Persiapan Nikah Hanya 13 Hari dengan Skenario Terindah

Fimela diperbarui 27 Sep 2018, 13:00 WIB

Pernikahan adalah impian bagi setiap perempuan. Tak terkecuali aku. Ketika satu per satu teman seangkatan mulai menemukan pasangan hidupnya, aku pun mulai resah. Setiap kali mendapat undangan pernikahan, hati selalu merapalkan doa, "Semoga aku pun disegerakan oleh-Nya untuk bertemu dan bersatu dalam ikatan pernikahan dengan jodohku."

Di usia yang sudah memasuki angka 25, membuatku makin resah. Kapankah jodohku datang? Ah, pertanyaan yang sejenis tak hanya muncul dari diriku sendiri. Banyak yang bertanya padaku, kapan aku nikah. Dan tentu saja hal itu membuatku semakin galau. Tapi perlahan aku mulai sadar, bahwa Allah telah menciptakan makhluk-Nya berpasangan. Aku mencoba untuk yakin dan ikhlas pada semua ketentuan-Nya.

Perasaan cemas dan kesal terhadap pertanyaan tentang nikah, mulai kuganti dengan tanggapan positif. Kujawab pertanyaan itu dengan jawaban, “Insyaa Allah aku akan menikah tahun ini, bulan Agustus.” Ya, kujawab dengan yakin, walau sebenarnya aku sama sekali tidak tahu akan menikah dengan siapa. Aku hanya ingin menikah di bulan Agustus, di hari kelahiranku yang tahun ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Ah, mungkin keinginan yang kekanak-kanakan ya.

Keyakinan dan doa-doaku terjawab. Tanggal 25 Juni 2018  kemarin aku menikah. Ya, 2 bulan lebih cepat dari yang kuharapkan. Masyaa Allah, skenario Allah benar-benar tak terduga, dan sungguh indah. Banyak yang tak menyangka bahwa aku akan menikah secepat ini. Ya, aku pun speechless dibuatnya. Hanya luapan rasa bahagia dan syukur kehadirat-Nya yang mampu kulantunkan. Perkenalan yang cukup singkat dan persiapan pernikahan yang hanya 13 hari, akhirnya aku resmi menyandang status seorang istri. Kebayang gimana serunya mempersiapkan pernikahan yang tak sampai 2 minggu itu? Berikut akan aku ceritakan.

Pertama kali aku bertemu dengan laki-laki ini pada bulan Maret 2018. Sebuah kegiatan pelatihan di tempatku bekerja, mempertemukanku dengannya. Tak ada perkenalan khusus. Hanya interaksi biasa saja dalam aktivitas pelatihan yang harus kami lalui. Bulan April kami kembali bertemu. Pelatihan lanjutan dengan kegiatan-kegiatan yang tak jauh beda dengan pelatihan yang pertama. Tak ada tanda-tanda khusus yang menyiratkan bahwa kami akan menjadi sepasang suami istri nantinya. Semuanya berjalan biasa-biasa saja.

Pada bulan Mei, kami mulai terlibat dalam komunikasi Whatsapp. Isi chat yang biasa saja. Hingga lama kelamaan mulai muncul sedikit pembahasan tentang hubungan. Aku berusaha untuk tak terlalu kepedean. Ya, jaga image sih, dan menjaga hati agar tak terlalu berharap. Karena terlalu berharap ujung-ujungnya nanti akan kecewa. Begitu pemikiranku waktu itu. Tapi laki-laki ini berbeda. Dia tak ingin pacaran, inginnya serius dan langsung menikah saja. Kubilang sebaiknya dia langsung menemui keluargaku dan langsung utarakan maksudnya kepada kedua orangtuaku. Dia setuju. Walau sebenarnya aku percaya pada laki-laki ini, namun tak kupasang harap berlebih karena aku tak ingin kembali kecewa.

Hingga pada suatu hari, di pertengahan bulan puasa, dia mengejutkanku dengan menungguku di pinggir jalan sepulang aku bekerja. Ya, dia menungguku karena dia ingin ke rumahku bertemu dengan orang tuaku. Momen yang bikin aku terharu. Dia ditemani oleh seorang temannya, datang ke rumahku. Menemui kedua orangtuaku dan langsung menyampaikan maksud hatinya untuk mengkhitbahku. Orangtuaku langsung mengerti maksudnya karena aku telah menceritakan tentang laki-laki ini sebelumnya kepada orangtuaku. Obrolan pun berlanjut dengan niatnya untuk datang kembali bersama keluarganya.

H-3 lebaran Idul Fitri, 13 Juni 2018, rombongan keluarganya pun beneran datang. Sebanyak 4 orang bapak-bapak yang merupakan perwakilan dari keluarganya, datang untuk menyampaikan maksud dan keinginan pihak keluarga mereka. Rupanya mereka datang sekaligus membawa pesan dari Pak Kyai yang ada di sana.

Tanggal 25 Juni 2018, merupakan tanggal yang diberikan oleh Pak Kyai. Jika keluarga kami menyetujui, maka di tanggal tersebut akan digelar akad nikah. Itu artinya 13 hari lagi. Kami sempat berembuk; aku, orang tuaku dan pamanku. Aku beruntung karena memiliki keluarga yang peduli padaku. Mereka mengedepankan pendapat dan keinginanku, karena pernikahan ini akan menjadi jalan hidupku kedepannya. Keluargaku menyetujui untuk langsung menggelar akad nikah, karena niat baik memang harus disegerakan. Jika ditunda, khawatir ada fitnah yang akan mengganggu, begitu menurut keluargaku. Dan aku pun menyetujuinya.

Akhirnya keputusan pun didapat, bahwa tanggal 25 Juni 2018 akan digelar akad nikah. Hanya ada waktu selama 13 hari untuk mempersiapkan segalanya. Rapat keluarga pun digelar sesaat setelah pihak keluarga laki-laki pulang dari rumah kami. Ketika ditanya tentang konsep pernikahan yang aku inginkan, kujawab bahwa aku ingin konsep pernikahan yang sederhana.

Hanya acara akad nikah tanpa resepsi, dengan dekorasi sederhana dan tak banyak undangan, keluarga dan teman dekat saja. Tapi lain halnya dengan keinginan ibuku. Ibu ingin anak perempuan satu-satunya ini bisa bersanding di pelaminan dengan tampilan yang cantik. Ibu juga ingin mengundang saudara-saudara jauh serta teman-teman lamanya. Kami mencoba memaklumi karena ini adalah kali pertama bagi ibu menikahkan anaknya. Ya, aku adalah anak sulung kedua orangtuaku.

Keluargaku mulai mempersiapkan acara pernikahanku; acara akad nikah dengan undangan sebanyak 400 orang. Untuk urusan catering, orangtuaku memasrahkan pada saudara ibuku yang memiliki usaha catering. Untungnya tak ada masalah dengan urusan catering, malah mereka sangat senang mendengar rencana pernikahanku dan mereka sangat mendukung. Aku lega.

Dekorasi pun tak ada masalah karena teman ayahku yang memiliki usaha dekorasi pernikahan bersedia membantu. Dia sudah berniat sejak dulu akan memberikan sewa gratis untuk dekorasi pernikahanku jika aku akan menikah. Kembali aku merasakan kelegaan. Untuk undangan pun lancar. Sebuah desain undangan yang sederhana langsung selesai dicetak dalam waktu sehari. Teman pamanku yang mengurusnya.

Sempat merasa khawatir tentang gaun dan rias pengantin, ketika si empunya salon kaget mendengar penuturanku bahwa pernikahanku akan digelar tanggal 25 Juni. Waktu yang mepet, tak kurang dari 2 minggu. Aku sempat ditegur waktu datang ke salon milik tetangga lamaku. Dia mengatakan bahwa seharusnya pesanan gaun dan rias pengantin itu minimal 2 bulan sebelumnya. Aku sempat down dan mulai pasrah untuk didandani ala kadarnya saja tanpa harus ke salon. Namun aku sangat lega dan bersyukur ketika mengetahui bahwa di tanggal 25 Juni tak ada jadwal untuk merias pengantin bagi tetangga lamaku itu.

Aku begitu bersyukur mendapati persiapan pernikahanku diberikan kemudahan oleh Allah. Dalam waktu yang begitu dekat, hampir semuanya terpenuhi. Saudara-saudara pun turut membantu merenovasi cat dan perabot rumah. Namun ada hal yang kembali mengganggu pikiranku. Hal yang paling aku takutkan dari persiapan yang lain. Pendaftaran ke Kantor Urusan Agama. Pada waktu itu adalah libur panjang cuti hari raya Idul Fitri. KUA pun tutup. Menurut pamanku, pendaftaran pernikahan ke KUA minimal 2 minggu sebelumnya. Jika kuhitung-hitung, maka hanya ada 4 hari sebelum hari pernikahanku KUA buka. Aku sangat khawatir. Pikiranku mulai tak fokus. Bagaimana jika pengurus KUA menolak menikahkanku di tanggal yang sudah kami tentukan?

Mempersiapkan pernikahan membuat emosi pun tak terkontrol, mungkin karena kelelahan fisik yang bekerja dan pikiran yang memikirkan banyak hal. Hingga sempat memicu ketegangan di saat perbedaan pendapat muncul. Ayah dan ibuku terlibat adu pendapat yang membuatku sangat tak nyaman. Hal itu membuatku merasa bersalah. Karena mempersiapkan pernikahanku malah jadi begini, begitu pikirku waktu itu. Namun, akhirnya ayah menenangkanku. Ayah menyebutkan bahwa saat itu ayah sedang banyak pikiran karena itu adalah pengalaman pertama bagi ayah. Ya, hal-hal sepele bisa saja menjadi penyebab keruhnya suasana.

Hari berganti hari. Tibalah tanggal 21 Juni 2018. Pamanku mulai menyerahkan persyaratan pendaftaran ke Kantor Urusan Agama. Alhamdulillah, Allah menjawab doa-doaku. Pihak KUA mengizinkan aku dan suamiku menikah di tanggal yang telah kami sepakati. Namun, dalam pencatatan KUA dan buku nikah kami, tanggal yang tercantum bukanlah tanggal 25 Juni 2018, melainkan 9 Juli 2018. Kami menyepakati hal tersebut, karena memang sudah begitu aturan yang ada.

Segala gundah, khawatir dan takut perlahan sirna. Berganti haru dan bahagia ketika suamiku berhasil melakukan ijab kabul dengan lancar pada pukul 9 di hari Senin, 25 Juni 2018. Kami sah menjadi pasangan suami istri. Allah membantu kami, melancarkan segala persiapan dan proses kami menuju gerbang pernikahan.

Begitulah debar jantung yang aku rasakan ketika mempersiapkan pernikahan yang hanya 13 hari. Ketika aku mulai mengkhawatirkan banyak hal, Allah memberikan bantuan-Nya.

(vem/nda)
What's On Fimela