Mari Membahas Fenomena Awkarin Dari Sudut Pandangnya

Fimela diperbarui 02 Agu 2016, 15:12 WIB

Yup pada artikel ini saya menempatkan diri seolah saya adalah Karin Novilda atau lebih dikenal Awkarin.

Sedikit informasi mengenai Karin Novilda (18) atau lebih dikenal dengan Awkarin, seorang remaja putri yang akhir-akhir ini hangat menjadi perbincangan karena postingan melalui vlognya mengenai curahan isi hatinya. Karin melakukan maintenance luar biasa terhadap seluruh channel media sosial yang dimilikinya, instagram, youtube, snapchat, askfm, dll.

Karin menjadi cukup cepat menjadi viral ketika dia meng-upload vlog yang dianggap vulgar dan berlebihan. Perilaku yang kurang tepat untuk budaya timur seperti merokok, melakukan aktivitas mesra dengan pacarnya, ucapan yang jorok dan tidak patut ketika memanggil teman, belum lagi postingan foto-foto antara dirinya dengan pasangannya yang juga dianggap vulgar. Postingannya tak jarang mengundang komentar negatif terhadap apa yang ia upload ke ranah media sosialnya tersebut.

Ok mari kita refleksikan dari perilakunya.

1. Karin membangun jati dirinya dengan total. Dia bertransformasi secara luar biasa dari anak SMP yang penuh identitas kesantunan menjadi seorang anak yang perilakunya tidak sesuai budaya timur. Ini bukan karena dia tidak matang sebagai remaja, justru di sini adalah kekuatan seorang remaja akhir untuk membentuk jati dirinya. Apakah selamanya dia akan berperilaku seperti ini? Mestinya tidak, kita lihat aja beberapa bulan lagi.

2. Public Display of Affection (PDA). Ini adalah perilaku menampilkan kemesraan di depan umum. Perilaku mesra ini bisa bermacam-macam, mulai dari bergandengan tangan, menyatakan cinta kepada pasangan, berciuman di area umum, mengumbar pelukan mesra dimanapun. Tingkat kewajaran PDA sangat dipengaruhi oleh budaya setempat. Relationship goals yang dibentuk oleh Karin dan ditampilkan secara viral melalui vlog-nya ini adalah bentuk ekspresi kebutuhan akan kehangatan keluarga yang tidak berhasil diperolehnya. Kita tidak sedang mencari siapa yang salah pada situasi ini. Bila Anda sebagai orangtua, maka mari menyadari bahwa ini metode yang digunakan oleh anak zaman sekarang untuk melakukan protesnya.

3. Publikasi yang dilakukan Karin via media sosialnya, ini adalah cara baru yang mungkin orangtua gagal paham. Tapi orangtua harus tahu, bahwa she generates a lot of money dengan gaya hidupnya yang terlihat foya-foya. Dari penghasilan iklan youtube, dari kegiatan endorse yang dilakukan, ini sudah menghasilkan banyak uang lho.

4. Apa yang dilakukan Karin juga tidak akan tahan lama. Akan selalu ada yang baru di dunia internet ini. Kreativitas lain selalu dinantikan untuk eksis di dunia internet ini. Banyak hal yang masih bisa diupayakan untuk mengeksplorasi kekayaan kreativitas dunia internet.

Di luar itu semua, apapun yang sedang dilakukan seorang Awkarin, kita sebagai penikmat media sosial bisa melihat fenomena ini sebagai sebuah cermin. Lihatlah diri kita sendiri, kita pasti pernah melalui masa remaja yang penuh kebingungan. Bersyukurlah jika Anda melaluinya dengan baik, tak semua orang seberuntung Anda.

Lebih dari itu, kita sebagai calon orang tua setidaknya memiliki gambaran dari fenomena ini. Jika remaja di masa kini punya banyak media untuk menunjukkan eksistensi mereka (dengan sikap baik maupun sikap yang tidak bisa diterima masyarakat), maka PR kita ke depannya akan jauh lebih menantang.

(vem/yel)