WHO: Tahun 2030 Penderita Kanker Payudara di Indonesia Naik 7 Kali Lipat

Melida Rostika diperbarui 08 Feb 2018, 13:30 WIB

 

Jakarta Topik pembahasan mengenai kanker memang tak pernah habis untuk dibahas. Serba-serbi risiko, deteksi dini dan upaya pencegahan selalu menarik untuk didengar, dan mampu jadi informasi yang bisa dibagikan ke sesama sahabat perempuan. Indonesia memiliki kasus penderita kanker dengan angka yang semakin meningkat setiap tahunnya. Organisasi kesehatan dunia, WHO bahkan meramalkan di tahun 2030, Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah pasien kanker payudara sampai 7 kali lipat. Mengerikan, bukan?

Masih dalam rangka peringati hari kanker sedunia yang jatuh pada 4 Februari lalu, Fimela berkesempatan mengikuti diskusi kecil seputar fenomena kanker payudara bersama dokter spesialis bedah konsultan Onkologi dari RS Pondok Indah. Menurut dr. M. Yadi Permana, Sp. B (K) Onk terdapat beberapa resiko pemicu kanker yang sebeneranya mampu dicegah, bila kita sudah mengenal faktor-faktor resikonya. 

Beberapa faktor resiko yang memang sulit untuk dihindari di antaranya, riwayat keluarga dari garis keturunan Ibu yang pernah menderita kanker payudara, riwayat radiasi berlebih untuk pengobatan di daerah dada, penggunaan alat kontrasepsi dan terapi hormonal, serta usia menstruasi dan menopause yang lebih cepat dari umumnya. Namun, faktor resiko terkena kanker payudara yang disebabkan oleh berat badan berlebih, mengonsumsi alkohol dengan jumlah melewati batas, sesungguhnya mampu dicegah, tak lain dengan mengubah pola hidup jadi lebih sehat. 

Tak berhenti di situ saja, selain upaya pencegahan, deteksi dini harus selalu dilakukan bagi setiap perempuan. Langkah awal deteksi dini mampu dilakukan dengan melihat apakah terdapat perubahan bentuk fisik pada bagian payudara. Misalnya perubahan pada kulit payudara yang berupa cekungan kedalam atau kerutan. Kemudian timbulnya benjolan besar atau kecil, yang bila kita tekan, terasa bagian daging keras di dalamnya. Terakhir, perubahan pada bentuk puting payudara, misalnya terjadi luka yang tak kunjung sembuh selama 6 bulan di bagian puting, pembengkakkan atau mengeluarkan cairan kecoklatan dari puting. Bila merasakan hal-hal tersebut, wajib hukumnya untuk langsung memeriksakan diri ke dokter.

Sebenarnya, menjaga pola makan dan kebiasaan hidup sehat guna menjauhkan diri dari berbagai penyakit akan lebih maksimal, bila didukung dengan jadwal pengecekan kesehatan rutin setiap tahunnya. Pemeriksaan radiologi seperti Mammografi dan USG Payudara serta Biopsi, mampu mendeteksi dini sampai 99,5% kasus kanker payudara, setelah itu upaya penanggulangan terbaik mampu dilakukan dengan cepat, dan tak menutup kemungkinan, sel kanker mampu diminimalisir, bahkan diangkat  sekaligus. Ingat, upaya preventif medis di awal akan lebih baik dibanding saat sudah menginjak stadium lanjut kanker payudara. Jangan takut, periksakan sekarang. 

 

 

(pic: Exclusive)