6 Pola Asuh Anak Remaja Agar Tidak Menjaga Jaga Jarak dengan Orangtua

Anisha Saktian Putri diperbarui 21 Jul 2020, 14:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Memasuki masa remaja banyak perubahan yang terjadi, tak hanya fisik melainkan psikologis seorang anak. Anak mulai menjaga jaga jarak dengan orang tua, ingim kebebasan denga membangun privasi, serta anak lebih tertutup.

Tentu orang tua pun kebingungan menerapakan pola asuh saat anak beranjak remaja. Namun tenang semua ada solusinya, dilansir dari mayoclinic beberapa hal ini dapat dilakukan untuk mengerti anak yang beranjak dewasa.

1. Menunjukan kasih sayang

Berikan anak perhatian yang positif menjadi keharusan dalam menerapkan pola asuh remaja. Habiskan waktu bersama untuk menunjukkan kepadanya bahwa orang tua peduli. Dengarkan anak ketika dia berbicara, dan hormati perasaannya.

Jika anak tampaknya tidak tertarik pada ikatan, teruslah berusaha. Makan bersama secara teratur mungkin merupakan cara yang baik untuk terhubung. Pada hari-hari ketika orang tua mengalami kesulitan berbicara dengan anak, agar ia pun mengerti. Menjadi dekat satu sama lain dapat menyebabkan dimulainya pembicaraan.

2. Jangan menutut lebih pada anak

Remaja cenderung hidup sesuai harapan orangtua, yang justru membuatnya tertekan. Biarkan anak remaja untuk bereksplorasi dengan keinginan dan tujuan hidup ke depannya. Dengan begitu, anak akan lebih percaya diri. Cukup berikan mereka dorongan dan semangat ketika melakukan apapun.

2 dari 2 halaman

3. Tetapkan aturan dan konsekuensi

Anak remaja/Unsplash Patrick

Disiplin adalah tentang mengajar, bukan menghukum atau mengendalikan anak remaja Anda. Untuk mendorong anak berperilaku baik, diskusikan perilaku apa yang dapat diterima dan tidak dapat diterima di rumah, di sekolah, dan di tempat lain. Buat konsekuensi yang adil dan sesuai untuk perilaku anak. Saat menetapkan konsekuensi:

Hindari ultimatum, anak remaja mungkin menafsirkan ultimatum sebagai tantangan, Jelas dan ringkas daripada memberi tahu anak remaja untuk tidak keluar larut malam, tentukan jam malam tertentu. Jaga agar aturan singkat dan to the point.

Jelaskan keputusan, anak remaja mungkin lebih cenderung untuk mematuhi aturan ketika dia mengerti tujuannya.

Hindari menetapkan aturan yang tidak mungkin diikuti remaja. Saat anak remaja menunjukkan lebih banyak tanggung jawab, beri dia lebih banyak kebebasan. Jika anak remaja menunjukkan penilaian yang buruk, berikan lebih banyak batasan.

4. Prioritaskan aturan

Meskipun penting untuk menegakkan aturan secara konsisten, kadang-kadang dapat membuat pengecualian ketika menyangkut masalah-masalah seperti kebiasaan pekerjaan rumah dan waktu tidur. Aturan yang diprioritaskan akan memberi orangtua dan anak remaja peluang untuk berlatih bernegosiasi dan berkompromi.

Namun, pertimbangkan sebelumnya seberapa jauh orang tau bersedia untuk menekuk. Jangan bernegosiasi ketika datang ke pembatasan yang diberlakukan untuk keselamatan anak remaja, seperti penyalahgunaan zat, aktivitas seksual dan mengemudi sembrono. Pastikan anak remaja Atahu bahwa orang tua tidak akan mentolerir tembakau, alkohol, atau penggunaan narkoba lainnya.

5. Berikan contoh positif

Remaja belajar bagaimana berperilaku dengan memperhatikan orang tua mereka. Tindakan orang tua umumnya berbicara lebih keras daripada kata-kata. Tunjukkan kepada anak remaja cara mengatasi stres dengan cara yang positif dan tangguh. Jadilah model yang baik dan anak remaja kemungkinan akan mengikuti jejak orang tua.

6. Jalin komunikasi dua arah

Menjalin komunikasi dua arah adalah solusi terbaik mengetahui sebagian besar hal tentang anak. Biarkan anak bercerita, orangtua bisa mendengarkan dan memberi solusi dengan tidak menghakimi anak.

 

#Changemaker