Empat Tahun Nikah Belum Punya Momongan, Kuputuskan Berdamai dengan Keadaan

Fimela diperbarui 01 Sep 2018, 14:30 WIB

Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat ini. Tentunya aku sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan warna dalam kehidupanku. Aku tidak bisa memprotes akan takdir hidup yang kujalani saat ini, aku berupaya untuk selalu bisa berbaik sangka atas semuanya. Memang tidak mudah untuk bisa melewati itu semua dan berdamai dengan keadaan, tapi atas iman dan kesabaran perlahan tapi pasti aku bisa melewati itu semua.

4 tahun membina rumah tangga tetapi Allah belum memberikan rezeki untuk menitipkan malaikat kecil yang hadir sebagai pelengkap mewarnai keluarga kecilku, aku dan suami mencoba sabar dan terus berusaha. Setahun usia pernikahan, aku dan suami masih santai walaupun belum dikaruniai momongan, kami berpikir mungkin Allah masih memberikan waktu untuk kami menikmati momen berdua walaupun kami tidak ada menunda untuk memiliki momongan, kalau boleh jujur malah kami ingin segera memiliki momongan  mengingat usia kami yang terbilang matang saat menikah. Banyak pertanyaan, "Kapan nih bertiganya? Kok berdua terus?" Pertanyaan itu kami jawab dengan senyuman.



Di tahun kedua pertanyaan mulai terlontar dari keluargaku dan suami. “ Kapan mama dikasih momongan? Mama pengen cucu dari kalian." Seringnya pertanyaan dari keluarga membuat aku dan suami semakin terusik, padahal kami telah berupaya semaksimal mungkin. Pertanyaan kapan memiliki momongan itu mulai mengusikku, karena pertanyaan itu mulai terus memberondongiku setiap kali aku bertemu dengan siapapun.

Di tahun ketiga, karena banyaknya pertanyaan “kapan“ disertai kritikan membuatku mulai jarang kumpul dengan keluarga besar, aku mulai stres dan berkecil hati karena setiap kali mereka berjumpa pasti pertanyaan itu tak pernah terlewat, belum lagi selalu dibandingkan dengan anggota keluarga lain yang baru menikah tetapi sudah memiliki momongan. Berbagai komentar negatif  mereka dan anggapan  negatif dari semuanya.



Semua perasaan bercampur menjadi satu, aku sangat sedih karena aku dan suami juga sangat menginginkannya tetapi Allah belum memberikan kami rezeki itu. Semua upaya telah kami lakukan.  Pertanyaan “kapan“ membuatku mulai merasa tertekan dan mulai menutup diri.

Di tahun keempat, ternyata Allah belum juga memberikan kami rezeki, saat inilah aku mulai berdamai dengan semuanya. Mulai menanggapi dengan santai setiap pertanyaan, “Kapan memiliki momongan?" dan selalu kujawab dengan, “Mohon dibantu doanya, semoga disegerakan." Ternyata berdamai membuatku semakin mudah dan santai menjalani hidup ini.



Tidak ada perasaan tertekan dan stres. Pertanyaan dari orang–orang sekitar membuat aku meminta doa dari mereka semua untuk mendoakan. Semakin banyak yang bertanya semakin banyak pula aku meminta doa dari mereka semoga disegerakan. Kita tidak dapat mengubah keadaan, tapi dengan berdamai dengan keadaan membuatku lebih mudah menjalani semuanya.



 (vem/nda)