Menikahi Pria yang Punya 8 Anak, Aku Kehilangan Senyum Ayahku

Fimela diperbarui 28 Apr 2018, 13:00 WIB

Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***

Menjadi sarjana wanita di keluargaku bukanlah hal yang mengagumkan atau hal yang diidam-idamkan bahkan ini adalah hal yang sering dihindari. Bagi mereka, wanita cukup ada di rumah yang nantinya mengurus suami dan anak. Memang ilmu perkuliahan tak akan kupakai untuk mendidik anak-anakku atau menjadi resep andalan untuk masakan favorit suamiku, tapi aku yakin dengan menjadi sarjana wanita mampu membuka pikiranku dan mengambil keputusan dengan tepat.

Orangtuaku tidak pernah berkuliah, bulatnya tekadku untuk berkuliah membuat mereka merestuiku. Fakultas Pertanian di salah satu universitas negeri di kota Malang menerimaku dengan segala impian yang ada dalam benakku. Selama kuliah kusambi dengan berjualan apapun yang bisa kujual mulai dari bros bikinan sendiri, jahitan baju, hingga tas yang kubeli dan kujual lagi ke teman-teman kampus untuk membiayai kuliahku. Salah satu mimpiku adalah memiliki jenjang karier sempurna di bidang pertanian. Aku yang juga aktif di salah satu organisasi kota terpikat dengan seorang lelaki paruh baya dan memutuskan untuk menikah dengannya sementara kuliah belum selesai.



Keputusan menikah menjadi keputusan terbesar dalam hidupku. Keputusan yang membuat ayahku tak lagi tersenyum saat melihatku, ibuku termenung antara lega dan bingung serta mimpiku yang entah terwujud atau tidak. Lelaki paruh baya dengan 8 orang anak, tentu bukan sosok lelaki yang bisa dengan mudah diterima keluargaku.

Aku menikah dengan sangat sederhana tanpa kehadiran ayah, beliau hanya menitipkan sepucuk surat restu pada ibuku. Ayahku adalah orang yang tegas, disiplin dan berpikiran panjang beliau tak akan tega jika aku ‘diserang’ kedelapan anak calon suamiku. Kuat alasan ayah untuk tidak menerima suamiku, kuat pula alasanku untuk tetap menikah dengannya. Keberanian ini membawa mimpiku ke jalan yang berbeda.



Setelah menikah, aku masih bisa melanjutkan kuliah namun sempat tertunda untuk melahirkan. Aku dan suamiku dikaruniai tiga anak yang memberi kami semangat untuk bekerjasama membangun usaha buku. Kami keliling ke sekolah, pesantren, pemerintahan untuk menawarkan buku yang tidak biasa. Buku yang kami tawarkan merupakan buku premium seperti ensiklopedia dan tafsir Al-Quran.

Memang ini bukan seperti pekerjaan yang aku mimpikan dan aku bahagia menjalaninya. Hubunganku dengan anak suamiku tidak terlalu bagus, karna umurku hampir sama dengan anak ke-6. Aku selalu iba melihat anak-anakku saat kumpul keluarga, mereka terlihat tidak ditanggapi oleh saudara yang lain. Orangtuaku? Ibuku sering mengunjungiku atau aku yang mengunjungi beliau ketika ayah tak di rumah. Momen hari raya adalah satu satunya momen pendekatan ketiga anakku dengan kakeknya.



Usia suamiku semakin hari semakin senja, tak sanggup lagi banyak bekerja untuk kebutuhan keluarga kami. Perkembangan dunia buku sudah tak secerah dahulu, sedangkan dapur harus tetap mengepul. Dengan segala pemikiran dan kemampuan yang kumiliki aku banting setir dan memulai berjualan batik partai politik. Ya, saat itu belum ada batik dengan motif logo partai politik. Dimulai dari menentukan motif, partai apa yang akan kugunakan sebagai batu loncatan, sampai kujual tanah untuk memodali usaha ini.

Bergerak perlahan lahan hingga aku mampu kenal dengan berbagai tingkat pejabat di pulau Jawa dan beberapa daerah lain. Daerah terpencil hingga kota besar sudah kujamah, kader partai kecil hingga partai pemenang pemilu sudah kujumpai, langkah demi langkah kutempuh untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami. Aku bangga memiliki sifat ayahku yang tegas dan disiplin, ini membantuku menyelesaikan semua pekerjaan istimewa ini.



Bulan Juni tahun 2015 adalah bulan yang membuatku sedih sekaligus bahagia. Malam itu badan suamiku tiba-tiba tak bergerak, rumah sakit terdekat adalah pertolongan pertamanya. Setelah satu minggu dirawat di ruang ICU, suamiku dirawat di ruang biasa selama tiga minggu. Tepat satu bulan dirawat di rumah sakit, kami semua harus ikhlas mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Untuk pertama kalinya ‘kesebelasan’ kami berkumpul saling bertukar pikiran memikirkan seseorang yang kami cintai.

Selamat jalan suamiku, berkatmu aku melompat lebih tinggi dari yang kubayangkan. Aku akan melompat dan terus melompat mewujudkan mimpi kita.




(vem/nda)
What's On Fimela