I'm Fat and I'm Fine

Fimela diperbarui 08 Nov 2012, 14:00 WIB

Ia bilang, ia tidak bahagia punya tubuh gemuk! Dan itulah yang dirasakan Ika, 23, yang berbagi cerita ke Cosmo tentang perjalananya bisa mencapai bentuk tubuh yang ideal. [initial]

 

Sumber: Cosmopolitan Edisi Juli 2012, Halaman 229

 

 

 

 

 

(Cosmo/gil)
2 dari 4 halaman

Begin

(c) shutterstock.com

Masih ingat masa-masa SMU bersama para sahabat? Pasti fun ya, walaupun yang mungkin kerap jadi bahan omongan pasti tak jauh dari boy troubles, suka maupun duka. Sayangnya, saya tak memiliki pengalaman seperti itu – my friends have, but not me. Why? Karena saya gemuk. Dan betapa “dahsyat”-nya efek satu kata itu saat harus berkaca diri di depan cermin.

“Saya gemuk.”

“Saya nggak cantik.”

“Dan saya pun nggak pintar-pintar amat di sekolah.”

“Nggak ada yang bisa dibanggain dari diri saya.”

“I’m ugly...”

Saya tidak membenci teman-teman saya hanya karena mereka sudah punya pasangan. Saya juga membuka pintu lebar-lebar mendengarkan isi curhat mereka. I am more than happy to listen to them, and help them out if I could. Tapi tak bisa dipungkiri, rasa iri itu kadang timbul – “Mereka punya pacar, kok, saya nggak punya ya?” Walaupun banyak yang saya suka, tapi tidak ada tuh yang mencoba mendekati saya. Bagi seorang gadis dengan body issues, jelas ini akan semakin menggoyahkan kepercayaan diri.

Saya sebenarnya datang dari keluarga yang sangat penyayang dan suportif. Walau penerapan kata “suportif” di sini boleh dibilang agak unconventional. Ibu saya yang seorang wanita karier kerap memberi komentar soal tubuh saya, “Kamu kan perempuan, semestinya sadar penampilan dong,” atau “Badan kamu kok gede banget ya, coba deh atur pola makan.” Jujur saya kesal setiap kali dia berkata begitu. Ujung-ujungnya saya jadi melampiaskan kesal ke makanan (lagi). Tapi ini mungkin yang namanya tough love, I know she means well. Saya tahu dia sangat mengerti apa yang saya rasakan memiliki bentuk tubuh seperti ini, karena saya memang berasal dari keluarga yang punya 'bakat' gemuk, dengan “konstruksi” tulang yang besar.

Tapi ketika Anda overweight di masa remaja, jujur, memang agak membingungkan. Saya tak tahu bagaimana mengatasinya; saya tak tahu solusi supaya bisa kurus. How should I do it? Akhirnya, saya malah pasrah dengan situasi. Saya tak pernah pede untuk tampil gaya seperti teman-teman saya. Yang ada saya malah menyetok lemari pakaian dengan baju-baju yang longgar. Olahraga favorit: Berenang, karena setidaknya “aib” tubuh saya akan terlindung saat melakukannya. Untungnya saya masih punya sahabat-sahabat baik di sekeliling saya, just to get me through the day.


 

3 dari 4 halaman

The Turning Point

(c) shutterstock.com

Sampai akhirnya, terjadilah satu momen krusial yang menjadi turning point dalam hidup saya: Ibu saya terkena kanker payudara. Naturally it was quite a shock to us – bagaimana bisa ibu saya yang pola makannya cukup sehat (dia sangat anti vetsin) dan yang tak punya 'keturunan' breast cancer, terkena penyakit ini? Saya mendengar kabar itu langsung dari sang dokter di rumah sakit di mana Ibu melakukan biopsi untuk diambil sampel jaringan. Awalnya, sang dokter sempat kaget melihat saya sendirian saja di sana – karena ayah mesti mengantar adik ke rumah – tapi akhirnya ia melanjutkan dengan berkata, “ibu kamu terkena kanker payudara, dan perlu segera dilakukan operasi sebelum kanker nya makin menyebar.” Saya yang tak kuasa membendung air mata, segera menelepon ayah dan menyampaikan situasi yang terjadi.

Mau tak mau ibu saya mesti menjalani operasi tersebut, dan, thank God, semuanya berjalan dengan baik. Walaupun setelahnya ia mesti menjalani kemoterapi, yang karena jenisnya berbeda maka tidak memiliki efek samping kerontokan rambut, namun justru yang membuat kulit kakinya mengelupas. Jelas menyusahkan saat ia pergi dinas ke luar kota (entah berapa kali ia mesti mengganti sepatu). Pada saat itulah, ibu benar-benar menganjurkan saya untuk hidup sehat.

“Kamu sekarang sudah ada keturunannya,” ujarnya pelan, seolah ingin saya meresapi tiap kata yang diucapkan. “Kamu mungkin masih muda sekarang, tidak berasa apa-apa, tapi ke depannya, siapa yang tahu?”

Dan itulah momen di mana saya berjanji kepada diri sendiri: Yes, I want to change. I want to be healthier.

Mulailah ibu mengatur pola makannya supaya lebih sehat, yang akhirnya semua anggota keluarga pun mengikuti. Ia mendaftarkan saya bergabung ke sebuah gym di daerah Jakarta Selatan. Saya dilatih oleh seorang PT (personal trainer), tiga kali seminggu (atau kalau lagi rajin, setiap hari), selama 1-2 jam. Kegiatan ini saya lakukan saat saya baru masuk kuliah, di Fakultas Sastra UI, jurusan Sastra Belanda, makanya saya sering bolak-balik kampus dan gym. Ketika anak-anak kuliah lain lagi asyik-asyiknya berbaur dengan teman-teman lama dan making new friends, saya justru “bergaul” dengan treadmill, barbel, precor, x-training. Target saya: turun 20 kg, walau awalnya sang PT ingin saya turun 30 kg supaya saya bisa mencapai berat ideal, yaitu 55 kg. (My weight at that time: 85kg). Tapi saya keburu takut mendengar angka tersebut, cemas apabila nanti tidak sanggup mencapainya. Peka akan rasa takut saya, ia pun mengiyakan.

Awalnya, saya merasa sangat excited melakukan segala macam latihan cardio dan angkat beban yang diberikan, apalagi setelah saya melihat saya berhasil turun 6 kg, hanya dalam waktu seminggu! Can’t believe it, but I definitely want more! Oleh karena itu, rutinlah saya berolahraga, dengan pola makan lebih sehat, more on vegetables and fruits, less on carbohydrates. Bahkan, lantaran rajin nge-gym, saya jadi gemar minum air putih, padahal sebelumnya saya sama sekali TIDAK menyukainya.

Tapi tak berarti segalanya berjalan dengan mulus. Kendala datang di bulan ke tujuh, ketika berat badan saya mendadak mengalami stagnasi: tidak naik, tapi juga tidak turun. Namun nanti ada juga saat di mana berat badan saya malah naik, padahal rutinitas kegiatan saya tetap sama! Jelas, saya jadi sangat frustasi. Saya merasa secara perlahan impian akan tubuh yang ramping dan sehat memudar, dan apapun yang saya lakukan – seberapa kerasnya – tak akan pernah bisa mengubahnya.

Mulai dari situ terpikirlah melakukan sesuatu yang drastis: Tidak makan selama tiga hari. Ya, mungkin itu adalah hal yang sangat bodoh, tapi pada saat itu, karena dorongan untuk kurus terlalu membutakan mata, maka tak pernah terlintas di kepala sekalipun untuk menimbang baik atau buruknya keputusan tersebut. I just have to do it! Dan, untuk menambah 'kesengsaraan', lagi-lagi ibu dengan metode tough love-nya sempat berkata, “Kamu kok tetap gendut sih? Padahal sudah olahraga.” Grrr, now I REALLY have to do it.

Seperti bisa diduga, selama tiga hari itu, tubuh saya terasa lemas sekali. Yang saya konsumsi hanyalah air, air, dan air. Saya menjalani hari tanpa semangat, wajah terasa kusam. Yang saya pikirkan hanyalah tujuan akhir: Tubuh yang ramping dan sehat. Masa bodoh dengan proses apa yang dipilih menuju ke sana. Ah yes, the dangers of wanting an instant fix. Segalanya seolah dihalalkan. Again, untungnya saya memiliki sahabat yang kembali mengarahkan saya ke jalan yang benar, walaupun ia hanya berkata, “Mending lo nggak usah ngebebanin diri dengan cara seperti ini deh.” Dan saya pun mengaku perbuatan saya ke PT saya. Dan, tentunya ia marah besar, dan langsunglah ia memberikan “ceramah” panjang akan betapa berbahayanya eating disorder semacam itu, ia mewanti-wanti kalau olahraga dan pola makan teratur adalah cara yang terbaik, lalu yang dilanjuti dengan peringatan supaya jangan pernah sekali-sekali mengonsumsi obat pelangsing yang punya banyak efek samping. “Memang kamu mau turun berat badan tapi malah jadi lemas dan kulit nggak segar?!” tegurnya. Okay coach, thanks for the reality check...

Setelah masa kelam itu (walaupun hanya berlangsung selama tiga hari, tapi terasa l ebih lama dari itu), sayapun kembali ke rutinitas semula: olahraga yang teratur dan pola makan yang sehat. Pola makan yang – surprise, surprise – menarik perhatian seorang pria di kampus. Ketika membuka kotak makan saya yang berisikan tumis-tumisan di kantin saat makan siang, teman baru saya itu menyeletuk, “Serius, makannya ini doang?”. Lalu tersirat ekspresi – entah saya geer atau tidak – kekaguman di wajahnya. Bahkan, saat saya membeberkan cerita saya semuanya, ia terlihat sangat excited. Kebetulan ia juga penyuka olahraga, walaupun seperti kebanyakan pria, ia lebih menggemari outdoor sport, seperti sepakbola. Setelahnya, kami pun sering ngobrol via telepon. Dan ia sangat support akan kegiatan nge-gym saya. Malah ia pernah berkata, “Semangat ya olahraganya, I’ll be waiting for you.” Hmm, awalnya kalimat tersebut agak rancu sih – apa artinya? Ia memang tahu proses penurunan berat badan saya akan memakan waktu selama setahun. Apakah ia tidak ingin mengganggu konsentrasi berolahraga saya dengan 'kisah cinta-cintaan'? Pernah sedikit heran, jangan-jangan ia baru akan memacari saya kalau saya kurus. Saya ingin bertanya saat itu, tapi saya takut kalau jawabannya jauh dari ekspektasi.

 

4 dari 4 halaman

Next

(c) shutterstock.com

Dan akhirnya, setelah lewat masa setahun, setelah sesi berolahraga yang sangat menguras energi dan pikiran, tibalah waktunya untuk menapakkan kaki ke atas timbangan - suatu alat yang sebelumnya jadi musuh terbesar saya selama ini. Saya tak mau mendekatinya, tak mau juga melihatnya, walaupun hanya sekilas. Tapi sekarang, entah kenapa, saya merasa percaya diri menghadapinya (meski jantung tetap deg-degan tak terkontrol), mungkin karena saya telah merasakan perubahan yang begitu besar dalam hidup saya. I feel better, baik secara fisik maupun emosional. Sekarang, tubuh saya tak lagi cepat lelah, dan baju-baju saya sih sudah mulai berasa longgar menempel di badan. And what do you know...angka di timbangan mengarah ke angka 55, yang berarti, saya berhasil turun sampai 30 kg! Woww, padahal target utama saya adalah turun hanya 20 kg, tapi saya malah diberikan “bonus”.

Yup, setelah perjuangan berat selama setahun, akhirnya saya berhasil mencapai bentuk tubuh ideal yang saya inginkan. Tentunya semua ini juga berkat dorongan dari ibu yang sudah tanpa lelah mendorong saya agar mengubah pola hidup jadi lebih sehat. Tapi saya mau tekankan kalau proses ini bukanlah hanya untuk menguruskan badan ya, tapi lebih untuk alasan kesehatan. Karena ibu saya yang terkena kanker payudara. Dia saja yang gaya hidupnya tergolong sehat bisa terkena penyakit, bagaimana dengan saya yang menyantap apa saja? Well, memang tidak ada yang memprediksi sih kapan atau bagaimana kita terkena penyakit, walau seberapa kerasnya kita berolahraga atau makan yang sehat. Tapi at least kita sudah berusaha. Sama halnya seperti saya tidak bisa memprediksi kalau ada seorang pria yang bisa menyukai saya, tapi ternyata sekarang... I have a boyfriend! Ia akhirnya menyatakan secara resmi ia menyukai saya setelah selesai target setahun saya berolahraga. Dan sekarang jalinan kasih kami sudah berjalan selama empat tahun. Empat tahun! He understands and completes me really well. 

Sampai saat ini saya masih mengatur pola makan, walau tak seketat dulu. Memang saya akui semenjak saya bekerja frekuensi olahraga agak berkurang, dan berat badan agak naik, tapi tidak drastis. Namun tekad untuk hidup sehat tetap kuat. Terkadang saya bersyukur saya dulunya memiliki tubuh gemuk, karena setidaknya hal tersebut membuat saya tidak menilai orang secara fisik. Kalau seseorang menjadi gemuk, itu bukan melulu tentang makanan kok, tapi mungkin saja karena dari kecil mereka sudah punya bakat gemuk. Memang kegemukan itu buruk untuk kesehatan, but that doesn’t make you better than me. Dan lucunya, di satu pihak, saya juga sebenarnya ingin membuktikan kalau I’m fat and I’m fine. Walaupun yang terpenting sebenarnya adalah, I’m healthy and I feel fine.
Kita tak bisa memprediksi apa yang dapat terjadi kedepannya, tapi setidaknya kalau kita mengeluarkan usaha sedikit, percayalah, good things can happen.