Sejarah No Bra Day Sebagai Gerakan Bangun Kesadaran Kanker Payudara

Vinsensia Dianawanti diperbarui 14 Okt 2019, 15:12 WIB

ringkasan

  • Gerakan No Bra Day menjadi salah satu gerakan yang viral di media sosial
  • Gerakan ini menjadi sebuah bentuk dukungan untuk para penderita kanker payudara

Fimela.com, Jakarta Bagi perempuan, bra bukan hanya pakaian dalam. Melainkan juga bagian dari perempuan itu sendiri. Hari ini (13/10/2019) diperingati sebagai No Bra Day atau Hari Tanpa Mengenakan Bra. Mengapa tidak mengenakan bra saja menjadi sebuah perayaan bagi perempuan?

Melansir dari The Sun pada Senin (14/10/2019), No Bra Day menjadi sebuah gerakan yang dimulai pada 2011. Beramai-ramai perempuan melepas bra mereka di hari tersebut dan melakukan pawai di beberapa negara. Kegiatan ini pun viral di media sosial dengan hashtag #NoBraDay.

Para perempuan yang diimbau untuk tidak menggunakan bra selama satu hari penuh ini menjadi sebuah bentuk dukungan kepada para penderita kanker payudara. Pencetus dari No Bra Day disebut-sebut dalah dr. Mitchell Brown, seorang ahli bedah asal Toronto, Kanada. Namun ia pun juga disebut merupakan pencetus Bra Day. Sehingga tidak pernah ada kejelasan siapa yang menjadi pencetus No Bra Day ini.

Tujuannya adalah untuk membangun kesadaran serta mendorong perempuan untuk lebih peduli terhadap pemeriksanaan diri dan memastikan bahwa mereka memahami tanda-tanda dari kanker payudara.

 

 
2 dari 3 halaman

Sejarah No Bra Day

Ilustrasi bra. Sumber foto: unsplash.com/Vinicius Amano.

Perempuan yang masih enggan melepas bra-nya di No Bra Day tetap bisa mengambil bagian dengan mengenakan sesuatu yang berwarna ungu di hari tersebut.

Perempuan sendiri terus didorong untuk mendapatkan skrining mammogram pada 13 Oktober. Sebagai bagian untuk membantu mendeteksi kanker payudara. Selain itu, kamu juga bisa memberikan dukungan dengan menyumbang ke badan amal yang fokus pada kanker payudara.

3 dari 3 halaman

Simak video berikut ini

#GrowFearless with Fimela