Serumah dengan Mertua, Hadapi Drama Suami dengan Adik Perempuannya

Endah Wijayanti diperbarui 22 Jul 2020, 13:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Mia Yusnita

Dulu pada waktu awal menikah aku ikut suami tinggal serumah dengan mertua. Seperti cerita dan curhat menantu yang tinggal bersama mertua yang sering dibagi beberapa netizen ternyata salah satu cerita itu mampir juga ke kehidupanku.

Suamiku punya adik perempuan yang sudah dewasa selisih sepuluh tahun dari dia. Aku sebagai anggota baru dari keluarga ini yang belum pernah melihat mereka sehari-hari sebelumnya merasa aneh saja dengan tingkah mereka. Kadang rukun, kadang demen berantem, sontak aku jadi stres. Semua itu terkadang mereka ciptakan sendiri, dan kadang karena spontanitas. Beberapa kali sering terpancing emosi juga, ini kenapa sih demen banget ngaduk-ngaduk suasana. Suasana tenang jadi rusuh seketika karena mereka.

Apa salahku, apa salah mereka? Pertanyaan di kepala ini. Melihat lagi karakter mereka satu per satu. Meminta pandangan orang sekitar seperti saudara yang tinggal serumah. Menuliskan hasil pengamatan sambil mempelajari soal hubungan persaudaraan yang rumit ini. Tapi masalah ini terasa makin berat di otakku karena aku tidak bisa juga menemukan inti dari pertanyaanku, apa yang membuat mereka sering terlibat bertengkar fisik dan verbal berdua? Sedangkan pengamatan orang luar berkata mereka secara individual bisa bermain dengan orang lain dengan rukun dan damai.

Tidak berhenti sampai di sini, ketika anakku berumur 2-3 tahunan, adik suamiku mulai membuat kegaduhan lagi. Kesengajaan memang mereka ciptakan untuk membuat emosi jiwa kala itu. Ada saja yang sengaja dilakukan dari membuat anak menangis, membangunkan anak dari tidur sampai akhirnya nangis, menciumnya sampai nangis, sengaja merebut mainan, sengaja sembunyikan mainan dan fokusnya anakku harus sampai nangis. Kalau aku dan mama mertua belum teriak teriak meleraikan belum puas. Suasana tenang mendadak penuh teriakan dan tangisan. Heboh pokoknya. Kadang pusing juga ini anak kerjaannya bikin rese deh.

Di mana letak peranku yang membuat mereka seakan harus mengisi hari dengan kerusuhan? Aku merasa frustasi. Makin sering bingung karena terlalu sibuk mencari jawaban. Kebahagiaan sebagai pengantin baru dan mama baru mulai terusik dan kena imbasnya. Hingga di penghujung keputusasaanku, salah satu saudara yang tahu sedikit banyak tentang mereka berkata, "Bersaudara emang gitu. Kamu sih anak tunggal, nggak pernah ngerasain punya saudara. Aku sama adekku juga sering berantem dulu. Dia sering mukul aku. Hal yang sepele juga bisa jadi bahan berantem. Tapi lama-lama nggak kok." Aha! Ketemu ujungnya! Aku merasa susah memecahkannya karena aku tidak pernah tahu rasanya punya saudara kandung.

Jadilah selama ini aku cuma membayangkan dan berasumsi tanpa pernah terlibat langsung. Pantas saja masalahnya aku rasa seperti tidak terpegang. Semua saudara pasti bertengkar. Bahkan, seorang pakar menganggap anak yang tak pernah bertengkar justru tidak normal! Nah, karena sebuah kebutuhan, pengalaman konflik terus berulang. Meski sebagian orangtua tidak menyukainya dan meski orangtua ‘ratusan kali’ mengatakan ‘jangan berantem terus, berantem itu tidak baik!’ Tidak ada satu manusia pun setelah dewasa yang bebas dari konflik bukan? Karena itu, konflik pada manusia seperti sengaja diciptakan Tuhan agar anak-anak kita dapat belajar bagaimana mereka kelak mengelola konflik di masa depan.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Mulai Memahami dan Berdamai dengan Keadaan

ilustrasi./Photo by Yoel Peterson on Unsplash

Bahkan adik-kakak 70 persen kali lebih sering bertengkar ketimbang dengan teman sebayanya masing-masing. Karena, mereka tahu, bahwa adik atau kakaknya akan selalu ada, tidak akan pergi. Menurut studi, adik-kakak yang bermain bersama, meski saling mengejek, memiliki hubungan yang lebih dekat ketimbang adik-kakak yang bermain terpisah. Istilahnya adik-kakak lebih baik berisik karena bertengkar ketimbang damai tapi berpisah. Berpisah dalam artian saling tak mau menyapa dan bergaul karena satu membenci yang lain.

Akhirnya setelah mengetahui penyebab dan pentingnya anak untuk dikenalkan dengan konflik. Aku sekarang lebih menikmati teriakan mereka semua ya suami, adiknya dan anakku sendiri, rusuhnya mereka beradu argumen, beradu jotosan, beradu pukulan, semakin bisa kunikmati. Yang dulu tak suka tiap denger adek dan suami adu mulut sekarang sudah terbiasa malah sudah bisa kasih umpan balik.

Yang dulunya pernah aku sebelin sekarang aku rindukan. Tapi tetap dalam pantauan, anak tetap diajarkan apa yang harus diperbuat jika lawan mainmu kelewat batas. Biasanya aku suka marah-marah jika anak dikerjai sampai menangis oleh ayahnya sendiri, sekarang aku sudah tidak lagi tapi ya tergantung suasana hati, karena hati dan perasaan kadang memang suka baperan. Jadi begini rasanya punya saudara ternyata seru ya. Ternyata keluarga di sini memang serame dan seseru itu.

Konflik pada anak awalnya adalah baik. Konflik berubah menjadi tidak baik saat orang tua tidak mengelola konflik anak dengan baik. Apalagi jika saat konflik, orang tua yang selalu menyelesaikan masalahnya. Akhirnya, anak tidak belajar apa pun dari pengalaman konflik yang mereka alami. Dan kita harus berhati-hati sebab praktik ketidakadilan sendiri dapat dimulai dari rumah. Sepintas ayah ibu melihat ini sebagai solusi. Tapi sebetulnya secara jangka panjang, efeknya anak jadi sulit menemukan identitas diri.

Jadi inilah kisah beberapa konflik di keluargaku yang bisa kutemukan solusinya. Tak penting seberapa lambat kita paham, asalkan kita tidak pernah berhenti belajar maka kita akan sampai pada tujuan. Kita memang harus banyak belajar mengenali setiap karakter. Lebih banyak bertanya, lebih banyak membaca, lebih banyak memperhatikan, supaya kita bisa melihat setiap konflik dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga bisa menemukan celah yang bisa jadi bahagia kamu bukan derita kamu. Lakukan, evaluasi, improvisasi agar kamu tidak melihat dari satu sudut pandang atas asumsi pribadimu sendiri.

#ChangeMaker