Apalah Aku, Seorang Perempuan yang Harus Pakai Duit Sendiri Buat Beli Segala Sesuatu

Endah Wijayanti diperbarui 27 Nov 2018, 15:55 WIB

Fimela.com, Jakarta Semua sahabat dekat sudah menikah dan berumah tangga. Ada yang akhirnya memutuskan untuk jadi rumah tangga tapi ada juga yang tetap berkarier. Mereka sudah sibuk dengan prioritas masing-masing. Hingga saat kita kembali bertemu dengan mereka, obrolan pun jadi makin kental dengan urusan rumah tangga.

Obrolan soal keuangan atau kegiatan belanja pun tak luput dari topik pembicaraan. Bagi yang mengandalkan penghasilan suami, setiap bulan harus bisa membuat pos-pos pengeluaran dengan rapi. Bagi yang masih tetap berkarier, ada saja penghasilan yang tetap harus disisihkan untuk anggaran lainnya.

Sampai kemudian hal yang menggelitik itu muncul.

"Kalau suamiku pulang, aku bisa langsung minta dibelanjakan sepatu baru."

"Nanti mau ngajak anak-anak ke mall buat belanja, mumpung suami baru gajian."

"Seneng deh kalau belanja sama suami, bisa minta dibelikan yang bagus-bagus."

Dalam hati pun berkata, "Wah enak ya kalau sudah punya suami, bisa belanja dengan lebih tenang. Ada yang bisa diandalkan. Ada suami yang bisa dijadikan tulang punggung keluarga untuk memenuhi semua kebutuhan." Oke, mungkin itu hanya pandangan sinis belaka. Tapi tak bisa dipungkiri pikiran itu juga kadang menghampiri bila mendengar obrolan para sahabat yang sudah berumah tangga.

Lalu, apa kabar diriku yang untuk belanja dan memenuhi semua kebutuhan masih harus pakai duit sendiri? Masih single. Tuntutan dan tanggung jawab hidup pun makin berat. Sehari-hari sibuk bekerja dengan tingkat stres yang tak bisa dibilang ringan. Harga barang-barang dan kebutuhan sehari-hari terus melonjak. Penghasilan yang belum seberapa pun harus diirit sedemikian rupa agar tidak defisit atau terjebak lilitan utang.

2 dari 3 halaman

“Do not spoil what you have by desiring what you have not; remember that what you now have was once among the things you only hoped for.” ― Epicurus

Ilustrasi./Copyright pexels.com/Ambar Simpang

Bagi kita yang saat ini masih berjuang merintis karier dan disibukkan dengan banyak pekerjaan untuk memenuhi semua kebutuhan, tak perlu bersedih. Tak perlu iri dengan kehidupan perempuan lain. Sebab masing-masing dari kita punya rezeki dan jalan hidup masing-masing. Malah saat ini kita perlu bersyukur dengan berkah kehidupan yang masih bisa kita nikmati.

Beruntung Kita Bisa Jadi Perempuan Mandiri

Meski karier yang kita rintis belum membawa kita pada kesuksesan yang kita inginkan, kita tetaplah beruntung. Beruntung masih bisa menjadi perempuan mandiri. Masih punya penghasilan untuk digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Besar kecilnya gaji tak perlu terlalu dipusingkan, sebab yang penting adalah berkahnya.

Bisa Lebih Menghargai Arti Kerja Keras

Saat ini mungkin kita masih single di kala teman dan sahabat dekat lainnya sudah menikah. Tak ada yang perlu diratapi. Tak usah terlalu lama galau dengan rasa sendiri dan kesepian. Sebab saat ini kita sedang ditempa untuk jadi perempuan yang lebih kuat. Kita akan belajar banyak hal dan makin menghargai arti kerja keras. Sehingga nanti saat sudah berumah tangga, kita bisa lebih sigap menghadapi masalah yang mungkin terjadi, seperti mengatasi masalah finansial yang muncul di saat tak terduga.

3 dari 3 halaman

“Be grateful for what you already have while you pursue your goals. If you aren’t grateful for what you already have, what makes you think you would be happy with more.” ― Roy T. Bennett, The Light in the Heart

Ilustrasi./Copyright pexels.com/Ambar Simpang

Rezeki Setiap Orang Sudah Ada Takarannya Sendiri

Walau kadang kita iri dengan kehidupan perempuan lain yang bisa belanja segala sesuatu dengan mengandalkan penghasilan orang lain, kita tetap perlu ingat bahwa rezeki setiap orang sudah ada takarannya sendiri. Pun dengan rezeki kita. Syukuri saja kalau saat ini kita masih bisa memenuhi segala sesuatu pakai duit sendiri. Sebab kita juga tak akan jadi beban orang lain.

Setiap Orang Pun Punya Masa Sulitnya Sendiri

Mungkin kita melihat sahabat kita hidupnya begitu makmur dan serba berkecukupan setelah menikah, tapi kita tak pernah tahu masa sulit apa yang pernah dialaminya. Bisa jadi di balik senyumnya, ada masalah yang sedang disembunyikannya. Melihat orang lain berlimpahan materi di tengah diri kita yang saat ini masih jatuh bangun menghidupi diri sendiri kadang bisa menimbulkan prasangka. Jadi, mending fokus untuk memperbaiki kualitas diri untuk hidup kita yang lebih baik ke depannya.

Terkadang rumput tetangga terlihat lebih hijau karena kita terlalu lama memandangnya, sampai lupa kalau ada rumput sendiri yang perlu segera disiram dan dirawat.