GarASI Kita, Komunitas Ibu Menyusui yang Saling Mengasihi

Febriyani Frisca diperbarui 26 Sep 2019, 16:07 WIB

Fimela.com, Jakarta Menyusui adalah salah satu perjalanan mengesankan bagi setiap ibu. Banyak hal yang harus dilewati untuk terus memberi asupan ASI pada anak hingga usia dua tahun. Tak jarang, proses menyusui membuat mood atau suasana hati seorang ibu menjadi tidak stabil, sehingga butuh sokongan semangat dari orang-orang sekitarnya. Baik itu teman, sahabat, keluarga, terlebih pasangan.

Namun, terkadang dukungan dari mereka saja tidak cukup. Dibutuhkan orang-orang dari latar belakang yang sama untuk mendapat kedekatan batin yang kuat. Komunitas, misalnya. Ya, tak bisa dimungkiri, komunitas berperan penting untuk support system. Seperti GarASI Kita, misalnya.

Didirikan oleh Annisa Shabrina, GarASI Kita hadir sebagai ruang bagi para ibu menyusui di daerah Tangerang Selatan untuk saling berbagi, mendukung, dan mengasihi. Kepada Fimela.com, Annisa menceritakan awal mula terbentuknya GarASI Kita.

"Awalnya komunitas ini dibentuk dari milis grup ASI For Baby Tangerang Selatan (AFB TangSel). Mulai dari beberapa Ibu yang sedang menyusui anaknya dengan domisili di sekitar wilayah Tangerang Selatan membentuk grup kecil kemudian lanjut ke BlackBerry Messanger grup hingga akhirnya pada tahun 2012 komunitas ini resmi didirikan pada 17 November 2012," kenang Annisa.

Tidak hanya sebagai komunitas yang mewadahi orang-orang dari latar belakang yang sama. Bagi Annisa, GarASI Kita adalah ruang tumbuhnya sebagai ibu. "Bagi saya pribadi GarASI Kita adalah "ruang" yang menemani saya tumbuh sebagai seorang ibu. Saya mengenal GarASI Kita semenjak menyusui anak kedua saya, Anvaya. Saya yang menjadi warga pendatang di Tangerang Selatan membutuhkan tempat untuk berbagi cerita terutama mengenai menyusui anak kedua dengan kondisi tidak ada satu bantuan seperti pengasuh, keluarga hanya pasangan," jelas ibu dua orang anak ini.

Annisa Sabhrina, inisiator GarASI Kita. (Sumber foto: (Sumber foto: dok. pribadi/GarASI Kita)

"Di komunitas ini saya mendapatkan ruang untuk berbagi cerita mengenai suka duka menyusui, menyapih anak hingga kini pada fase yang sudah tidak menyusui kami berkembang dan tumbuh bersama dengan para anggota. Selain itu karena lingkup wilayah yang cukup jelas membuat kami menjadi lebih dekat dan kenal satu sama lain, sehingga hal ini yang membedakan dengan komunitas lainnya yakni rasa kekeluargaan," imbuh Annisa.

Tidak hanya menyusui, GarASI juga memberi edukasi para anggota dalam banyak hal yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak dan keluarga. "Kami memberikan akses lintas ilmu kepada anggota dalam kASIh ibu atau informasi yang tayang dalam media sosial komunitas. Dari parenting, kesehatan anak dan ibu, penanganan luka, entrepreneur, digital parenting, gadget dan masih banyak lain, semua kami lakukan agar setiap anggota dapat belajar lebih banyak hal baru lagi selain menyusui," kata Annisa.

Untuk memperkuat support system antar anggota, GarASI Kita memiliki sejumlah kegiatan, baik online maupun offline. "Kegiatan rutin kami bagi menjadi offline dan online. Untuk kategori offline yang rutin dilakukan adalah gathering Anniversary setiap tahunnya, kemudian kelas menyusui dan juga dalam 2 tahun terakhir kami turut berpartisipasi mengadakan Pekan Menyusui Sedunia," ujar perempuan yang berprofesi sebagai dokter gigi ini.

"Untuk online, kami memiliki wadah berupa WhatsApp grup dan menunjuk beberapa anggota menjadi pengurus komunitas dan membuat beberapa program seperti kASIh Ibu, yaitu proram mendatangkan narasumber yang berbeda untuk berbagi cerita di dalam grup, memberikan dukungan kepada anggota yang baru melahirkan agar dapat menyusui di awal hari menjadi ibu," imbuhnya.

GarASI Kita. (Sumber foto: dok. pribadi/GarASI Kita)

"Kemudian yang baru kami lakukan adalah mengajak kontributor lintas bidang seperti dokter anak, dokter umum, konselor, dokter gigi, psikolog, dan lain-lain yang mau memberikan informasi baik secara artikel yang tayang di sosial media kami, atau memberikan bantuan kepada ibu yang membutuhkan dukungan saat menyusui terutama bantuan konselor laktasi. Semua kontributor yang ada saat ini merupakan orang yang berdomisili di Tangerang Selatanl untuk memudahkan pemberian informasi," Annisa melengkapi.

Untuk bergabung dengan GarASI Kita, tidak ada syarat khusus. Siapa saja yang mau bergabung dipersilahkan mendaftar. "Tidak ada syarat khusus kami sangat terbuka untuk siapa saja yang mau bergabung terutama para ibu menyusui atau ibu hamil. Namun untuk masuk sebagai anggota komunitas, kami menerapkan sistem pendaftaran untuk screening tujuan calon anggota masuk ke dalam komunitas," ujar Annisa.

 

2 dari 2 halaman

Menjadi Support System Baik di Dalam Maupun Luar Komunitas

GarASI Kita dalam sebuah project talkshow mereka. (Sumber foto: dok. pribadi/GarASI Kita)

Berjalan selama 7 tahun, dibutuhkan komitmen yang tinggi untuk membesarkan dan mempertahankan eksistensi komunitas ini. "Salah satu pekerjaan rumah GarASI Kita adalah mempertahankan teman-teman yang sudah terlebih dahulu hadir dan telah melewati fase menyusui namun masih ingin berada di dalam grup cukup menjadi tantangan sendiri," jelas Annisa.

"Tantangan ini kami coba siasati dengan melakukan berbagai "gimmick" seperti jadwal kASIH Ibu, kemudian pembahasan topik di grup dan media sosial yang tidak hanya mengenai menyusui dan ASI, tapi juga masalah kesehatan ibu dan anak, tumbuh kembang anak, parenting, sekolah anak dan beragam topik lainnya sehingga "gap" antara ibu yang baru menyusui dengan yang sudah melalui fase tersebut dapat berjalan dengan baik," tambahnya.

Di tahun ini, GarASI Kita memiliki fokus pada peran ayah dan ibu serta komunitas dalam mewujudkan keberhasilan ibu dalam fase menyusui. "Fokus terbesar kami saat ini adalah bagaimana peran serta ayah, ibu, dan komunitas dalam mewujudkan keberhasilan menyusui ASI, baik dari usia 2 tahun hingga tumbuh kembang anak-anak saat ini," kata dokter yang juga seorang blogger ini.

GarASI Kita. (Sumber foto: dok. pribadi/GarASI Kita)

"Karena komunitas ini berawal dari fase ASI hingga kini banyak yang sudah memasuki fase sekolah formal, maka topik yang sering timbul di permukaan adalah bagaimana pertumbuhan anak-anak bisa sesuai dengan usianya. Selain itu bagaimana sesama ibu menyusui baik di dalam maupun di luar komunitas mampu memberikan dukungan tanpa adanya labeling atau penghakiman yang bisa menurunkan semangat menyusui dan memicu terjadinya gangguan kesehatan mental," imbuhnya.

Di akhir pembicaraan, Annisa berharap, agar komunitas ini terus eksis dan menjadi support system hingga ke luar komunitas. A: Harapan saya adalah komunitas ini terus ada meskipun di beberapa tahun ke depan banyak dari anggota yang sudah 'khatam' dari menyusui namun masih tetap bertahan menjadi bagian dari komunitas. Selain itu informasi mengenai dukungan terhadap ibu menyusui baik dari pasangan, sesama ibu menyusui tidak hanya terjadi di dalam grup saja namun para anggota ini diharapkan menjadi perpanjang tangan informasi yang benar kepada masyarakat di luar," tandas Annisa.