14 Tahun Berjuang, Restu Orang Tua Itu Akhirnya Kami Dapatkan

Fimela diperbarui 14 Jul 2017, 13:00 WIB


Kisah ini belum pernah terjadi pada saya. Dan kisah ini bukan kisah saya, tapi kisah seorang teman dekat. Kisah tentang perjalanan cinta, dan kekuatan cintanya yang akhirnya menempatkannya pada kebahagiaan yang selama ini dia perjuangkan.

Panggil saja namanya Diana. Dia teman dekat saya sejak di bangku SMP. Meskipun kami tidak pernah satu kelas, tapi kampung kami bertetangga, jadi kami sering bertemu untuk ngobrol, membuat janji untuk jalan-jalan, atau berbagi permasalahan.

Diana menjalin cinta dengan teman lain kelas sejak SMP kelas satu, panggil saja namanya Ilham. Namun sangat disayangkan hubungan itu tak pernah mendapat restu dari orang tua Diana karena perbedaan status sosial. Pada awalnya Diana dan Ilham berpikir hal itu wajar karena usia mereka yang masih terlalu muda. Namun waktu berganti cepat, saat kami (saya, Diana, dan Ilham) beranjak dewasa, hubungan itu tidak berubah, begitu juga dengan restu orang tua Diana yang tak pernah datang.



Sampai pada satu ketika Ilham memberanikan diri bertandang ke rumah Diana, dan mengungkapkan segala rasa cintanya pada Ayah Diana. Namun bukan doa dan restu yang dia terima, tapi Ayah Diana malah mengusirnya dengan segala cacian, dan melarang pertemuan Diana dengan Ilham. Dengan segala amarah, Ilham akhirnya memutuskan hubungan dengan Diana karena merasa terlalu lelah juga sakit dengan hubungan yang tak juga direstui itu. Ilham kemudian menjalin hubungan dengan orang lain, begitu pun Diana.

Beberapa bulan berlalu, hampir setahun, Diana dan Ilham ternyata tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi jodoh orang lain, mereka putus dengan kekasih masing-masing, dan kembali menjalin cinta, menyambung hubungan yang dahulu sempat terputus karena keadaan. Dan kembali mereka berjanji untuk mengulang perjuangan cinta mereka agar benar-benar mendapat restu dari orang tua Diana.



Namun di tengah-tengah hubungan yang baru saja bersemi kembali itu, entah mengapa mendadak rasa bosan hinggap dan tinggal di hati Ilham. Dia merasa Diana menjadi over-protective. Ilham merasa Diana tidak lagi semanis dulu. Diana yang sekarang adalah Diana seorang pengawas pribadi bagi semua urusan Ilham. Keadaan itu membuat Ilham tidak tahan, dan akhirnya mencurahkan semua isi hatinya pada salah satu teman kerjanya, seorang wanita.

Tentu saja hal tersebut membuat Diana menangis. Kecewa. Kenapa hanya dia yang menjadi pejuang cinta? Kenapa dia berjuang sendirian? Kenapa Ilham harus memiliki prasangka negatif itu padanya? Semua pertanyaan itu memang tak terjawab, tapi bukan Diana namanay jika dia tidak terus maju dan tebal semangat untuk memperjuangkan jodoh dunia akhiratnya.

Diana tak lagi peduli tentang segala perasaan bosan dan pikiran negatif yang dimiliki Ilham. Yang dia tahu adalah tugas dan kewajibannya mengingatkan Ilham untuk kembali berjuang bersamanya demi sebuah restu untuk kepastian hubungan mereka. Benar saja, Tuhan tidak akan membebani umat-Nya dengan masalah di luar kemampuan mereka. Dan jodoh itu tidak pernah tertukar.



Apa yang sudah ditakdirkan untuk kita, pasti akan kembali pada kita bagaimana pun caranya, dan darimana pun jalannya. Tahun itu, sekitar tahun 2011, Tuhan memberi kado, hadiah terindah untuk Diana dan Ilham. Restu orang tua yang mereka perjuangkan akhirnya mereka genggam dengan senyum bahagia selamanya.

Selama kurang lebih 14 tahun, mulai tahun 1997 hingga 2011, cukup banyak ujian, cobaan, dan rintangan yang mereka lalui. Kekuatan cinta yang mereka miliki mampu mengalahkan segala bentuk pikiran negatif, prasangka buruk, juga kebencian. Kekuatan cinta yang mereka miliki adalah nyata.

Kekuatan cinta yang terbukti tidak hanya dari kata-kata, tapi juga dari doa dan perjuangan. Bahagialah selalu, Diana dan Ilham. Kalian pantas menjadi simbol kekuatan cinta yang nyata.








(vem/nda)
What's On Fimela