Aku Bersyukur Ia Meminta Restu Orang Tua Sebelum Menjalin Cinta Denganku

Fimela diperbarui 13 Feb 2015, 11:10 WIB

Ribka Novelinda sangat beruntung. Berawal dari seorang sahabat yang menyatakan cinta padanya. Lalu meminta restu kedua orang tua sebelum menjalin cinta. Kini, Ribka bahagia telah menjadi istri dari seorang pria yang begitu berani dan bertanggung jawab. Benar memang kalau restu orang tua pasti akan mempermudah segalanya, termasuk dalam sebuah hubungan asmara.

***

Cinta adalah anugerah terindah yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa bagi setiap insan. Sebagai anugerah yang indah, setiap kisah cinta selayaknya tidak perlu dibandingkan dengan milik siapa pun juga karena cinta merupakan pengalaman pribadi setiap, orang entah itu berakhir baik maupun berakhir buruk.

Seperti kisahku – Ribka Novelinda, 28 tahun. Aku adalah seorang wanita yang hidup berdua dengan ayahku dengan lingkungan yang cukup keras semenjak ditinggal pergi oleh ibuku karena penyakit kanker. Sejak kecil, ayahku adalah seorang pria yang kaku dan bukan seorang ayah yang pandai mengekspresikan kasih sayangnya baik kepada ibuku ataupun aku. Hal itulah yang memacuku untuk secara tidak langsung mencari kasih sayang dari lingkunganku. Berkali-kali aku jatuh cinta, berkali-kali pula aku terjatuh dalam cinta yang salah yang membuatku semakin tidak mempercayai adanya cinta yang tulus.

Aku adalah orang yang sangat suka berteman dengan banyak orang, khususnya bersahabat dengan banyak pria. Bukan berarti aku centil atau genit, tapi buatku bersahabat dengan pria sangat menyenangkan. Mereka adalah makhluk dengan pemikiran yang simple dan sangat mengerti keadaan kita sebagai perempuan. Sahabat-sahabatku inilah yang selalu bisa membuatku tertawa dan ceria saat aku mengalami hal-hal yang sulit. Kami selalu bercerita dan menguatkan satu dengan yang lain jika ada yang mengalami putus cinta dengan pasangannya.

Suatu saat keadaan pun berubah ketika sahabat-sahabatku berkata bahwa ada seorang sahabat priaku bernama Teo yang menaruh perhatian lebih untukku. Jujur saja aku tidak percaya, karena sikap yang dia tunjukkan kepadaku sama sekali tidak berubah semenjak kami berteman 3 tahun yang lalu, dan terlebih lagi aku sangat tahu tipe wanita yang ingin dia jadikan sebagai pasangannya. Oleh sebab itu, aku anggap apa yang sahabat-sahabatku katakan tadi adalah angin lalu, dan kami tetap berteman seperti biasa.

Seiring berjalannya waktu aku mulai melihat sedikit perubahan pada diri Teo, dia sering mengajak aku pergi untuk lebih dekat dengan lingkungan lain yang selama ini aku hanya dengar dari cerita-ceritanya saja, seperti teman–teman semasa ia sekolah, kuliah, hobinya, dll

Awalnya aku biasa saja, karena aku pikir seru juga berkenalan dengan orang-orang baru karena bisa menambah jaringan pertemanan. Tapi lama-kelamaan aku curiga juga, sehingga pada suatu malam aku memberanikan diri untuk menanyakan apakah benar yang dikatakan oleh teman-teman yang lain bahwa selama ini Teo menyimpan rasa terhadapku. Tanpa disangka-sangka dia menjawab benar. Tapi dia belum bisa mengatakan kepadaku karena dia sedang meminta restu dari orang tuanya untuk menjalin hubungan dengan aku.

Aku bingung saat itu, minta restu apa yang dia maksudkan. Dan dia pun menjelaskan bahwa dia tidak mau asal menjalin hubungan denganku, dia mau sebuah hubungan yang serius dan jika memang kedua orangtuanya memberikan “lampu hijau” maka dia bermaksud untuk menjadikan aku sebagai calon pendamping hidupnya.


Aku sangat terkesima mendengar dia berkata seperti itu, dan pikirku berani juga dia. Tapi, melihat keberaniannya itu, aku pun mulai membuka diriku. Dan akhirnya kami bersama–sama saling berdoa dan meminta restu kepada orang tua kami masing–masing.

Satu minggu kami berdoa dan menantikan restu dari kedua orang tua kami, dan jawaban yang kami inginkan terwujud. Kedua orang tua kami memberikan “lampu hijau” kepada kami untuk menjalin cinta.

Sesuai dengan komitmen awal kami berdua, 3 bulan setelah kami resmi berpacaran, kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius, yakni pernikahan. Puji Tuhan! Bak gayung bersambut, keputusan kami disetujui oleh kedua orang tua kami. Tepat 5 Juli 2014, kami diberkati dan resmi menjadi pasangan suami-istri.

Hampir 1 tahun sudah berlalu dan saat ini kami sedang menantikan kelahiran anak pertama kami di bulan April nanti. Banyak hal yang tidak pernah terduga dalam kehidupan ini, termasuk untuk urusan cinta. Aku sangat bersyukur bahwa Tuhan mengasihi aku, dan melalui kejadian ini Tuhan memberitahukan kepadaku bahwa masih ada kasih yang tulus di dunia ini.

Pesanku kepada teman-teman yang membaca kisahku adalah jangan pernah berhenti berharap dan tetap berpegang teguh kepada janji Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia tidak akan pernah meninggalkan, dan menelantarkan anak-anakNya. Cheers!



(vem/nda)