Ternyata Cukup Serius, Kebiasaan Mencabut Rambut Pertanda Sesuatu dari Dalam Diriku

Endah Wijayanti diperbarui 15 Jun 2020, 12:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh: Ni Wayan Rastiti Rianti Dewi

Hai aku Raras, semenjak duduk di bangku kanak-kanak banyak perubahan drastis di dalam hidupku. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, dan orangtuaku mencurahkan seluruh kasih sayangnya dengan baik. Dengan adanya kasih sayang itu aku juga ingin membuktikan diri dengan menyayangi mereka kembali, aku mulai menciptakan berbagai prestasi yang aku raih di bangku kanak-kanak itu.

Bangku kanak-kanak merupakan tempat bermain yang menyenangkan bukan untuk anak-anak seusiaku, tetapi begitulah semua hal yang berhubungan dengan prestasi baik itu akademik dan non akademik seperti seni melukis dan lain-lain aku ikuti dan menjadi juaranya. Singkat cerita hal tersebut menjadi ambisi yang berlarut sampai aku duduk di bangku SMP. Aku tidak terlalu memenuhi ambisiku untuk ada di urutan prestasi pertama, anehnya hatiku hanya memilih untuk ada di posisi setelahnya untuk suatu pembuktian ini posisi kedua atau ketiga dalam prestasi sudah cukup untukku. Tetapi ya cukup menguras pikiran juga.

Di samping memikirkan prestasi yang ada, di bangku SMP aku juga berusaha untuk bersosialisasi dengan teman walaupun tidak banyak. Di tengah bersosialisasi dengan teman, aku melihat salah seorang temanku mencabuti rambutnya. Aku menanyakan mengapa ia melakukannya, dia hanya bilang ini rambut mati, terasa gatal dan aku mencabutnya. Dari kejadian itulah kebiasaan burukku berasal. Aku menirunya, aku meniru awalnya berpikir bahwa rambut gatal dan menandakan di tidak memiliki struktur yang bagus kemungkinan perlu dicabut, untuk menumbuhkan yg baru.

Kebiasaan itu terus aku lakukan sampai aku menapaki dunia kerja dan aku sadar bahwa mahkota rambutku mulai tipis. Bahkan, yang aku tidak sadari justru hal tersebut aku lakukan saat aku merasa cemas atau berpikiran negatif. Awalnya aku ragu untuk mencari lewat situs internet, kebiasaan seperti ini apakah ada, serasa hanya akulah yang mengalaminya. Mulai mencari di situs-situs internet gejala yang aku alami dinamakan trikotilomania. Suatu gangguan mental yang ditandai dengan kebiasaan mencabut rambut. Untungnya kebiasaanku tidak sampai pada tahap parah seperti kebotakan.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Mengatasi Kebiasaan Buruk

Ilustrasi./(sumber: iStockphoto)

Penemuan dari situs tersebut sontak membuatku kaget, ya aku kaget karena itu salah satu jenis kelainan mental. Kecemasan bagiku terjadi karena aku ingin segala sesuatu ada dikendalikan dan harus sesempurna mungkin. Aku mengabaikan masa-masa bermain indahku dengan berkutat pada pemenuhan prestasi yang menyanjung. Mulai memikirkan cara agar kebiasaan ini hilang atau mungkin sekedar berkurang, aku harus mengubahnya sebelum terlambat, niatku dalam hati. Karena mengubahnya dari diri sendiri menurutku usaha yang aku lakukan pertama kali sebelum mengunjungi ahlinya (psikiater) untuk usaha kedua.

Usaha mengubah kebiasaan itu aku lakukan dengan banyak cara di antaranya melihat tutorial workout di internet. Workout bagiku mampu menyita waktuku untuk melakukan cabut rambut itu, di samping itu kegiatan tersebut juga memberikan dampak positif untuk tubuh serta mampu menciptakan kesan tenang pikiranku setelahnya, ya aku juga mengombinasikan workout dengan meditasi setelahnya. Setelah workout kebiasaan lain yang aku lakukan adalah melukis, aku memang tidak pandai dalam hal tersebut, tetapi dampaknya untuk pikiranku juga mulai terasa. Karena ambisiku berarti aku harus berjalan lurus dan tidak menikmati keindahan apapun, dalam melukis aku memilih warnaku, warna yang aku mau, dan kebebasan memilih lekuk yang aku goreskan, menikmati keindahan warna tanpa ada yang mengkritiknya.

Untuk tahap sekarang hal tersebutlah yang aku lakukan. Kebiasaan mencabut rambutku perlahan hilang, dan aku akan melakukan kebiasaan positif yang menenangkan dan menyenangkan seperti itu sampai kebiasaanku hilang. Nah sahabat, satu yang aku ingin bagikan kepada kalian, ambisi yang membuat kenyamanan diri kalian hampir menghilang sederhanakanlah, sebelum hal tersebut menjadi racun yang tidak baik untuk kedepannya. Di dunia ini tidak ada yang sempurna tetapi dengan kamu menjalankannya dengan menyenangkan aku rasa itu sudah sempurna.

#ChangeMaker