Rebutan Kursi, Kenapa Ibu Hamil Harus Duduk di Commuter Line?

Karla Farhana diperbarui 12 Sep 2019, 08:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Tempat Duduk Prioritas (TDP) di Cummuter Line memang kerap menjadi rebutan. Jumlahnya yang tidak sebanding dengan penumpang lanjut usia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta ibu membawa anak, memunculkan aturan tidak tertulis di dalam KRL; Siapa cepat, dia dapat.  

Penumpang yang bukan prioritas pun juga menuntut hak mereka untuk mendapatkan tempat duduk. Alasannya, jarak tujuan sangat jauh. Atau, terlalu lelah usai bekerja, hingga mengantuk. Kursi non prioritas  yang penuh pun jadi ikut diperebutkan.  Tidak jarang penumang lain duduk dan bahkan tidur di bangku prioritas. 

Korbannya, tentu saja penumpang yang berhak atas kursi tersbut. Di antara seluruh penumpang prioritas, ibu hamil menjadi sorotan. Tidak jarang, ibu hamil harus mencari tempat duduk kosong, atau orang yang berbaik hati mau memberikan tempat duduknya, dari gerbong ke gerbong. 

Belum lagi kasus ibu hamil dengan usia kandungan pertama tidak dipercaya penumpang lain. Karena perutnya belum membesar, mereka dianggap pura-pura untuk mendapatkan tempat duduk. Meskipun pernah ada beberapa kasus seperti ini, ibu hamil sepertinya menjadi salah satu penumpang prioritas yang paling sulit mendapat tempat duduk. Terlepas peliknya masalah rebutan kursi dan kapasitas bangku yang terlalu sedikit untuk para penumpang yang membeludak di jam-jam sibuk, kenapa ibu hamil harus mendapatkan tempat duduk di Commuter Line? 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Risiko yang Cukup Besar

Pin Ibu Hamil bagi penumpang KRL | instagram.com/commuterline

Sejak awal, ibu hamil masuk ke dalam daftar orang-orang yang berhak duduk di bangku prioritas. Bahkan, kini ibu hamil yang baru menaiki kereta penuh pun akan dicarikan tempat duduk oleh petugas dan penumpang KRL lainnya. Meski usia kandungan masih trimester pertama, kenapa ibu hamil tetap harus diberikan tempat duduk? 

Menurut Dr. dr Agus Supriyadi SpOG (K) M.Kes, risiko besar ternyata mengancam ibu hamil yang menempuh perjalanan jauh. Menurutnya, jika usia kandungan lebih dari 5 bulan, berdiri terlalu lama menimbulkan kelelahan. 

"Bila kehamilan cukup besar, lebih dari 5 bulan, kadang-kadang perjalanan jauh dengan berdiri menimbulkan kelelahan dengan beban kehamilannya, sehingga menimbulkan kontraksi atau kram perut yang dapat memicu persalinan atau lahir prematur," jelasnya, pada saat dihubungi tim Fimela.com. 

Selain itu, lanjutnya, kehamilan muda pun tetap memiliki risiko besar. Kelelahan akibat berdiri terlalu lama membuat ibu hamil dengan usia kandungan trimester pertama dapat mengalami keguguran. 

"Pada kehamilan muda, bila si ibu tipe rahimnya tidak kuat, dan timbul kontraksi, dapat memicu keluarnya flek (darah). (Hal ini bisa) menimbulkan ancaman keguguran," tandasnya. 

#Growfearless with FIMELA