ke panggung dengan menaiki kuda dan menembak ke sana ke mari (dengan kuda dan tembakan artifisial, tentunya). Atau Graito Bakari, yang bilang bahwa ia sudah membuat karya besar bagi Negara Suranesia, yaitu Pulau Lumpur dan percaya bahwa suatu saat rakyat pasti berterimakasih dengan karyanya itu.

Di antara enam orang tersebut, sosok Jaka Wisesa lah yang menarik hati Gatotkaca dan kawan-kawan. Karena hanya Jaka satu-satunya calon pemimpin yang mengusung Hasta Brata, delapan sifat unggul yang harus dimiliki oleh pemimpin, yaitu sifat bumi, matahari, bulan, samudra, bintang, angin, api, dan air. Namun, ada satu yang tak setuju dengan Jaka lantaran Jaka bukanlah dari kalangan atas, melainkan hanya rakyat miskin yang bapaknya adalah penjual kayu. Hal yang menarik adalah ada adegan di mana sebelum Jaka Wisesa maju ke area pencalonan, Cangik berbisik dan berkata bahwa Jaka harus selalu ingat bahwa yang bikin dirinya bisa maju hingga tahap calon pemimpin negara adalah Cangik. Bahwa Jaka tak boleh sedikitpun lupa akan jasa Cangik terhadap kemajuan karirnya.

Kisah pencarian pemimpin sebuah negeri yang besar ini diolah secara rinci oleh Sang Sutradara dan Penulis Skenario, Nano Riantiarno. Ia mengaku memang terinspirasi dengan keadaan Indonesia belakangan ini. Tapi tentu ia tak punya tendensi apapun dengan memunculkan para calon presiden dengan lakon yang menggelitik ke atas panggung. “Semuanya kembali kepada penonton apakah saya menyindir atau tidak. Yang pasti, saya sudah menyiapkan pementasan ini sejak Januari. Tentu, dengan beberapa penyesuaian keadaan. Saya hanya ingin lewat lakon ini, kita jadi berpikir “Sesudah musibah, adakah berkah?”. Kita lihat saja bagaimana pemerintahan Indonesia beberapa tahun ke depan,” ujar Nano Riantiarno pada FIMELA.com.

Tontonan menarik, segar, dan tak membuat dahi berkerut. Jadi rekomendasi untuk tontonan bersama keluarga maupun kawan-kawan sehabis pulang kerja. Lakon ini masih dipentaskan hingga akhir pekan, 22 November, di Gedung Kesenian Jakarta. You should watch it, Fimelova!