Kontroversi batik, Chitra Subyakto ungkap hak paten di Indonesia masih lemah

Meita Fajriana diperbarui 16 Okt 2018, 16:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Baru-baru ini, Indonesia kembali kebakaran jenggot menanggapi perwakilan negara tetangga, Malaysia yang menggunakan motif batik Indonesia, di ajang kecantikan internasional. Seperti kontroversi sebelumnya, Indonesia mulai gusar saat kebudayaan dan warisan nusantara mulai digunakan negara lain.

Hal ini yang diungkapkan desainer batik dengan brand Sejauh Mata Memandangang, Chitra Subyakto kepada Fimela, Selasa (16/10). Chitra mengungkapkan hal ini malah bagus untuk Indonesia. Setiap terjadi kontroversi serupa, rakyat Indonesia biasanya akan berbondong-bondong menyadari rasa kebangsaan mereka.

"Menurut saya pribadi kontroversi ini justru bagus. Justru rasa kebangsaan muncul ketika orang-orang menggunakan batik. Pada dasarnya batik sendiri filosofinya ada di mana-mana, ada di Afrika. Selama masih penduduk bumi tidak ada salanya," kata Chitra.

Perwakilan Miss Grand Internasional asal Malaysia, Debra Jeanne Poh menggunakan motif batik parang pada gelaran kecantikan ini. Batik Parang merupakan motif tertua yang berasal dari Indonesia. Bentuk huruf S yang terjalin tidak terputus menggambarkan semangat yang tidak pernah padam.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Filosofi Batik Parang

Finalis Miss Grand International 2018 asal Malaysia, Debra Jeanne Poh mengenakan batik parang. (Instagram/debrajeanne.poh)

Menurut Chitra, semua orang tahu bahwa motif batik ini merupakan milik Indonesia. Sehingga tidak ada masalahnya digunakan oleh luar negeri. Bahkan harusnya kita merasa bangga. Seperti deretan desainer mancanegara yang juga menggunakan motif batik Indonesia sebagai inspirasi dalam koleksinya.

"Motif batik Parang ini sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram dulunya. Waktu raja saat itu terinspirasi dari deburan ombak saat meditasi di pinggir pantai. Motif ini merupakan kebanggaan Indonesia, dan harusnya kita bangga ada yang memakainya di kancah internasional," tambah Chitra.

Chitra juga mengungkapkan masing-masing motif batik digunakan sesuai momennya. Seperti Batik Parang yang biasa digunakan pada upacara adat atau perang karena menggambarkan kebangsaan dan sosok yang kokoh. Ada juga motif batik yang digunakan pada upacara kematian, pernikahan, dan kelahiran.

 

3 dari 3 halaman

Hak paten di Indonesia masih lemah

Finalis Miss Grand International 2018 asal Malaysia, Debra Jeanne Poh mengenakan batik parang. (Instagram/debrajeanne.poh)

Namun, seiring berjalannya perkembangan industri fashion, banyak desain-desain baru yang terinspirasi dari batik. Hal ini menuntut rasa kesadaran masing-masing orang, jika menggunakan motif batik dengan proses pembuatan yang benar, harusnya lebih mengetahui filosofi lebih dalam.

Dengan tetap tidak menghakimi pihak lainnya, Chitra mengajak untuk lebih menghargai batik dimulai dari diri sendiri. Menganggapi kontroversi batik di Miss Grand International, Chitra mengungkapkan Indonesia sendiri harus lebih berbenah dengan hak paten.

"Hak paten dan desain kreatif di Indonesia masih lemah. Masih banyak karya yang tidak dilindungi. Dan beberapa pun ikut menyiplak dari luar. Selama bangsa lain memakai dan bisa mempromosikan batik Indonesia, kenapa harus repot," tutup Chitra.