Sukses

Health

Apakah Intermittent Fasting Memengaruhi Konsentrasi? Temuan Baru Menjawab

Fimela.com, Malang - Intermittent fasting (IF) telah menjadi pola makan populer karena manfaatnya bagi kesehatan, mulai dari penurunan berat badan hingga peningkatan sensitivitas insulin. Namun, sebagian orang masih khawatir bahwa berpuasa dapat mengurangi konsentrasi atau ketajaman berpikir, terutama saat bekerja atau belajar. Kekhawatiran ini wajar, mengingat otak sangat bergantung pada energi yang biasanya diperoleh dari makanan. Penelitian terbaru dalam Psychological Bulletin memberikan jawaban yang lebih jelas mengenai hal ini. Secara umum, hasilnya menunjukkan bahwa puasa jangka pendek tidak memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap fungsi kognitif orang dewasa.

Temuan tersebut muncul dari meta-analisis besar yang melibatkan lebih dari 3.400 partisipan dari 63 studi di berbagai negara. Mayoritas peserta menjalani puasa antara 8 hingga 24 jam, dengan median 12 jam. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kinerja mental para partisipan tetap stabil meskipun mereka tidak mengonsumsi makanan untuk sementara waktu. Dengan kata lain, tubuh manusia tampaknya cukup adaptif dalam mempertahankan fungsi kognitif dasar meski sedang berpuasa. Hal ini sekaligus memberikan ketenangan bagi mereka yang hendak mengadopsi IF namun takut kehilangan fokus.

Meskipun demikian, penelitian ini mengingatkan bahwa respons terhadap puasa tidak selalu sama pada semua kelompok usia. Anak-anak serta remaja menunjukkan sedikit penurunan kognitif selama berpuasa, terutama di waktu sekolah. Selain itu, beberapa orang dewasa cenderung mengalami penurunan performa kognitif menjelang akhir periode puasa, seiring turunnya energi harian. Karena itu, penting untuk memahami bahwa efek puasa sangat dipengaruhi oleh kondisi individual serta konteks aktivitas harian. IF tetap bisa menjadi pola makan yang aman, namun tetap perlu pendekatan yang bijak.

Pengaruh Puasa Jangka Pendek terhadap Fungsi Kognitif

Studi terbaru menegaskan bahwa puasa kurang dari 24 jam tidak secara signifikan menurunkan ketajaman mental orang dewasa. Peneliti menemukan bahwa kemampuan konsentrasi, memori, dan penyelesaian tugas tetap bekerja dengan baik selama periode tidak makan. Temuan ini turut menepis anggapan bahwa otak akan langsung “melemah” tanpa asupan makanan. 

Namun, penelitian ini juga mencatat bahwa performa dapat menurun mendekati akhir periode puasa ketika energi mulai menurun secara alami. Hal ini menunjukkan bahwa efeknya lebih berkaitan dengan ritme tubuh daripada puasa itu sendiri. Secara keseluruhan, puasa jangka pendek masih terbilang aman dari sisi kognitif bagi sebagian besar orang dewasa.

Adaptasi Tubuh: Energi Alternatif Selama Berpuasa

Tubuh manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi terhadap kondisi tanpa makanan. Ketika cadangan glikogen menurun akibat puasa, tubuh beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi melalui produksi keton. Keton ini justru dapat menjadi bahan bakar yang efisien bagi otak selama periode tidak makan. 

Adaptasi metabolik ini dipercaya sebagai hasil evolusi manusia ketika menghadapi masa-masa kelangkaan makanan di zaman prasejarah. Mekanisme ini membantu seseorang tetap fokus dan waspada meskipun sedang berpuasa. Dengan demikian, ketahanan kognitif saat puasa bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari desain biologis manusia.

Kelompok Rentan: Anak-Anak, Remaja, dan Individu dengan Kondisi Khusus

Meskipun aman bagi orang dewasa sehat, puasa jangka pendek tidak direkomendasikan bagi anak-anak dan remaja saat menjalani aktivitas belajar. Kelompok usia ini membutuhkan energi tinggi untuk mendukung perkembangan otak dan tubuh. Peneliti menemukan adanya sedikit penurunan performa kognitif mereka selama berpuasa, menandakan bahwa sarapan tetap penting sebelum sekolah. 

Selain itu, mereka yang memiliki kondisi medis tertentu, berat badan tidak stabil, atau gangguan makan memerlukan pengawasan ketat sebelum mencoba IF. Setiap individu memiliki kapasitas metabolik berbeda, sehingga pendekatan satu metode untuk semua tidaklah tepat. Konsultasi tenaga kesehatan tetap menjadi langkah bijak sebelum memulai.

Manfaat Intermittent Fasting bagi Kesehatan

Di luar aspek kognitif, IF tetap dikenal sebagai strategi diet yang memiliki banyak potensi manfaat. Pola ini dapat membantu menurunkan berat badan karena menurunkan total kalori harian tanpa aturan makanan yang terlalu ketat. IF juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi peradangan, dan memicu proses perbaikan sel seperti autophagy. 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perubahan hormonal selama puasa dapat mempercepat pembakaran lemak dan mendukung pertumbuhan otot. Kombinasi manfaat ini menjadikan IF pilihan menarik bagi mereka yang ingin memperbaiki kesehatan metabolik. Meski demikian, keberhasilan IF tetap bergantung pada konsistensi dan pola makan yang seimbang.

Penelitian terbaru memberikan gambaran bahwa intermittent fasting tidak menurunkan fungsi kognitif orang dewasa dalam jangka pendek. Tubuh manusia telah berevolusi untuk tetap mempertahankan fokus dan energi melalui mekanisme metabolik yang efisien. Namun, pertimbangan khusus tetap diperlukan bagi anak-anak, remaja, serta individu dengan kondisi kesehatan tertentu. Dengan pemahaman yang tepat, IF dapat menjadi pola hidup yang sehat dan bermanfaat tanpa mengganggu performa mental sehari-hari.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading