Dikenalkan ke Keluarga Bukan Jaminan Hubungan Akan Berakhir di Pelaminan

Fimela diperbarui 21 Mei 2018, 13:45 WIB

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Sebagai manusia, kita bisa bahkan sangat bisa mengatur rencana. Rencana yang tersusun rapi dengan diiringi usaha dan doa. Tuhan berkata manusia boleh berencana tapi tetap Tuhan yang akan menentukan. Ketentuan Tuhan ada yang bisa kita ubah dengan usaha dan doa. Aku melakukannya dengan sungguh-sungguh. Tapi pada akhirnya aku sadar bahwa ketetapan alam, ajal, dan jodoh adalah takdir mubram (ketetapan Tuhan yang tidak bisa diubah manusia).

Berawal dari 2013 ketika aku menjalin hubungan dengan seseorang yang 3 tahun lebih tua dariku. Seperti layaknya pasangan lain kami menjalaninya dengan bahagia dan dengan berbagai rencana. Kebetulan kami berkuliah di salah satu universitas negeri yang sama di kota Semarang dengan jurusan yang berbeda. Dia orang yang baik, dewasa, pekerja keras, dan berpikiran maju. Dia sukses dalam pendidikan hingga akhirnya mampu menyandang gelar sarjana sastra pada Juni 2015 dengan berbagai prestasi yang gemilang.

Aku turut bangga atas pencapaian yang dia raih karena aku merupakan salah satu saksi segala perjuangan yang ia tempuh selama 2 tahun bersama. Pada hari wisuda itu, dia pun mengenalkanku pada keluarganya. Hal itu membuatku gugup sekaligus bahagia karena dia semakin menunjukkan bukti keseriusan hubungan kami.

Sekitar 2 minggu setelah hari kelulusan itu, dia mulai bekerja di salah satu perusahaan di kota Semarang. Usaha dan kerja kerasnya membuat kariernya pun dengan cepat melonjak hingga pada 2016 dia pindah ke ibu kota dengan karier yang semakin bagus. Sejak itulah kami menjalani hubungan jarak jauh.

Aku selalu mendukung segala hal yang dia lakukan selama itu positif karena aku ingin menjadi penyemangat bukan penghalang. Semakin hari kami pun semakin jarang berkomunikasi karena kesibukannya. Aku selalu mengerti. Aku pun menyibukkan diri dengan berbagai hal positif seperti belajar dan bekerja sebagai penerjemah lepas.

Aku yang tak berani mengganggu ataupun menghubunginya terlebih dahulu hanya bisa menunggu. Dan dia dengan berbagai alasan pekerjaan hanya bisa menghubungiku melalui e-mail satu bulan sekali atau bahkan lebih. Masih dan tetap saja aku percaya karena aku mengenalnya dan dia bukan pembohong.

Hingga pada suatu hari di awal 2017 yang suram itu, aku terkejut ketika seseorang mem-follow akun instagramku. Dan foto profilnya terlihat dia bersama seorang wanita. Saat itu seketika jantungku terasa berhenti berdetak. Napasku sesak. Tapi masih saja aku berpikir positif mungkin itu saudaranya.

Betapa langit rasanya hendak runtuh dan tubuhku lemas seketika saat aku menanyakan mengenai hal itu dan dia menjawab bahwa dia dijodohkan orangtuanya. Saat itu juga aku hanya bisa menangis mengutuk segala yang terjadi. Bukan perjodohan itu yang kusesali tapi dia yang selama ini diam tanpa cerita. Lebih menyakitkan lagi ternyata hal itu dijalaninya lebih dari satu tahun. Semua terasa mengecewakan. Aku yang mendukung,  aku yang selalu berpikir positif, dan aku yang mendoakan kesuksesannya disingkirkan begitu saja.

Masih saja aku memaafkannya dan dia berjanji akan menyelesaikan segala permasalahan yang menyebabkan perjodohan itu. Lagi dan lagi aku menunggunya hampir satu tahun hingga dan pada akhir 2017 kami sepakat menyudahi karena dia akan segera menikah. Namun pada kenyataannya dia menikah dengan seseorang yang berbeda. Bukan yang ada di foto profil instagram. Aku pun memulai hidup baru dengan bebas lepas dari segala hubungan yang rumit itu.

Sejak lepas dari dia, aku pun menyadari betapa selama ini aku bersalah karena menjalani hubungan yang seharusnya tidak perlu, apalagi di usia produktif di mana aku seharusnya bisa mengembangkan diri dan bebas melakukan banyak hal tanpa dibatasi oleh keposesifan pasangan. Sejak saat itu aku menjadi wanita yang jauh lebih mandiri dan aktif.

Aku pun melanjutkan kuliah jenjang S2 di salah satu universitas negeri di Kota Surakarta. Selain itu, aku masih aktif sebagai penerjemah lepas dan guru bahasa. Aku semakin melupakannya dan hari-hariku terasa lebih baik. Dengan pikiran yang positif aku pun bersyukur pada Tuhan dan mengambil hikmah dari sakit yang kurasakan.

Aku merasa beruntung karena aku bisa dengan bebas meraih cita-cita. Aku benar-benar berubah menjadi wanita yang lebih baik, kuat, dan tidak manja. Terima kasihku yang tiada henti karena rencana Tuhan meskipun bukan rencanaku dulu adalah sebaik-baik alur cerita yang pernah ada.

Dan sungguh aku ikhlas memaafkannya.

(vem/nda)