Menikmati Sensasi Unik Cokelat Ransiki dari Papua

Meita Fajriana diperbarui 23 Agu 2019, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Papua memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Bukan hanya gas, emas, hingga alam, Papua juga memiliki cokelat dengan cita rasa unik serta nikmat. Cokelat Ransiki asal Papua Barat memiliki rasa gurih dan creamy tanpa perlu ditambahkan susu. Hal ini tentu membuatnya bisa bersaing dengan cokelat lainnya di tanah air bahkan hingga internasional.

Melihat hal ini, brand Pipiltin Cocoa resmi meluncurkan koleksi terbaru dari edisi cokelat asli Indonesia, Ransiki 72%. Peluncuran cokelat ini merupakan angin segar bagi industri cokelat tanah air dalam upayanya mendukung produk asli Indonesia yang peduli kelestarian alam Indonesia dan kesejahteraan petani.

Kehadiran cokelat Ransiki 72% di pasaran Indonesia merupakan wujud kolaborasi nyata dari kemitraan Pemerintah Provinsi Papua Barat, Pemerintah Kabupaten Manokwari Selatan, Pipiltin Cocoa, Koperasi Petani Cokran “Eiber Suth” dan Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YIDH).

Kolaborasi ini bertujuan melindungi hutan, lahan gambut dan ekosistem kunci di Papua Barat. Tak hanya itu, hal ini sekaligus untuk memastikan pengembangan ekonomi berbasis komoditas, yang fokus pada kesejahteraan rakyat Papua dan dikelola secara berkelanjutan secara luas. Cokelat Ransiki 72% berasal dari perkebunan seluas 1.600 hektar yang dikelola oleh Koperasi Petani Cokran “Eiber Suth” di Distrik Ransiki, Manokwari Selatan, Papua Barat.

“Cokelat Ransiki menyampaikan cerita unik kekayaan alam Indonesia, khususnya alam Papua Barat dengan keanekaragaman hayatinya. Gambar burung Vogelkop Superb Bird of Paradise pada bungkus cokelat ini menjadi kunci pesan bahwa kegiatan ekonomi dapat berjalan seimbang dengan upaya konservasi dan peningkatan kesejahteraan petani,” kata Triawan Munaf Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia di Jakarta, Kamis (22/8/2019).

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Rasa khas cokelat Ransiki

Ransiki cokelat asli Papua. (Foto: Dok. Pipiltin Cocoa)

Sesuai dengan rencana pemerintah daerah, Distrik Ransiki akan dikembangkan sebagai pusat pengembangan kakao berkelanjutan yang dikelola menggunakan prinsip-prinsip ekonomi hijau. Harapan ke depannya pengembangan kakao ini dapat menciptakan pendapatan ekonomi alternatif bagi masyarakat lokal, sembari melindungi kawasan berfungsi lindung.

“Papua Barat dengan kekayaan keanekaragaman hayati dan budayanya adalah surga kecil yang jatuh ke bumi, dan ini bisa dirasakan dalam cita rasa khas cokelat dari surga Ransiki 72%," kata Mohamad Lakotani Wakil Gubernur Papua Barat.

Kebijakan pembangunan daerah yang mengutamakan pelestarian sumberdaya alam dan budaya. Komitmen untuk mempertahankan dan melindungi minimal 70% hutan, 50% laut, serta terumbu karangnya menjadikan Papua Barat sebagai Provinsi Konservasi Pertama di dunia.

 

3 dari 3 halaman

Produksi cokelat yang juga fokus pada kesejahteraan petani

Ransiki cokelat asli Papua. (Foto: Dok. Pipiltin Cocoa)

Sejak awal Pipiltin Cocoa percaya, sebelum melakukan penetrasi pasar dengan cokelat unik dari tiap daerah di Indonesia, Pipiltin Cocoa harus mengawali usahanya dengan nilai inklusif dan berkelanjutan. Perlindungan alam dan kesejahteraan petani juga menjadi fokus dari Pipiltin dalam mengembangkan produk cokelatnya.

“Tanpa alam dan komunitas penghasil yang selaras, tidak akan ada cokelat ataupun produk alam lain yang akan berkelanjutan produksinya. Definisi usaha berkelanjutan bagi kami adalah usaha yang tidak melemahkan potensi masa mendatang, baik secara sosial, ekonomidan lingkungan,” jelas Tissa Aunilla, pendiri sekaligus pemilik Pipiltin Cocoa.

Ransiki 72% bisa kamu nikmati dan dapatkan di Pipiltin Cocoa Grand Indonesia, Pipiltin Cocoa Sarinah, Foodhall Senayan City, Kem Chicks Pacific Place, dan Tokopedia.

#GrowFearless with Fimela