Gunung Anak Krakatau Meletus hingga 56 Kali

Gadis Abdul diperbarui 13 Jul 2018, 19:03 WIB

Fimela.com, Jakarta Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung dilaporkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meletus sebanyak 56 kali. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu bervariasi mulai dari ketinggian 200 meter hingga 1.000 meter di atas puncak kawah.

Dilansir Liputan6.com, Jumat (13/7/2018), Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, letusan sebanyak 56 kali tersebut terjadi sebanyak 56 kali selama 24 jam sepanjang Rabu, 11 Juli 2018. "Letusan disertai lontaran abu vulkanik, pasir dan suara dentuman. Secara visual pada malam hari teramati sinar api dan guguran lava pijar. Hembusan 141 kejadian dengan durasi 20-172 detik," kata Sutopo, Kamis, 12 Juli 2018.

Sehari sebelumnya, Selasa (10/7/2018), Gunung Anak Krakatau juga meletus sebanyak 99 kali kejadian dengan amplitudo 18-54 mm dan durasi letusan 20-102 detik. Hembusan tercatat 197 kali dengan durasi 16-93 detik. Letusan disertai suara dentuman sebanyak 10 kali yang menyebabkan kaca pos pengamatan gunung bergetar.

What's On Fimela
Letusan Gunung Anak Krakatau lebih aman dan jelas dilihat dari luar zona bahaya yakni 1 km dari puncak. (foto : Liputan6.com / BNPB / edhie prayitno ige)

Banyaknya letusan Gunung Anak Krakatau tersebut memang sudah berlangsung sejak tanggal 18 Juni 2018 karena adanya peningkatan aktivitas vulkanik. "Ada pergerakan magma ke luar permukaan sehingga terjadi letusan. Namun demikian status Gunung Anak Krakatau tetap Waspada (level 2). Tidak ada peningkatan status gunung," demikian tulis Sutopo dalam rilisnya.

Status Waspada Gunung Anak Krakatau sebenarnya sudah ditetapkan sejak 26 Januari 2012 dan hingga sekarang belum diturunkan. Status Waspada tersebut artinya aktivitas vulkanik di atas normal sehingga terjadinya letusan dapat terjadi kapan saja. Tidak membahayakan selama masyarakat tidak melakukan aktivitasnya di dalam radius 1 km.