Alasan Mengapa Kamu Masih Mudah Stres saat Karantina Berakhir dan Cara Mengatasinya

Annissa Wulan diperbarui 17 Jun 2020, 14:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Banyak negara telah mulai membuka kembali akses masyarakatnya untuk beraktivitas, masa karantina telah berakhir. Beberapa orang merasa senang dengan hal ini, karena mereka bisa memulai kehidupan mereka kembali, namun tidak sedikit yang masih merasa mudah cemas dan stres.

Ya, perasaan cemas dan stres ini sebenarnya tidak salah, melihat perkembangan kasus positif yang masih terus meningkat dari hari ke hari. Menurut data, ada 30% orang di seluruh dunia yang masih merasa cemas tentang kondisi saat ini, walaupun masa karantina telah berakhir.

Kita telah melewati waktu beberapa bulan terakhir tanpa bertemu banyak orang sambil terus memperbaharui informasi mengenai kondisi terkini, sehingga ketika tiba-tiba masa-masa tersebut berakhir dan kita dihadapkan pada kondisi yang semakin tidak menentu, kecemasan adalah sesuatu yang wajar. Dilansir dari huffpost.com, Sabtu (13/6/2020), berikut ini adalah beberapa alasan mengapa kamu masih mudah merasa cemas dan stres saat karantina berakhir dan cara mengatasinya.

 

 

2 dari 3 halaman

1. Ketahuilah bahwa rasa cemas dengan kondisi saat ini adalah hal yang wajar

ilustrasi perempuan bekerja/copyright By TORWAISTUDIO (Shutterstock)

Perlu beberapa penyesuaian untuk kembali ke kehidupan nyata, karena otak kita tidak lagi terbiasa memproses begitu banyak interaksi sosial. Cara mengatasinya, coba tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa kamu kendalikan di masa seperti ini.

Fokuslah pada hal-hal yang bisa kamu kendalikan, seperti kenakan face shield saat kamu harus berada di tempat umum dan menjaga daya tahan tubuh ketika sudah harus beraktivitas seperti biasa saat ini. Menggeser pola pikir tersebut dapat membantu mental menjadi lebih baik.

2. Mulai perlahan

Tidak perlu terburu-buru melakukan segala hal, kamu masih bisa menghindari kerumunan besar dan mengatakan tidak jika diundang menghadiri sebuah acara, tidak masalah. Tujuannya adalah membangun toleransi emosional secara perlahan, karena risiko yang kamu hadapi nyata dan tidak bisa diabaikan.

3. Melakukan latihan berpikir yang sederhana

Pertama, kenali terlebih dahulu apa yang menjadi inti dari rasa cemasmu. Setelah itu, tanyakan pada diri sendiri bagaimana perasaan cemas ini menahanmu melakukan aktivitas sehari-hari.

3 dari 3 halaman

4. Pertimbangkan untuk konseling jika rasa cemas terus meningkat

Kenali Emotional Eating Sebagai Pelarian di Kala Stres (Unsplash.com/Nick Karvounis)

Jika rasa cemas terus meningkat dan stresmu memburuk, ada baiknya segera bicara dengan profesional. Konseling dapat membantu meningkatkan kesehatan mental dalam menanggapi pengalaman seperti ini.

5. Fokuslah pada diri sendiri, bukan orang lain

Prioritaskan bagaimana kamu merawat dirimu sendiri, termasuk olahraga, diet sehat, dan tidur. Lebih sehat untuk memfokuskan diri pada diri sendiri saat ini. Selamat mencoba!

#ChangeMaker